Sang Pangeran

Sang Pangeran
175. Patuh


“Happy to meet you! See You! Tto boja!” *Senang bertemu denganmu, sampai bertemu lagi ya!” tutur artis bintang tamu melambaikan tangan berpamitan pada Cyntia.


“Ah ya, mee too, see you Oppa! Take care, Oppa!” jawab Cyntia dengan wajah sedihnya.


Di dampingi beberapa petugas keamanan, juru bicara dan pemilik agensi, bintang tamu yang jadi idola Cyntia pergi meninggalkan Studio.


Dunia Cyntia yang berasa mimpi dalam sekejap pergi, dan kini Cyntia kembali sadar ke kehidupan awalnya. 


“Ehm!” seseorang di belakang Cyntia berdehem. Cyntia dan Shela menoleh. Shela kaget dan membulatkan bola matanya. Sementara Cyntia langsung cemberut kesal.


“Ayah, Om Rendra!” seru Ipang gembira. 


“Hai jagoan, selamat ya! Kamu menang!” ucap Rendra mengulurkan tangan ke Pangeran sambil sedikit melirik ke Cyntia. Rendra pun langsung menampakan muka masamnya. 


“Makasih Om!” jawab Pangeran. 


Sementara Aslan sang ayah justru celingukan mencari wajah yang dia rindukan. Aslan tak melihat batang hidung Kia yang selalu membayanginya. 


“Ibu dimana Nak?” tanya Aslan gusar.


“Ibu tadi di rung make up, nunggu Kak Alena!” jawab Pangeran polos.


“Alena?” tanya Aslan kaget. 


“Ya, Pah!” jawab Ipang mengangguk.


Mendengar jawaban Pangeran, Aslan tampak gusar. Aslan kemudian menatap Rendra, Cyntia dan sekeliling. Sekarang  sudah jam 23.30 malam pra kru sudah tampak berkemas. Aslan juga mengkoordinir Mbok Mina dan rombongan lain pulang lebih dulu diantar, Pak Diko dan Pak Awan.


Memang studio masih buka di ruang tertentu yang memang syuting malam. Tapi ruang dimana mereka berpijak sudah sepi. 


“Pangeran ke mobil dulu ya! Ayah susul ibu. Nyonya Cyntia tolong bawa Pangeran ke mobil, Daffa ikut Om Rendra temui ibumu ya. Ini sudah malam!” ucap Aslan menitipkan anaknya dan membagi tugas.


“Huaaam! Ya Aayah, Ipang juga ingin tidur!” Ipang pun tiba- tiba menguap. Ipang memang sudah sangat lelah dan ingin segera pulang.


"Cepatlah ke mobil ya, ini kuncinya berikan ke tante Cyntia!" tutur Aslan mengerti anaknya sudah waktunya tidur.


“Iya Angkel!” jawab Daffa juga.  


“Pangeran, kemari Sayang, kita tunggu ibumu di mobil ya!” jawab Cyntia bersiap pergi mengulurkan tanganya. 


“Ya, Tante! Daah Daffa!” jawab Pangeran meraih tangan Cyntia dan melambaikan salam perpisahan pada Daffa.


Pangeran langsung menggenggam erat tangan Cyntia mengekor. Daffa mendekat ke Rendra.


Kini Cyntia dan Rendra sama- sama menjadi seperti Baby Sister. Rendra dan Cyntia saling melirik dan membuang muka dalam diamnya. Padahal mereka berjalan beriringan menuju ke luar. Rendra mencari Manda, Cyntia menuju ke parkiran. 


Aslan berjalan tergesa masuk ke ruang make up. Ternyata ruang make up lampunya sudah dimatikan. 


“Haish... kemana sih? Ngapain juga urusin anak orang!” gerutu Aslan sangat kesal ke Kia.


"Kenapa Kia sangat sulit diberitahu," batin Aslan lagi.


Aslan kan sudah memberitahu dan menegaskan, Alena bukan anak Aslan. Stop peduli Alena dan mengurusnya. Alena punya ibu, nenek dan kakek. Kia cukup fokus ke Ipang.


Aslan tidak hanya geram tapi khawatir. Kia kan bukan artis, studio ITV juga besar dan terdiri dari banyak lantai dan ruangan. Apalagi di situ ada banyak orang bekerja. Pikiran Aslan pun berkelana dipenuhi dengan praduga. Kemana istrinya, sekarang kan masa rawan, Kia sedang dihujat netizen dan diburu wartawan. Jangan-jangan terjadi sesuatu.


