
“Ceklek...”
Pelan- pelan Aslan membuka pintu kamar Pangeran. Ini kali kedua Aslan ditinggal tidur Kia dan anaknya, padahal Aslan sudah belikan hadiah dan oleh- oleh, berharap pulang akan disambut anak dan istrinya.
Aslan menelan ludahnya merasa bersalah melihat Kia tidur. Aslan berfikir Kia masih marah karena siang tadi Kia benar- benar menangis.
Jika saat pertama kemarin, Pangeran tidur ditemani Daffa jadi kasurnya sempit karena posisi tidur anak- anak yang bebas. Kini di kasur hanya ada Kia dan Ipang yang tidurnya rapih dan menyisakan banyak tempat.
Kia terlihat berbaring miring sangat rapih memeluk Pangeran di tengah ranjang. Tentu saja, tidurnya Kia terkendali dan rapih karena dia masih terjaga. Kia sedang berperang emosi melawan akal pikiranya sendiri.
Aslan mendekat ke istri dan anaknya itu. Kia pun bisa mendengar itu.
“Apa dia hanya melihatku? Atau akan ke sini? Dia mau minta maaf dan jelasin nggak ya? Apa dia masih menyakahkan aku karena peduli Alena? Ah bagaimna ini?” batin Kia memejamkan matanya mendengar langkah Aslan.
“Cup!”
Tau- tau kecupan hangat mendarat ke pelipis sebelah kiri Kia, karena Kia tidur miring ke kanan. Kia pun menelan ludahnya pelan, ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Sesuatu itu seperti menyadarkan dan memberitahu betapa suaminya mencintainya dan memperlakukanya dengan lembut.
Meski tak disambut, merasa sudah punya istri dan anak, Aslan tidak mau tidur sendiri. Aslan meraih selimut Kia, ikut masuk di dalamnya. Aslan berbaring miring di belakang Kia tanpa ragu dan canggung.
Tidak peduli Kiaa sudah tidur atau belum, mengijinkan atau tidak, Aslan menelusurkan kedua tanganya memeluk Kia. Aslan juga ikut memejamkan mata untuk melepas lelahnya.
“Apa aku bangun saja ya? Tapi kenapa Bang Aslan seharian nggak wa aku untuk minta maaf atau mennyapa sih?” batin Kia masih dimakan ego membiarkan Aslan memeluknya.
Meski begitu, tidak bisa Kia pungkiri, dekapan Aslan begitu nyaman melindungi. Lama Kia terdiam merasakan kehangatan dada bidang suaminya, serta menikmati setiap irama nafas Aslan. Pelukan yang begitu nyaman yang seharusnya sudah lama dia dapatkan.
Setiap hembusan nafas Aslan seperti berbicara, menuntut ingin dimengerti, hari yang Aslan lalui begitu melelahkan dan menguras pikiran. Hembusan itu beritme pelan, halus dan hangat. Kia bisa merasakan itu.
Kia pun membuka matanya. Melihat tangan suaminya, pelukan yang tadi kencang menjadi sedikit mengendur. Hembusan nafas yang halus berubah menjadi dengkuran yang lembut. Aslan langsung tertidur.
Sementara dia yang dirundung semua prasangka dan emosi tak bisa tidur cepat seperti Aslan yang lelah menghabiskan harinya.
Kia kemudian membalikan badanya dengan sangat hati- hati, ditatapnya wajah pria yang sudah menjadi halal untuknya. Garis wajah Aslan sangat sempurna untuk Kia nikmati, begitu tegas menandakan dia sudah banyak bekerja keras. Aslan juga terlihat gagah meski ternyata selama ini memendam banyak kepahitan.
Kia kemudian menyentuh pipi Aslan lembut. Kia kembali berperang sendiri, sebenarnya yang salah dirinya atau suaminya.
Satu sisi, Aslan terkesan menjadi manusia tanpa hati dan semaunya sendiri, Kia ingin memberinya pelajaran. Satu sisi, Kia juga tidak tega mendiamkan suaminya terlalu lama, Kia juga tersiksa jika harus tanpa Aslan.
“Maafin Kia, Bang!” lirih Kia.
Kia ingat, dirinya tadi belum sempat sholat isya, dengan sangat pelan Kia meletakan kaki dan tangan Aslan agar membebaskannya. Setelah itu merapihkan kembali dan membetulkan selimut Aslan agar tetap nyaman.
Kia pun bangun, meninggalkan anak dan suaminya itu. Kia berjalan pelan menuju ke kamarnya.
