Sang Pangeran

Sang Pangeran
170. Perubahan.


Di ruangan yang berdinding kaca tebal dengan pemandangan bangunan kota yang berjajar berlomba tinggi. Aslan dan beberapa klienya duduk membentuk lingkaran di kursinya masing- masing. Semua berpakaian rapi dan berdasi, dengan menghadap I-pad dan alat kerja masing- masing. 


Staf Aslan yang direkrut Rendra, mempresentasikan program kerjanya. Kini Aslan membuka peluang usaha dengan jalan berbeda. Jika di Nareswara membidangi dunia media massa, pertelevisian, sastra, percetakan dan dunia kreatif lainya.  


Aslan dan Rendra kini mencoba keberuntungan dengan jalan berbesa. Mereka merintis usaha di bidang Fashion dan Skincare. Meski mereka laki- laki, tapi Aslan dan Rendra menggandeng sahabat- sahabatnya yang bergelut di dunia modeling saat berkutat di ITV, Aslan juga menggandeng dokter - dokter sahabat mereka. 


“Bagaimana, apa ada yang ditanyakan?” tanya Staf Aslan sopan ke klienya.


Semua Klien mengangguk paham. Di saat yang bersamaan ponsel Aslan berbunyi. Aslan mengeluarkan ponselnya memeriksa. Saat itu juga Aslan meminta ijin keluar dari ruang meeting. 


“Ya, Mbok! Ada apa?” tanya Aslan lembut menjawab suara yang sangat dia kenal.


“Non Kia, Den, Non Kia!” tutur Mbok Mina gusar. 


Mendengar suara Mbok Mina yang biasa tenang berubah gusar, Aslan ikut tertarik dalam kegusaran. Otot- otot di tubuh Aslan menegang. Pikiranya kacau dipenuhi dengan berbagai prasangka buruk. 


“Katakan ada apa?” 


“Sebaiknya Den Aslan segera pulang untuk menenangkan Non Kia!”


“Ya, Mbok!” jawab Aslan tidak banyak kata dan langsung memasukan ponselnya lagi ke dalam sakunya. 


Aslan berpamitan pada Klienya singkat. Secepat kilat Aslan melesat memasuki mobilnya dan memutar stir mobilya sendiri. Aslan seperti orang kerasukan setan, memacu kecepatan mobilnya sangat cepat. Bahkan beberapa kali Aslan diklakson banyak orang karena hampir menyebabkan kecelakaan. Untung semua itu tidak terjadi, karena Aslan juga sudah ahli dan memperhitungkan dengan tepat. 


Di otak Aslan, yang penting dia cepat sampai rumah entah apa yang terjadi dengan Kia sang perempuan pujaanya. Apa Kia sakit karena kelelahan. Apa ada yang menyakiti Kia. Berbagai pertanyaan dan tebakan hilir mudik silih berganti berputar di kepalanya. 


Lebih cepat 50 persen dari biasanya, karena Aslan pulang bukan di  jam pulang kerja. Aslan sekarang sudah di depan rumahnya yang Asri dan teduh, tidah terlalu besar tapi masuk ke daftar rumah elit. 


Aslan berjalan tergesa dengan keringat membanjiri keningnya. 


“Sayang... Abang pulang, kamu dimana? Apa yang terjadi?” seru Aslan dari depan pintu langsung berteriak mencari istrinya panik. Padahal Aslan baru masuk di ruang tamu. 


Ketiga perempuan dan satu laki- laki yang duduk bersila di depan televisi langsung menoleh ke Aslan. Sejenak, Fatimah seperti tertarik magnet mendapati pemandangan indah yang terpancar dari sesosok Aslan. Suami sahabatnya itu sangatlah tampan. 


Aslan diam dan tertegun melihat anggota keluarganya duduk bergerombol di tambah dua orang asing. Ada sedikit kelegaan melihat istrinya duduk di sofa baik- baik saja.


Aslan pun langsung duduk mendekat ke Kia dan memeluknya karena melihat Kia masih sesenggukan dengan mata yang sembab kemerahan dan masih tersisa genangan air di kelopaknya. 


“Kamu kenapa?” tanya Aslan lembut dengan menangkup kedua pipi Kia yang kepalanya berbalut jilbab. 


“Kita jemput Ipang ya Bang!” tutur Kia dengan polosnya. 


“Ya, malam ini selesai penamilan terakhirnya kita jemput Pangeran anak kita! Abang janji Abang akan datang! Kita berangkat bersama,” jawab Aslan  dengan anggukan wajah tegas dan matangnya, menawarkan ketenangan pada Kia.


“Sekarang! Bukan nanti malam!” ucap Kia lagi masih berkabut emosi.


“Kenapa harus dijemput sekarang , Sayang? Kan belum tampil? Acaranya kan nanti malam?” tanya Aslan lagi. 


“Biar Alena saja yang jadi juaranya, biar Alena saja yang tampil dan dikenal banyak orang Bang. Ipang kita bawa pulang saja, Kia nggak mau Ipang kenapa- kenapa! Kia nggak mau Ipang terkenal, Kia nggak mau! Pokoknya Ipang harus pulang sekarang!” rengek Kia lagi tidak bisa berfikir waras. 


Aslan pun kembali meraih wajah Kia dan menangkup dengan kedua tanganya.


“Lihat, Abang! Ada apa?” tanya Aslan tenang berusaha mengendalikan Kia. 


