Sang Pangeran

Sang Pangeran
136. Ups


Part waktu sebelumnya.


"Sayang!" panggil Aslan lembut Kia.


Karena saking bagusnya fasilitas bangku first class itu, dan pertama kalinya. Kia tertidur sangat pulas sampai pesawat landing pun Kia tidak berasa.


Aslan menopang dagunya dengan tangan kirinya. Dia tatap Kia lama-lama dan dalam. Bagi Aslan Kia sangat imut, apalagi saat tidur begini.


Mulut yang biasanya cemberut dan manyun sempurna kini tampak tenang pada posisi seharusnya, terlihat manis. Hanya dari bentuk mulutnya, bisa menjelaskan isi dalam hati Kia yang sesungguhnya penuh dengan kelembutan.


Lalu Aslan menggerakan tanganya, menempelkan telapak tangan kuatnya itu ke sisi pipi Kia. Ibu jarinya mengelus lembut pipi yang tampak kencang dan sehat itu.


"Sayang, bangun! Udah landing!" tutur Aslan mesra.


Kia mengerjapkan matanya. Sesaat Kia agak bingung menatap suaminya itu sangat dekat.


"Abang." ucap Kia.


"Ayuk bangun kita turun!" ucap Aslan lagi.


"Ehm!" Kia berdehem dan salah tingkah.


Kia tersadar dirinya dalam perjalanan. Rasanya masih belum terbiasa saat membuka mata dan tersadar dari tidur orang pertama yang Kia lihat sekarang adalah Aslan.


Kia pun merapihkan jilbabnya dan bangun dari tidurnya.


"Kok cepet sih Bang?" tanya Kia polos. Rasanya Kia baru


Aslan tersenyum dan mengusap kepala Kia gemas.


"Kamu ngantuk banget ya gara-gara semalam?" tanya Aslan tersenyum meledek Kia.


"Ehm!" Kia berdehem malu.


Kia memang sangat lelah dan mengantuk karena begadang semalam. Belum puas tidur dibangunkan Ipang. Ditambah siangnya menangis sesenggukan karena Jeje.


Mereka kemudian turun dari pesawat. Kali ini Aslan memesan taksi seperti layaknya masyarakat biasa, tanpa asisten atau sopir pribadi.


"Ke alamat ini ya Pak!" ucap Aslan memberikan alamat.


Kia diam menjadi istri yang manis dan penurut, tidak protes atau bertanya.


"Kia kangen Ipang Bang!" ucap Kia ke Aslan.


"Kan baru tadi ketemu Sayang!"


"Hemm... iya, tapi kalau bepergian jauh begini biasanya kan Kia sama Ipang Bang!"


"Ya sekarang kan sama Ipang versi dewasa, Sayang!"


"Ish... beda ya! Abang beda sama Ipang!" jawab Kia lagi sambil manyun seperti biasa.


"Emang bedanya apa? Ipang kan ada dari Abang juga, liat aja, dia nanti seperti Abang!"


"Nggak. Kia nggak akan biarin dia kaya Abang!"


"Lah kenapa emang?"


"Ya harus lebih hebat dong!"


"Ya kalau itu iya!"


"Abang tuh menyedihkan! Kia mau Ipang jadi anak bahagia dan tumbuh jadi anak soleh. Nggak nakal kaya Abang!" cibir Kia lagi.


"Abang nakal gimana sih?"


"Tau!"


"Kalau Abang nggak nakal, Abang nggak ketemu kamu!"


"Ish. Tuh jangan bahas masalalu terus!" omel. Kia lagi.


"Yaya. Ya Abang tau. Pangeran ajan tumbuh dengan jalanya sendiri. Abang juga mau Pangeran jadi manusia yang berguna dan lebih baik dari Abang Sayang, tapi meski Abang sama Pangeran beda. Mulai sekarang biasain sih, terima Abang!"


"Emang Kia belum terima Abang?"


"Lah duduknya jauh-jauhan gitu. Sini dong duduk deket ke Abang!" ucap Aslan lagi.


Mereka kan pakai taksi, sama-sama duduk di belakang, tapi Kia mepet ke kaca menjauhi Aslan. Mau Aslan kan kalau duduk di belakang ya santui, bermesraan.


"Malu Bang! Ini taksi!"


"Hemm... " jawab Kia berdehem. Kia pun mengikuti mau Aslan duduk di dekat Aslan.


"Kalau mau bersandar, nggak usah ragu! Nyandar aja!" bisik Aslan.


Kia tidak menjawab, tapi justru manyun dan mencubit paha Aslan.


