Sang Pangeran

Sang Pangeran
42. Hujan


Aslan segera keluar dengan senyum puasnya. Meski baru langkah awal tapi rencanya berhasil begitu fikirnya.


Dengan percaya diri Aslan memberikan perintah ke Rendra.


"Gimana Bos?" tanya Rendra harap - harap cemas.


"Lo siap-siap lembur" ucap Aslan mengejek.


"Hemmm" jawab Rendra cemberut.


"Makanya lo jangan remehin gue, ide gue itu brillian" tutur Aslan sombong.


"Hemm yaya" jawab Rendra lagi.


"Huuuft"


Aslan menghembuskan nafas lagi sebagai ekspresi lega dan bahagia. Bayangan wajah Kia yang imut semakin merajai otaknya.


"Pake pelet apa si Bos. Kok Nyonya Kia cepet amat berubahnya?" tanya Rendra.


"Rahasia. Lo sekarang urus masalah polisi!"


"Ini beneran Bos? Nyonya Kia mau ikut Bos?" tanya Rendra setengah mengejek.


"Ya bener, sana lo pergi! Yang lama perginya!" perintah Aslan lagi


"Ya Bos. Meskipun saya harus lembur, tapi selamat ya Bos" tutur Rendra menyemangati Aslan.


Padahal Aslan baru berhasil negosiasi pencabutan tuntutan penalti doang, menurut mereka itu keberhasilan besar. Padahal perjalanan Aslan masih berat.


"Udah sana! Buruan pergi!" usir Aslan lagi.


"Bos nggak ikut?"


"Gue kepret lu? Kan gue udah bilang kalian pergilah yang lama jangan ganggu gue. Ya gue di sinilah!"


"Ya Bos" jawab Rendra.


Aslan kemudian masuk lagi ke dalam rumah Kia. Kia tidak tau kalau Aslan hanya menyuruh Rendra. Kia taunya Aslan ikut pergi.


Kia melepas jilbab dan outernya. Kemudian Kia masuk ke kamar anaknya membelai lembut rambut Ipang. Sudut mata Ipang masih basah. Wajah Ipang yang ketakutan menangis tersedu-sedu masih tampak jelas di mata Kia.


"Maafkan ibu Nak. Ibu sudah membuatmu takut, maafin ibu sudah membentakmu" tutur Kia pelan memegangi tangan Ipang.


"Apa kau sangat ingin bersama ayahmu?" tanya Kia berbicara sendiri.


Hati Kia merasa sangat sakit melihat Ipang menangis. Kia juga merasa ngilu melihat kedekatan Ipang dan Aslan.


Kia bingung bagaimna menjelaskanya, jika seseorang yang sudah dewasa kalau mau bersama harus menikah. Dan untuk menikah itu banyak hal yang harus dipertimbangkan.


Kia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan ke Ipang kalau Aslan sudah memiliki rumah tangga, tidak mungin Kia bisa masuk ke dalamnya.


"Ibu tau kamu sangat ingin punya ayah seperti yang lain, maafin ibu Nak. Maafin ibu, kamu harus menahan sejauh ini"


"Ibu ingin kamu mengerti. Ayahmu bukan orang yang bisa ibu gapai Nak. Ibu nggak mau merusak kebahagiaan orang, ibu nggak mungkin bisa bersama ayahmu"


"Ibu harap suatu saat kamu akan mengerti sayang, kenapa ibu begini"


"Ayahmu sudah punya keluarga sendiri, jangan pergi dari ibu Nak. Cuma kamu yang ibu punya"


Kia kemudian duduk di ranjang Ipang sambil menangis sesenggukan. Sebenarnya Kia tau apa yang Ipang butuhkan. Kia juga merasa bersalah harus melahirkan Ipang dengan keadaan yang berbeda dari yang lain.


Tanpa Kia tau, Aslan berdiri di depan pintu. Aslan melihat dengan jelas setiap butiran air mata Kia yang menetee. Aslan ingin beranjak dari tempatnya dan segera memeluk Kia.


Tapi Aslan membeku. Kakinya seperti kaku, Aslan tau Kia pasti akan menolaknya. Aslan mengepalkan tanganya, merasa dirinya tak berdaya. Betapa jahatnya dia selama ini, membiarkan Kia hamil dan membesarkan Ipang seorang diri.


"Aku harus sudahi sandiwara Paul. Aku harus akhiri drama ini. Tunggu aku Kia, aku akan pastikan kalian bahagia bersamaku" batin Aslan.


Saat Kia mengelap air matanya. Kia melihat Aslan berdiri menatapanya. Kia langsung gelagapan.


"Kau" pekik Kia, membulatkan bola matanya.


Kia panik menyadari dirinya berpenampilan terbuka, apalagi kepergok menangis.


"Kenapa dia berdiri di situ? Ish nyebelin" batin Kia malu.


"Apa kita bisa bicara?" tanya Aslan pelan masuk mendekati Kia.


Rindu Aslan terobati. Aslan bisa melihat rambut panjang dan bergelombang Kia dengan jelas. Kulit bersih Kia tampak segar dan sangat indah untuk dipandang. Dada Kia juga terlihat subur dan sehat, sesosok perempuan sempurna dan ideal untuk dijadikan perhiasan dunia bagi Aslan.