“Di luar sana, semua orang sedang menggunjing kita Bang. Semua orang bilang Kia perempuan hina, Kia perempuan murahan, Kie perempuan rendah. Kia perusak rumah tangga orang, Kia perebut suami orang. Semua orang mencibir Kia. Mereka bilang Ipang anak haram, Ipang anak hasil perselingkuhan, Ipang benih lak*at. Bagaimana kabar Ipang sekarang? Dia sendirian Bang! Kia nggak mau Ipang dibully. Kia nggak mau Ipang dengar itu!” ucap Kia panjang seperti rel sepur menguraikan kata tanpa jeda dibalut dengan emosi yang terkira. 


Aslan tidak menjawab dan langsung memeluk Kia. Mbok Mina mengkode Narti, dan kedua tamunya. Mereka harus pergi, membiarkan Sang Tuan rumah menyelesaikan urusanya. Mereka kemudian beringsut pelan meninggalkan Kia bersama suaminya. 


“Semua akan baik- baik saja. Sudah Abang urus. Pangeran akan baik- baik saja dan tidak akan ada yang berani mengganggunya!” bisik Aslan menggerakan tangan mengelus bahu Kia lembut.


Gerakan tangan Aslan memberikan energi positif, menurunkan tekanan pompaan pembuluh darah dan deguban jantung istrinya yang sedang tidak terkendali. 


Kia cukup nyaman berada dalam dekapan dada besar suaminya. Aslan memang begitu pantas menjadi rumah dan tempat berlindung. 


“Ya. Kamu mau dengar dan mau lihat Pangeran?” tanya Aslan menenangkan.


Aslan tahu obat manjur dari kegelisahan Kia adalah mendengar dan langsung berbicara pada putra tampanya. 


Kia mengangguk cepat. 


Aslan langsung memencet nomor Tuan Alvin. Saat selesai mengurus tikus kecilnya, Satya menghubungi Aslan. Sebagai adik yang baik dan peduli, Satya menanyakan kabar kakaknya dan  keluarga barunya. 


Satya langsung mengkode anak buahnya. Baik Alena atau Pangeran, sampai acara grand final selesai dilarang memegang ponsel atau menonton televisi dengan dalih mempersiapkan acara nanti malam. Seisi rumah mentor keduanya pun tak boleh menyinggung urusan pribadi orang tua mereka. 


Satya memastikan semua acara berjalan lancar tanpa hambatan. Tak boleh ada perundungan atau tindak tidak profesional. Meskipun kenyataanya, angka polling/ dukungan pada Pangeran pada hari itu langsung menurun drastis, dan Alena melonjak tajam.


Media jaman sekarang begitu hebat. Hanya dalam waktu singkat pendukung Ipang langsung beralih hati mendukung Alena.


Setelah beberapa detik menunggu sambungan, ponsel Aslan terhubung dengan Tuan Alvin.


“Kok Tuan Alvin, Bang?” tanya Kia berbisik melihat nama dan foto kontak di ponsel Aslan. 


“Sudah kita lihat saja wajah siapa nanti yang muncul?” jawab Aslan tersenyum sangat tenang. Aslan merapatkan duduknya ke Kia sambil memegang layar ponsel mahalnya ke hadapan Kia. 


Setelah beberapa detik, wajah ceria dari putra tampanya keluar. 


“Ibu... Ayah!” seru Ipang masih seperti biasa. 


Kia segera menyeka air matanya dan memancarkan senyum cantiknya yang selalu mempesona. Aslan tersenyum melihat istrinya kembali ceria dan bersemangat lagi. Ibu dan anak itu pun bercengkerama hangat meski hanya melalui telepon genggam.


“Udah ngobrolnya?” tanya Aslan mesra. 


Kia mengangguk karena ponsel Tuan Alvin keluar peringatan bateray low dan Ipang berpamitan menyudahi percakapanya. 


“Anak kita akan baik- baik saja kan Bang?” tanya Kia menatap suaminya penuh harap. 


Aslan mengangguk, memajukan wajahnya dan mengecup kening Kia. 


“Pangeran anak yang kuat dan bermental baja. Kalau pun nanti dia akan dengar, dia akan baik – baik saja. Untuk saat ini, baik Ipang atau Alena dilarang memegang ponsel dan menonton acara tv. Mereka aman berlatih. Apa kau sudah tenang sekarang?"


Kia mengangguk, menghela nafas lega, membetulkan jilbabnya dan tersenyum pada suaminya. 


“Abang minta maaf ya! Kamu harus menanggung semua ini!” tutur Aslan menggenggam tangan Kia. 


“Kia tahu Bang, hari ini pasti akan datang!”


“Kamu siap menghadapinya?” 


“Sebelum Kia bersedia bertemu Abang lagi dan menerima Abang, Kia sudah siap, tapi Kia tidak siap jika Ipang yang akan diserang! Ipang tidak tahu apa-apa Bang!” 


“Tidak ada yang berani menyerang Pangeran!” 


“Kapan Abang akan ungkap semuanya ke media?” 


“Berkas dan bukti- bukti sudah ada di tangan polisi. Malam ini atau besok pagi Tuan Alex akan segera dijemput, masuk ke tempatnya!” 


“Benarkah?” tanya Koa lega.


Aslan mengangguk. 


“Syukurlah, semua orang akan tahu siapa dia! Lalu bagaimana mengenai Paul, Bang?"  


“Kamu ingin, Abang lakukan apa ke dia?” tanya Aslan ke Kia.


Selama ini Aslan mengerem media, menjaga nama baik keluarganya dan memikirkan bagaimana Alena, meski bukan anaknya, Aslan masih punya hati. Sekarang, keluarga yang Aslan bela mati-matian ternyata bukan ayah Aslan yang sesungguhnya.