Rupanya Mbok Mina sudah mematikan lampu- lampu rumah sehingga jalan tampak meremang. Sebelum masuk ke kamar Kia ke ruang makan dulu berniat mengambil air minum.
“Huh, apa ini?” gumam Kia melihat plastik kresek berlogo toko makanan.
Kia kemudian duduk memeriksa. Ada tiga kotak makanan, satu kotak sedang ternyata isinya cake belgian choco deligt, cake yang lembut di atasnya dan coklat lumer di dalamnya, satu lagi cake yang sama dengan varian red velvet. Satu kotak lagi berisi spageti brulle. Makanan lezat dan mahal semua ini.
“Bang Aslan beli ini semua untuk aku? Atau jangan - jangan dia belum makan?” gumam Kia menelan salivanya semakin merasa bersalah.
Kia mentup lagi bungkus makanan itu, Kia melirik jam dinding di dapur, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.
“Tapi dia terlihat sangat lelah, biarlah! Makan besok pagi saja” batin Kia memasukan makanan itu ke lemari makanan, kemudian Kia berjalan ke kamarnya.
Kia menyalakan lampu kamar yang tadi sudah Aslan matikan, lalu berjalan ke kamar mandi melewati meja rias. Kia terhenti lagi melihat meja rias yang biasanya kosong karena skincarenya ada di bok khusus, kini ada benda yang singgah.
“Apa ini?” batin Kia dheg- dhegan, sedikit bahagia tapi tidak mau ke Gran, dari bungkusnya yang sangat cantik Kia bisa menebak isinya.
Kia memeriksa dengan tubuh sedikit memanas menerka- nerka. Itu hadiah untuknya kan? Nggak mungkin dong hadiah untuk orang lain ditaruh di meja kamar istrinya begitu saja.
Kia kemudian mengambil dan memeriksanya. Mata Kia langsung berbinar. Betapa tidak, setiap mata perempuan pasti menyukai keindahan. Begitu sisi penutup kotak perhiasan dibuka ke atas kilauan berlian langsung tampak bersinar.
“Woah, masya Alloh tabarakallah, indah sekali!” gumam Kia lirih melihat sepasang anting berlian yang tampak sangat manis dan kalung tanpa liontin.
“Apa abang, belikan ini untukku?” batin Kia menutup dan meletakanya lagi.
Kia tidak mau lancang karena suaminya belum mengatakan apapun padanya.
“Kalau bukan buat aku? Terus untuk siapa?” batin Kia beranjak dari meja rias menuju ke kamar mandi.
“Semoga itu untuk aku?” batin Kia tersenyum.
Kia kemudian membasuh mukanya, mencuci dengan facialwash dari skincare langgananya, tidak lupa menggosok gigi lalu membasuh muka lengan, dan kakinya berwudzu.
Kia kemudian meraih mukenah yang ada di kamarnya. Menggelar sajadah indahnya dengan lembut sebagai tempat peraduan dengan Tuhanya.
Setelah beberapa detik berlalu dengan menghadirkan segenap hatinya Kia selesai melafalkan bacaan sholat, Kia menoleh ke sisi belakang kanan dan kiri mengucapkan salam. Betapa kagetnya Kia, saat melihat ke kiri suaminya sudah duduk bersila menunggunya.
“Abang?” pekik Kia langsung gelagapan. Kapan Aslan masuk?
Aslan tersenyum senang.
Aslan yang sudah tidur terbangun saat merasa pelukanya berubah. Yang tadinya memeluk tubuh hangat, berubah jadi kosong karena Ipang juga bergerak menjauh.
Aslan kemudian membuka matanya memeriksa sekeliling, saat Kiaa tidak ada Aslan pun keluar mencarinya.
Betapa bahagianya Aslan saat memergoki Kia sudah sholat, itu artinya Kia sudah suci dari hadastnya.
“Kok nggak bilang- bilang?” tanya Aslan menekuk satu kakinya agar bertumpu ke kaki yang lain.
“Ehm!” Kia menelan ludahnya salah tingkah, siap- siap nih.
“Bilang apa Bang?” tanya Kia sambil membuka mukenahnya. Kia jadi tidak khusuk berdo’a ada Aslan di belakangnya.
“Kamu udah suci?” tanya Aslan dengan kerlingan matanya.
“Hemmmm!” Kia kemudian melipat mukenahnya dan meletakan di tempatnya. Setelah itu Kia berjalan gugup melewati Aslan mengambil skincarenya. Lalu duduk di kursi menghadap cermin riasnya.