“Apa kau melihat perempuan berhijab yang tadi bersamaku?” tanya Aslan pada salah satu pegawai yang tampak berjalan menenteng tas hendak pulang. 


"Tidak Tuan!" jawab pegawai itu. Aslan pun menelan ludah kecewa dan tambah panik.


“Sayang, kamu kemana? Anakmu sudah lelah dan ingin tidur kamu malah pergi, urusin anak orang!” gerutu Aslan mengepalkan tangan kesal. 


Aslan berjalan ke tempat tadi dimana Aslan memberi ruang bagi Kia menonton Pangeran. Ruang itupun sudah sepi. Aslan semakin frustasi dan mengacak- acak rambutnya kasar. 


“Kemana sih?” batin Aslan sangat kesal. 


Aslan kembali masuk ke studio dan mencari Kia. Aslan membuka setiap ruangan dengan sangat gelisah dengan sedikit berlari. Beberapa ruangan kosong, beberapa masih ada artis yang bekerja. 


“Cari siapa Tuan?” tanya salah satu petugas kebersihan. 


“Apa kamu melihat istriku?” tanya Aslan spontan tidak berfikir kalau tidak semua orang tahu dirinya dan Paul sudah bercerai dan istrinya sekarang adalah Kia. 


“Tidak!” jawab Petugas kebersihan jujur karena dia tidak melihat Paulina. 


“Haduh... kemana Kia?” gumam Aslan semakin frustasi. Aslan melihat ponselnya ternyata mati dan lowbat. 


“Ya sudah makasih!” jawab Aslan balik kanan ingin beranjak pergi. 


“Kalau Nyonya Paul saya tidak lihat, tapi kalau Non Alena saya lihat!” tutur petugas kebersihan yang berjenis kelamin laki- laki itu menghentikan langkah Aslan. 


“Alena, ya dimana dia?” tanya Aslan. 


“Tadi di kamar mandi, dengan perempuan berhijab!” jawab petugas kebersihan. Aslan pun tampak lega. 


“Ya dia istriku, dimana mereka?” tanya Aslan. 


“Saya lihat mereka di kamar mandi ujung sana Tuan!” jawab petugas kebersihan memberitahu. 


“Terima kasih Pak!” jawab Aslan. 


Aslan langsung berlari ke kamar mandi yang letaknya di lantai bawah tanah. Satu lantai dengan parkiran mobil. Dengan nafas memburu Aslan segera mencari istrinya itu.


“Hah!” Aslan langsung menghela nafasnya lega. 


Di bangku tunggu dekat dengan kamar mandi itu, nampak perempuan anggun yang memeluk gadis kecil dengan rambut tebal panjang terurai. Gadis itu tampak nyaman bersandar pada Kia. Meski Aslan membenci Alena, melihat Alen dekat dengan Kia, kemarahan Aslan sedikit meredup, tapi tetap saja kesal.


“Abang!” pekik Kia menoleh dan mendengar langkah Aslan mendekat. 


Alena yang terisak ikut menoleh. 


“Daddy!” lirih Alena sangat ingin mendekat dan memeluk Daddynya, tapi Aslan diam membeku, justru menatap dingin Kia dan Alena. 


Kia pun peka. Suami yang jika hanya berdua denganya langsung jinak dan terus menempel pasrah, tersihir oleh gairah panas. Kini menampakan muka beku sedingin es, itu tandanya sedang marah. 


“Alena, Sayang berhenti nangisnya, kamu duduk sini sebentar ya! Tante mau ngomong sama Daddymu dulu, oke!” tutur Kia lembut ke Alena.


Alena mengangguk sangat sedih tidak menjawab.


Alena benar- benar seperti anak sebatang kara yang tidak tahu harus kemana dan mau apa. Dirinya yang hari lalu sangat nakal dan percaya diri, sekarang kehilangan senjatanya. Alena sendiri dan diacuhkan.


Kia bangun dan menarik tangan Aslan menjauh.


“Kia mau ngomong Bang!” bisik Kia 


“Pulang!” jawab Aslan ketus, memberikan titah.


“Ya, kita pulang. Hubungi Paul dulu!” jawab Kia lirih sambil melirik Alena yang duduk sendirian di depan kamar mandi yang sangat sepi. 


“Buat apa? Kamu jangan gila!” ucap Aslan mengeluarkan wajah otoriterya. 


“Bang!” pekik Kia


"Urus anakmu! Ipang sudah sangat lelah. Pulang dan jangan urus anak orang!"


"Dimana Ipang sekarang?"


"Dia bersama Cyntia!"