"Auh!" Aslan mengusap pahanya kesakitan.


"Diam makanya!" ucap Kia.


"Hemm!"


Kia melihat keluar jendela dan menyadari mobil mereka bukan berjalan ke arah rumahnya, bukan juga mengarah ke kota. Hotel kan ada di kota, terus mau kemana Aslan.


"Kita mau kemana sih Bang?" tanya Kia.


"Nanti kamu juga tau!" jawab Aslan


"Emag Abang tau daerah sini?" tanya Kia heran. Ini kan provinsi tempatnya kabur, Aslan orang asing. Kenapa malah Aslan yang mengatur.


"Tau lah?"


"Bang. Jangan bercanda deh. Ini kita mau kemana?"


"Abang nggak bercanda, udah ikut aja!"


"Awas lho kalau dateng ke tempat yang nggak bener!" ancam Kia merasa aneh kenapa nggak ke rumah Kia aja.


"Astaga!" jawab Aslan merasa dilecehlan.


"Astaghfirulloh!" sahut Kia mengajari suaminya ngomong yang bener.


"Ya Astaghfirulloh, Sayang. Jangankan di sini yang masih di negara kita. Mau berkunjung ke negara mana yang kamu pengen Abang bisa tunjukin tempat yang bagus buat kamu!" jawab Aslan lagi.


"Yaya!" Kia hanya mengangguk


Mereka kemudian diam sesaat. Kia mengambil ponselnya dan iseng membuka pesan masuk. Sementara Aslan menikmati perjalanan sambil merangkul bahu Kia.


Setelah beberapa puluh menit mereka memasuki kawasan pegunungan. Samping kanan kiri mereka perkebunan sayur kol dan kentang yang di tanam teras siring.


Hari itu mereka tiba sore, jadi suasananya sendu dan sedikit berkabut. Kia tampak menikmati pemandangan Itu. Kia juga jadi heran dimana sebenarnya dia sekarang.


"Abang pernah ke sini sebelumnya?" tanya Kia.


"Sering!"


"Oh iya?" tanya Kia tidak menyangka. Tapi memang tempat itu beda kabupaten dengan rumah Kia.


"Ooh!" jawab Kia mengangguk


Tidak lama mereka sampai di sebuah rumah Asri di tepi pegunungan itu. Rumahnya besar tapi hanya lantai satu. Dibanding dengan ruah sekitar situ, itu rumah paling bagus apalagu letaknya di tengah perbukitan.


"Udah sampai!" jawab Aslan


"Ini rumah siapa Bang?" tanya Kia lagi.


"Nanti tau sendiri!" jawab Aslan.


Aslan membuka pintu keluar dan membayar tagihan taksi. Sementara Kia merapihkan penampilannya dulu sebelum keluar dan bertemu dengan entah siapa yang ada di dalam rumah itu.


"Bang Aslan!" pekik seorang perempuan cantik dengan rambut dikepang dari dalam rumah itu.


Kia yang baru mau membuka pintu mobil jadi terhenyak. Perempuan itu setengah berlari menyambut Aslan, bahkan langsung memeluknya.


Glek.


Kia menelan ludahnya, ada rasa panas dan seperti bara yang tiba-tiba membakar dada Kia. Siapa perempua itu? Dia tidak mirip dengan Aslan. Adiknya? Sepupunya? Kenapa Aslan mengajaknya kesitu. Kenapa sembarangan memeluk Aslan.


****


Salah satu dinding ruang privat itu, ada hiasan rooster uniknya, yang di tengah rooster itu diberi tanaman sekulen cantik.


Jika orang berjalan sekilas tidak akan melihat apa yang ada di dalam ruang privat itu. Tapi jika sekulen itu diambil orang bisa melihatnya. Cyntia kemudian meletakan ponselnya di dekat sekulen itu dan duduk di bangku dekat ruang itu.


Sayangnya tempat duduk Cyntia dekat dengan pintu keluar. Jika Si Paul atau Nicholas keluar Cyntia akan ketahuan. Saat Cyntia tau Nicho akan pulang. Cyntia segera mengambil ponselnya dan segera berlindung.


Tempat berlindung terdekat Cyntia adalah sebuah pintu ruangan yang berdampingan dengan ruangan Paulina. Karena gugup dan harus segera menyembunyikan diri, tanpa peduli siapa yang ada di balik pintu itu, Cyntia masuk ke ruangan itu.


"Hooh. Ups. Sory!" Ucap Cyntia melotot, syok dan kaget melihat pemandangan di depanya.