Kia pura- pura diam tidak mau bertanya tentang perhiasan yang dia lihat. Begitu Kia duduk, Aslan langsung bangun, Aslan berdiri di belakang Kia dan membelai lembut rambut Kia yang indah dan wangi.
“Maafin Abang ya!” bisik Aslan lalu mencium puncak kepala Kia.
Hati Kia yang sedari tadi sudah mencair menjadi semakin meleleh diperlakukan seperti itu.
“Kia juga minta maaf Bang!” jawab Kia.
“Kamu udah nggak marah kan sama Abang? Jangan diemin Abang ya!” ucap Aslan lagi, lalu mengambil kotak yang di meja itu.
Kia melihatnya dengan dada yang mengembang menerbangkan jutaan kupu- kupu, meski tak bertanya Kia tahu. Kia bersiap menerima perhiasan itu, pasti itu untuknya kan?
“Abang kok nggak hubungin Kia seharian?” tanya Kia justru membahas materi perajukanya.
Aslan tersenyum dan membuka perhiasan itu.
“Coba lihat kupingnya!” jawab Aslan tidak menjawab pertanyaan Kia, malah menyibakan rambut dan bersiap memakaikan anting cantik yang dia beli.
Kia yang sudah mengintip dan suka hanya pasrah saja. Tidak butuh waktu lama Aslan memakaikan perhiasan itu.
“Cantiknya istri Abang!” bisik Aslan menciumi belakang kuping Kia dan membuat Kia kegelian.
“Abang belum jawab pertanyaan Kia!” tanya Kia dengan mode manjanya.
“Liontin Umma mana?” jawab Aslan malah balik bertanya hal di luar pertanyaan Kia.
“Ya udah besok aja!” jawab Aslan meletakan kalungnya. Aslan kemudian langsung mengumpulkan kaki Kia dan menggendong menuju ke kasurnya.
“Abang Kia mau pake krim dulu,” ucap Kia kaget karena Aslan mengangkatnya tiba- tibaa.
“Nggak usah pakai krim, kamu udah cantik kok!” jawab Aslan mendekatkan wajahnya agar bibirnya menyentuh ke bibir Kia dan mengecupnya ringan.
Dengan lembut Aslan merebahkan Kia ke kasurnya, Aslan langsung mengungkung Kia dengan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.
Sangat terlihat, Kia menelan ludahnya begitu gugup.
Aslan jadi tertawa geli. Kenapa Kia terlihat takut, Kia kan sudah melahirkan Pangeran, sudah pernah merasakan rudal hebatnya Aslan, bahkan beberapa hari terakhir, Kia memainkanya dengan pintar.
“Abang” pekik Kia mulai keringetan.
Aslan tidak menjawab dan langsung mencium kening Kia, lalu turun melahap bibir Kia yang polos tanpa make up tapi selalu terlihat segar dan merekah.
Kia sudah banyak pengalaman sekarang, sehingga mereka berpadu dalam waktu yang cukup lama, memainkah lidah dengan mendatangkan sejuta rasa.
“Apa sudah siap?” bisik Aslan melepaskan pagutanya.
“Kia takut, Bang?” ujar Kia.
“Pletak.” Aslan menyentil kening Kia.
“Uhh!” dengus Kia.
Ucapan Kia sedikit menjeda has..rat Aslan yang memburu, bisa- bisanya Kia takut. Selama beberapa hari ini kan sudah akrab dengan junior Aslan itu.
“Kan udah akrab, udah biasa pegang juga!” jawab Aslan menggoda.
“Apa akan sesakit dulu?” tanya Kia polos dengan nafasnya yang menderu.
Aslan tersenyum lagi, istrinya ini benar- benar aneh.
“Memang dulu sakit yah?” tanya Aslan lembut.
Kia mengangguk dengan wajah imutnya.
“Banget, Bang, masih keingat sampai sekarang!” jawab Kia jujur.
Dulu memang sangat sakit, pertama karena terpaksa, kedua tanpa pemanasan ketiga mereka tak salig kenal Aslan juga melakukanya dengan amarah, bukan cinta.
“Cup!” Aslan mengecup lembut bibir Kia lagi.
“Kamu akan bedakan sendiri nanti!” bisik Aslan memulai perjalananya.
Dimulai dari melahap bibir Kia, turun ke lehernya. Aslan menghujani Kia dengan gerakan lincah lidahnya sehingga Kia menjadi belingsatan tidak terkendali.
“Abang...” de..sah Kia merasakan rasa yang tidaak bisa dia jelaskan.