"Mbok Mina? Fatimah dan yang lain?"


"Mereka sudah pulang diantar Pak Diko. Kenapa kamu cerewet sekali. Ayo pulang!"


"Bang!"


"Bang!" pekik Kia lagi, menatap suaminya mengintimidasi tidak mau kalah. 


Jika di depan Rendra dan anak buah lain Aslan yang mendominasi. akan marah jika dilawan. Di depan Kia, Aslan menelan ludahnya dan kelabakan melihat mata Kia melotot seperti mau menghakimi. Aslan tunduk pasrah dan tidak bisa melawan Kia. 


“Dia anak kecil Bang! Alena sendirian. Dia anakmu lho!” ucap Kia mencoba menyadarkan Aslan untuk peduli dengan Alena. 


“Dia bukan anakku, dia punya orang tua! Biarkan dia diurus orang tuanya!” 


“Oke dia bukan anakmu, dia punya orang tua! Pertanyaanku, dimana orang tuanya?” tanya Kia lagi.


“Bukan urusan abanglah, apa pedulinya!” jawab Aslan berkelit. 


“Bang. Lupakan tentang Paulina. Pakai hati Abang, lihatlah Alena! Dia sendirian, sebenarnya apa yang terjadi? Dia anak kecil? Ini udah malam lho. Ini gedung besar!” ucap Kia banyak dengan suaran kecil tapi dengan mata dan penekanan penuh menyadarkan Aslan. 


Aslan pun diam. 


“Lebih dari itu, di mata Alena, Abang itu Daddynya!” 


“Tap!” Aslan mencoba menyanggah tapi langsung dicegah dan dibantah Kia. 


“Stop bilang itu. Abang ayahnya atau bukan, abang yang salah karena mengijinkan diri Abang hadir dan dianggap Daddy oleh Alena. Salah Abang dari dulu tidak menjelaskan kenyataan sebenarnya, Abang sudah membiarkan rasa dan akar harapan di hati Alena, menganggap Abang Daddynya. Jadi please jadilah orang yang bertanggung jawab dan mempunyai hati. Atau kalau nggak mau, jangan harap bisa tidur sama Kia!” tutur Kia sangat panjang dan berani. Malah mengancam.


Aslan kembali patuh pada Kia. Daripada disuruh tidur sendirian. 


“Ya!” jawab Aslan. 


“Hubungi Paul? Antarkan Alena ke rumahnya? Atau ajak Alena pulang ke rumah kita!” ucap Kia lagi meminta. 


“Paul mendampingi ayahnya ke penjara dan mengantarkan ibunya ke rumah sakit!” jawab Aslan lirih karena sebenarnya Aslan tau dimana Paul. 


“What? Abang tahu? Tapi diam aja?” tanya Kia tidak mengira.


“Anak buah Paul juga sedang mencari Alena, aku lihat dia depan tadi!” jawab Aslan. 


“Hemm!” jawab Kia mendengus kesal. Aslan benar- benar tidak punya hati. 


“Ayo antar Alena ke mereka!” jawab Kia.


“Ya!” 


“Senyum jangan cemberut!” 


“Hmmm!” 


“Kalau cemberut, nggak ada tidur sama Kia!” ancam Kia lagi. 


“Haish!” desis Aslan kenapa istrinya suka sekali main ancam.


“He..., ni abang senyum!” jawab Aslan menampakan muka senyum terpaksa yang justru menurut Kia lucu. Kia malah jadi tertawa. Mereka berdua kemudian mendekati Alena yang menunduk. 


“Alena, pulang yuk!” tutur Kia mengajak Alena pulang. 


“Alena nunggu Mommy!” jawab Alena lirih dan melirik ke Aslan getir.


Hati Alena sangat sakit, jika anak normal, seharusnya Alena tidak perlu menunggu Mommynya karena ada Daddynya. Tapi Daddynya malah diam tak menyapanya. 


“Non Alena!” seru seseorang berjalan tergopoh- gopoh mendekati Alena. Ternyata itu adalah pegawai Paul yang baru. 


Alena menoleh Kia dan Aslan penuh harap. Alena bingung siapa yang memanggilnya itu. Kia pun hanya diam membiarkan Alena yang memilih.


Karena hanya Kia yang peduli dengan Alena, meski pikiran Alena selalu berkata, Tante Kia kata Mommynya jahat, hati kecil Alena berkata Kia baik, Alena bahkan bertumpu pada Kia sekarang. 


“Tante, dia siapa? Alena nggak kenal!” tanya Alena lirih dan tanpa sadar meraih tangan Kia meminta perlindungan. 


