Sang Pangeran

Sang Pangeran
215. Tidak Tahu Caranya


Cyntia segera ke kamar mandi segera membasuh wajahnya berharap mendapatkan kesegaran baik badan atau pikiran.


"Aku bahagia, aku bahagia. Kia berhak bahagia, huuft! Malu- maluin banget sih kalau sampai si pria saraf itu melihatku menangis!" gumam Cyntia lama bermonolog di toilet pesawat.


Setelah selesai membasuh wajah Cyntia langsung membuka pintu tolitet.


"Dheg!"


Seorang pria yang sangat dia kenal berdiri bersedekap di dinding depan toilet. Cyntia berusaha lewat dan bersikap acuh seakan tidak melihat, sayangnya pria itu usil memajukan kakinya.


"Ck!" Cyntia pun melenguh dan berdecak kesal lalu melirik tajam ke Rendra.


"Kamu kenapa sih?" tanya Rendra kemudian.


"Kenapa apanya? Aku yang tanya kamu kenapa sih halangin jalanku begini? Minggir!" jawab Cyntia tetap ketus dan mencoba melewati kaki Rendra.


Kali ini Rendra tidak terima dicueki, entah gatal dan rindu mengerjai Cyntia atau peduli. Yang pasti apa yang dia lihat mengusik hati dan pikiranya. Rendra pun menarik tangan Cyntia, menghentikan jalanya.


"Apa sih?"


"Kenapa kamu menangis?" tanya Rendra antara penasaran dan peduli.


"Sudah kubilang aku nggak nangis!" jawab Cyntia masih tengsin,padahal jelas- jelas Cyntia menangis.


"Haish... watakmu benar-benar muna ya!" ucap Rendra berdecih.


Cyntia pun mentok dan hanya bisa menelan ludahnya.


"Apa urusanmu dan apa pedulimu?" jawab Cyntia kemudian dengan matanua mulai nanar lagi.


Entah kenapa setiap berhadapan dengan Rendra hati Cyntia seperti diaduk aduk. Kesal, benci, sakit tapi terkadang dia juga senang kalau melihat Rendra konyol, kadang kagum juga kalau Rendra lagi waras. Lebih dari itu Cyntia akan sangat senang kalau Rendra peduli meski ending seringnya saling mengejek dan kemudian sakit lagi.


"Kukira kau sahabat Bu Kia dan tulus menyayanginya!" ucap Rendra.


"Lhoh aku emang sayang ke Kia dan sahabatnya, kenapa?"


"Benarkah?" tanyq Rendra mulai dengan tatapan tengilnya.


"Ya benar masa bohong!" jawab Cyntia mulai kesal lagi.


"Kenapa kamu harus iri dan menangis saat sahabatmu menikah. Atau jangan- jangan sayangmu pada Bu Kia lebih dari sahabat?" tanya Rendra mulai ngawur dan pikiranya mulai geser.


"Wua... hoh? Apa kamu bilang? Hahhh... Benar - benar bertemu denganmu selalu membuat darahku naik!"jawab Cyntia kembali dibuat geregetan dengan pemikiran Rendra di luar batas normal.


"Hiiiih!!" ucap Cyntia menghentakan kaki dan bersedekap siap menerkam Rendra sehingga Rendra hanya bisa menelan ludah.


"Apa kau sedang menuduhku lastby?" tanya Cyntia dengan mata membunuhnya


Rendra kemudian plintat plintut mencari kata menjawab pertanyaan Cyntia agar bisa kembali menyerangnya.


"Kalau bukan itu lantas apa namanya? Apa kau naksir Aslan? Sehingga kau menangis sesenggukan?" tanya Rendra lagi masih ingin usil.


"Ngawur kamu ya!"


"Atau kamu iri karena temanmu menikah?"


"Haish!! Sama sekali tidak. Emang kamu bujang lapuk? Gue udah pernah nikah ya. Catet! Kamu paling yang iri!" jawab Cyntia ingin membalas mengatai Rendra.


"Wuah? Aku?"


"Ya! Jadi maling jangan teriak maling!" jawab Cyntia lagi menyudutkan Rendra.


"Aku nggak nangis kok!"


"Terus kalau nangis itu berarti sedih dan ingin nikah. Issshh aku tuh terharu! Ngerti!"


"Mana ada terharu nangisnya berkali- kali!" jawab Rendra lagi.


"Iih bawel banget sih dibilangin!"


"Jujur aja kamu iri ingin nikah kan?" tanya Rendra lagi.


"Nggak ! Kamu tuh yang bujang lapuk. Hisssh!" ucap Cyntia lagi.


"Ehm! Permisi, saya mau lewat!" ucap seseorang menyelematkan Cyntia terbebas dari Rendra. Seorang penumpang lain menghentikan mereka berdebat.


"Maaf!" ucap Cyntia memberikan jalan orang lain masuk ke Toilet. Cyntia kemudian kembali ke tempat duduknya menahan kesal.


"Jangan sampai dia melihatku nangis lagi. Mata! Please jangan nangis!" batin Cyntia.


Rendra kemudian menyusul duduk ke bangkunya. Kikan dan Ipang kemudian terbangun. Rendra dan Cyntia pun kembali memasang mode on bersikap sama- sama menjadi orang waras sampai mereka kembali ke apartemen masing2.


Padahal Rendra sebenarnya sungguh peduli kenapa Cyntia bersedih. Sayangnya dia tidak tahu bagaimana cara menghibur Cyntia.