Tidak diketahui Kia kini leher Kia sudah belang- belang penuh dengan tato sementara. Tidak berhenti Aslan turun dan membuka piyamaa Kia, kembali menyapa alam indah yang sudah beberapa hari menjadi tempat healing terbaiknya, panorama dua gunung yang ada di Kia.
Aslan pun melakukan pendakian hebatnya, menyapu keindahan dan pesona dari dua gunung kembar itu dan memberikan imbal balik pada sang empunya, yaitu kenikmaatan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, sampai Kia reflek ikut mere..mas rambut Aslan yang berada di depanya.
Merasa sudah cukup, Aslan berhenti, memeriksa bilik suci yang lama terkunci. Sudahkah bilik itu ditempati? Dengan gerakan lembut tangan Aslan menelusup ke pakaian bawah Kia, menyentuh membuka kunci bilik kamarnya itu. Lebih dari siap, tapi sudah menunggu dan menyambutnya hangat.
Tanpa minta dibantu Aslan langsung menanggalkan kain yang membalut tubuhnya satu persatu, setelah itu menarik agak kasar celana setelah piyama Kia. Kia membantu menanggalkan kain terakhir yang melekat di tubuhnya. Mereka kini sama- sama polos tanpa ada batasan, menampakan keindahan tubuh masing- masing
Mereka kemudian saling tatap dengan sorot mata ketulusan dan saling cinta. Sorot mata yang berkomunikasi, saling memberi dan menerima. Memancarkan keihkhlasan dengan segenap hati yang menyadari hakikat sebuah pengabdian.
“Jangan sakit ya Bang!” ucap Kia lagi.
“Enggak!” jawab Aslan mengarahkan rudal hebatnya ke arah kamarnya.
“Berdoa udah?” tanya Kia.
“Udah daritadi!” jawab Aslan.
Kia memejamkan matanya bersiap, Aslan pun membuka puasa panjangnya, mengakhiri penantian lamanya, untuk bisa kembali berteduh di rumah nyaman yang sekian tahun hilang kuncinya.
Dengan cepat rudah hebat Aslan melesat masuk.
“Empt”
Kia melenguh tidak bisa menyembunyikan rasanya, ternyata tidak sakiit sama sekali. Justru sebaliknya ternyata saat dilakukan dengan kesadaran penuh dan menghadirkan hati, rudal Aslan malah membuatnya terbang ke cakrawala indah.
Mendapati respon baik Kia, Aslan pun melanjutkan ritual hebatnya. Memacu dengan sekuat tenaaga, berirama dengan nada yang indah mengikuti mau Kia, kadang dipercepat kadang diperlambat, Aslan juga mengajarkan warna lain dengan gaya yang berbeda.
Setelah mengeluarkan seluruh tenaga luar dan dalamnya, kini mereka sampai di puncaknya. Baik Kia dan Aslan berkoordinasi untuk saling melepaskan dan mengakhiri.
“Haaahh”
Mereka berdua sama- sama mengehela nafasnya, menetralkan kecepatan pacuan jantungnya agar sama- sama stabil lagi.
Meski sejenak, Aslan berbaring di atas tubuh Kia beristirahat.
“Berat Bang!” lirih Kia menyuruh Aslan menyingkir.
Aslan kemudian menjatuhkan dirinya ke samping Kia dan mencium kepalanya lembut.
“Makasih, sayang, nggak sakit kan?” bisik Aslan.
“Kaki Kia kram Bang!”
“Besok Abang ajari biar nggak kram lagi!” jawab Aslan.
“Ish!” jawab Kia memukuk dada Aslan yang tampak kekar dan sedikit berbulu itu.
Kia kemudian bangun.
“Mau kemana?” tanya Aslan meraih tangan Kia.
“Mau cebok, Bang! Risih!” jawab Kia.
“Nanti dulu.Kan biar jadi adiknya Pangeran!”
“Masa subur itu hari ke 13, 14, 15, Bang!” jawab Kia tetap berjalan memunguti pakaianya dan berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Aslan akhirnya mengikutinya.
“Abang belum makan yah?” tanya Kia lembut.
“Iya! Abang laper banget tau!”
“Ya udah yuk makan yuk!”
“Ada yang mau Abang sampaikan juga!”
“Ya!” jawab Kia.
*****
Maaf ya. Bikin part ini butuh susunan kata ekstra dan hati- hati.
Maafkan kalau buat dosa, nggak vulgar kan? Vulgar nggak sih? Pembaca di sini sudah menikah semua kan? Maafkan ya. hihi.