"Kau sudah mengingkari perjanjian kita" ucap Kia kesal dan menarik Aslan keluar kamar Ipang.


Di ruang tamu Kia menghempaskan tangan Aslan. Aslan diam saja melihat semua kemarahan Kia yang menurutnya justru sangat menggemaskan.


"Aku sudah bilang kan? Kau tidak boleh bersikap sesuakamu? Kenapa kau hoby sekali masuk ke rumah orang tanpa permisi" omel Kia dengan suara serak-serak bindeng karena habis menangis.


"Jangan marah-marah terus suaramu habis nanti" jawab Aslan santai membuat Kia semakin marah.


"Ck" Kia hanya menahan geram sendiri.


"Ya aku minta maaf, kan aku kan sudah ijin pada Ipang. Aku mau istirahat di sini. Apa kau lihat kakiku lecet dan sangat perih. Aku juga ingin tidur bersama Ipang" jawab Aslan lagi menunjukan kakinya yang dijepit pintu oleh Kia.


"Seharusnya kau ketok pintu dulu" omel Kia lagi


"Ya aku minta maaf" jawab Aslan.


Lalu Kia masuk mengambil outer dan jilbabnya lagi. Kia merasa sangat canggung bertiga dengan Aslan.


Jika mengusir Aslan sepertinya percuma. Kia hanya akan menyakiti Ipang lagi. Jadi Kia memilih Kia yang menjaga jarak dan pergi menemui Fatimah.


"Kau mau kemana?" tanya Aslan melihat Kia hendak pergi.


"Bukankah kau bilang mau istirahat bersama Ipang? Istirahatlah, aku harus keluar" jawab Kia.


"Kenapa pergi?"


"Aku tidak mau orang berfikiran buruk jika tau kau berada di dalam rumahku" ucap Kia menjelaskan.


"Memang kenapa?"


"Kenapa? Ck. Apa kau lupa kau laki-laki beristri dan aku perempuan dewasa. Adat di sini sangat ketat, aku tidak mau kita digerebek atau di adili" tutur Kia memberitahu.


Hanya dengan Radit bertamu di luar saja Kia sudah banyak digunjing. Apalagi kalau ibu-ibu tetangganya tau ada laki-laki tidur di rumahnya. Kia pasti akan dihabsi dengan makian oleh emak-emak.


"Maksudnya diadili? Dinikahkan?" tanya Aslan justru terkesan tidak peduli.


"Ehm. Bukan" jawab Kia berbohong. Kalau Kia jawab iya bisa besar kepala Aslan.


"Kalau digerebek dinikahkan itu lebih baik" jawab Aslan tersenyum persis seperti tebakn Kia.


"Ishh" Kia hanya mendesis dengan ekspresi kesal.


"Aku hanya bercanda. Aku akan menunggu di luar saja. Jangan pergi! Langit mendung, sepertinya sebentar lagi turun hujan" tutur Aslan pelan menasehati.


Aslan menatap Kia dengan tatapan bersalah. Kali ini wajah ancaman dan galaknya Aslan menghilang. Lebih mirip tatapan sayang ya g memperingati Kia untuk patuh di rumah saja.


Kia kemudian melihat ke langit. Awan hitam memang tampak tebal. Sesekali petir terdengar. Bahkan gerimis mulai datang.


"Aku tidak mau kalau Ipang bangun mencarimu, tapi kamu tidak ada. Sudah jangan pergi. Aku akan istirahat di situ" tutur Aslan lagi mengulangi niat baiknya dan menunjuk ke teras.


Aslan benar-benar terlihat sangat baik dan dewasa.


"Baiklah" jawab Kia mengangguk.


"Sekarang aku tamumu, buatkan aku minum!" tutur Aslan mulai kurang ajar lagi.


"Ya" jawab Kia.


Kemudian Kia masuk ke dalam rumah dan Kia tidak hanya membuatkan minum tapi juga camilan. Karena hujan dan terbawa angin, air sedikit membasahi teras.


Kia merasa kasian jika Aslan menunggu di luar. Akhirnya Kia menyuruh Aslan masuk ke ruang tamu dengan syarat pintunya dibuka.


"Sepertinya airnya sampai ke sini. Masuklah aku sudah buatkan kopi" ucap Kia menunduk.


"Benar aku boleh masuk?" tanya Aslan.


"Iya"


Di hari hujan itu mereka berdua terdiam di ruang tamu. Kia menjadi membeku karena Aslan bersikap dingin. Tidak seperti sebelumnya saat Aslan kurang ajar Kia bisa lancar menjawabnya.


"Silahkan diminum" ucap Kia memerintah.


"Terima kasih" jawab Aslan menyeruput kopi, kali ini kopinya benar-benar enak dan manis.


"Kia" panggil Aslan ragu tidak menggubakan bahasa Nyonya lagim


"Ya" jawab Kia menundukan kepalanya canggung.


"Aku minta maaf, jika aku seorang pria lajang, apa kau mau menikah denganku?" tanya Aslan dengan nada serius.