“Maaf, Pak, Bu, kalian siapa?” tanya Kia ramah.


Aslan diam saja, padahal Aslan tahu mereka ART Paul yang baru, dasar Aslan. 


“Saya Noni!” 


“Dan saya Agus!” 


“Kami pegawai baru di rumah Bu Paulina, kami ditugaskan menjemput Non Alena, ayuh Non pulang!” ucap Bu Noni memprekenalkan diri. 


Alena perpegangan pada Kia kencang, menatap Kia dan menggelengkan kepalanya takut dan tidak percaya. 


Kia menyenggol dan melirik tangan Aslan yang tampak sangat menyebalkan dengan muka apatisnya. “Benar mereka orang Paul?” bisik Kia. 


“Hmmm!” Aslan berdehem malas. 


“Alena Sayang, mereka akan menjagamu, kamu pulang bersama mereka ya! Nanti Mommymu nyari kamu lho!” tutur Kia merayu. 


“Tidak mau, teman Alena, Mbok Mina bukan mereka!” ucap Alena. 


Dheg 


Kia menelan ludahnya. “Wahh runyam ini? kalau Alena hanya mau diasuh Mbok Mina?” batin Kia, Mbok Mina kan baru pulang ke rumah Kia!


Kia melirik Aslan lagi berharap Aslan ada inisiatif, tapi rupanya hati Aslan membatu. 


“Hahh...” Kia menghela nafasnya. 


"Sayang, tapi kalau kamu tidak ikut Mbak Noni kamu dimarahi Mommymu lho!” rayu Kia lagi. 


“Iya Non, ayo Non pulang, ini sudah malam!” 


"Aku tidak mau! Memang Mommy kemana?” tanya Alena. 


“Nyonya ke rumah sakit. Oma Non Alena sakit, jadi maaf ya, Mbak Noni yang jemput maaf juga telat, Mbok Noni bingung, yuk pulang yuk!” tutur Noni sangat ramah. 


“Nggak mau! Alena nggak mau!” jawab Alena tiba- tiba menangis kencang dan memegang tangan Kia erat.


Alena seperti mengeluarkan kesakitan yang luar biasa dari suara tangisnya. Alena bingung. Alena belum tahu ayah dan ibunya bercerai. Alena kalah. Alena sakit ibunya tidak datang, Daddy acuh, malah orang asing datang menjemput.


Noni dan Agus yang baru bekerja bingung. Aslan diam saja, benar- benar pura- pura tidak lihat dan mendengar. Hal itu membuat Alena tambah menangis kencang dan juga membuat Kia menahan kesal yang teramat sangat. 


Akhirnya Kia lagi yang turun tangan dan mengalah. Kia langsung berjongkok mensejajari Alena. Kia menangkup pipi gadis kecil dan cantik yang berderai air mata, kebimbangan dan kebingungan penuh kerapuhan itu. 


“Oke, Alena ikut Tante dan Daddy ya!” tutur Kia sangat lembut. Aslan yang mendengar langsung melotot tidak terima, tapi tidak bisa berkutik.


“Ya Tante!” jawab Alena mengangguk. Sebenarnya Alena bingung, memang Daddy nya kemana?


“Cup cup, everything will be okay, sekarang Alena tenang ya? Dont cry, Baby setuju?” ucap Kia tersenyum sangat lembut. 


Alena mengangguk. Kelembutan dan kesabaran Kia mengetuk hati Alena yang selama ini selalu diluluri lumpur hitam oleh Mommynya. Alena yang sebelumnya sangat galak kini menjadi pendiam dan penurut tidak punya daya karena tidak ada siapapun di sampingnya kecuali Kia yang peduli. 


Kia kemudian bangun melirik Aslan dengan tatapan tajam, lalu Kia menoleh ke anak buah Paul ramah. 


“Mbak, Mas, kalian lihat sendiri kan? Alena masih belum mengenal kalian, untuk malam ini biar dia ikut Daddynya, sampaikan ke tuan kalian ya! Besok kita antar Alena ke rumah!” tutur Kia lembut. 


“Baik, Nyonya!” jawab anak buah Paul. Mereka pun pergi. 


“Ayo, Sayang!” ajak Kia menggenggam tangan Alena melirik ke Aslan tanpa mau kompromi dan minta ijin. 


Alena hanya patuh saja karena sudah lelah dan bingung.


Aslan yang rencananya mau marah justru tidak berkutik. Aslan hanya menelan ludahnya kesal. Kenapa Aslan bisa sangat lemah dan tidak punya daya melawan Kia.