Sang Pangeran

Sang Pangeran
211.Jadi Saudara Kikan Aja


Meski mulut bisa berbohong, tapi hati selalu murni berbicara dengan rasa. Melihat Rendra dan Umma duduk dekat bahkan wajahnya mirip membuat Cyntia sangat gugup.


Rasa pesanaran Cyntia semakin tinggi, benarkah Umma ibunya Rendra? Cyntia sangat ingin punya ibu seperti Umma, tapi bukan berarti harus berbagi dengan Rendra kan?


“Tapi Kikan tidak mirip? Apa iya Kikan adik si laki- laki gesrek ini?” batin Cyntia menunduk.


Cyntia jadi bingung, mau tetap bergabung di meja Umma, satu meja dengan lelaki yang sudah menidurinya dalam keadaan mabuk, atau pergi saja.


Di sisi lain, Cyntia juga tak punya teman. Bergabung dengan Fatimah dia tidak satu aliran, Fatimah dan Putri juga sibuk di kamar. Bergabung dengan Ranti, kepedihan Kia di masalalu yang dia saksikan sendiri, masih membuatnya enggan beramah tamah dengan Ranti. 


Kia sudah pasti sibuk bersama anak dan suaminya. Kia kan yang akan jadi ratu sehari di hari esok. 


“Duduk Kak!” ucap Kikan memberikan kursi untuk Cyntia. 


Cyntia menelan ludahnya dan mengangguk kikuk. Cyntia akhirnya memilih bergabung bersama mereka. 


“Ehm!” Rendra kemudian berdehem karena kini mereda jadi berhadapan berjarak meja. 


“Kakak  kenapa sih? Ham hem ham hem!” cibir Kikan terus terang membuat Cyntia menahan tawa. 


“Kalian saling kenal kan?” tanya Umma menatap Rendra dan Cyntia. 


Umma yang sudah makan garam kehidupan yang daya satelitnya sangat canggih bisa menangkap aura dan signal aneh berkeliaran di antara mereka. 


“Hoh!” pekik Cyntia bengong mau jawab apa. Bukan hanya kenal tapi pernah melakukan penyatuan.


“Ehm." Rendra berdehem lagi.


Rendra dan Cyntia saling tatap dan plintat plintut. 


“Kami bertetangga!” jawab Cyntia kemudian. 


“Waah benarkah?” tanya Kikan justru sangat exited dan kegirangan. 


“Ya!” jawab Cyntia mengangguk gelagapan. 


Sementara Rendra diam dengan hatinya mengembang dan penyakit GR nya semakin membelah diri berkembang biak dan bertambah pesat. Rendra sangat yakin kalau Cyntia sedang pedekate terhadapnya.


“Ihh... Kak Rendra kenapa nggak kasih tahu sih? Kalian bertetangga. Kalau gitu kan Kikan bisa main ke tempat Kak Cyntia? Teman- temanku fansnya Kak Cyntia lho. Mereka udah follow Kak Cyntia... bikin akun fansbase Kak Cyntia juga. Namanya Cycin lovers. Nih..nih...  baca Kak! Mereka mau kirim makanan buat Kak Cyntia, tapi nggak tahu alamatnya!” jawab Kikan menggebu- gebu menunjukan wa grup teman- teman Cyntia. 


“Ah ya...! Makasih ya” jawab Cyntia mengangguk tersenyum. 


“Lah kamu aja nggak pernah telepon Kakak, buat cerita dan tanya!” jawab Rendra membela diri. 


“Huh! Emang dasar, Kak Rendra mah anak durhaka, gimana Kikan tanya? Kakak sama Umma juga nggak pernah tanya kabar, apalagi ajak main! Untung Ada Bang eh Kak Aslan dan Kak Kia, jadi Kikan bisa kesini!” jawab Kikan bersungut- sungut. 


Cyntia pun ikut mengangguk- angguk dan melirik Rendra dengan tatapan menghina. “Emang bener, selain gesrek, mesum dan saraf, Rendra juga durhaka! Nggak ada nilai plusnya sama sekali,” batin Cyntia. 


“Kakak nggak durhaka Kikan, Kakak sibuk!  Tuh salahin Bang Aslan, yang buat Kak Rendra sibuk dia, mana sempat Kakak main!” jawab Rendra masih terus membela diri. 


“Iya sibuk, sibuk pacaran!” jawab Kikan lagi mencibir. 


Cyntia pun semakin mengeratkan rahangnya dan puas banget ada yang mewakili dirinya menghina Rendra. 


“Pacaran apaan? Kakak sibuk beneran!” jawab Rendra semakin terpojok dihina di depan Umma dan Cyntia. 


“Emang kakak pikir, Kikan bodoh? Kikan kan selalu update isnta story dan uploadan nya Kak Meta. Si pacar kakak itu! Segitu cintanya segala apa dibelikan, sampai lupa sama Umma dan Kikan!” omel Kikan. Meta memang selalu memamerkan barang pembelian Rendra.


“Ehm... ehm...!” Cyntia kemudian berdehem menunduk. 


Sebenarnya Cyntia setuju dengan perkataan Kikan. Sayang, entah kenapa mendengar nama Meta seperti ada sayatan kecil yang menggores Cyntia, tapi Cyntia kan juga sudah tahu sebelumnya perkataan Kikan memang benar.


Cyntia juga dengan mata kepalanya sendiri melihat mereka bercumbu. Lebih dari itu, saat Rendra menjamahnya, menggagahinya, Rendra juga memanggil Cyntia dengan nama Meta. Itulah kenapa Cyntia sangat benci Rendra.  


Rendra pun jadi gelagapan dan merasa tidak senang Kikan menceritakan Meta. Mendengar nama Meta Rendra jadi jijik dengan dirinya sendiri mengingat penghianatan Meta dan ternyata betapa bodoh dirinya selama ini bucin ke Meta. 


“Kakak sibuk beneran kok! Tanya aja Bang Aslan!” jawab Rendra lagi tidak mau bahas Meta. 


"Huh. Bohong! Alasan!" cibir Meta.


“Oh, ya! Mana pacar kamu? Kenapa tidak kamu ajak dan kamu kenalkan pada Umma dan Kikan?” tanya Umma menyela. 


Mendengar pertanyaan Umma tentang pacar Rendra, sayatan di hati Cyntia semakin tajam. Cyntia ikut penasaran apa jawaban Rendra. Cyntia kemudian mengangkat wajahnya menunggu jawaban Rendra. Apa Rendra masih tetap sebucin kemarin terhadap Meta setelah tau Meta berhianat dan setelah Rendra menidurinya.


Cyntia sedikit lega mengetahui Rendra di depan keluarganya mendeklarasikan putus dari Meta, tapi kenapa malam itu Rendra menyebut nama Meta.


“Wuaah putus? Benarkah?” tanya Kikan tidak percaya lalu memeriksa ponselnya dan buru- buru mencari akun instagram selebgram yang dia ikuti itu. 


“Ya benar! Masa bohong? Kita nggak ada hubungan apa- apa lagi!” jawab Rendra. 


“Kok foto kakak belum dihapus? Dia juga statusnya masih sebutin pacar kakak?” jawab Kikan protes dan menunjukan akun instagram Meta. Iyalah Meta kan masih ingin menjaga pamornya jadi foto Rendra belum dihapus. 


“Dia lupa kali, kakak udah putusin dia kok! Nanti kaka bilang suruh hapus!” jawab Rendra lagi. 


“Waaah... jadi kakak jomblo sekarang? Apa udah punya pacar lagi? Harus Kikan umumin nih, kalau kakak udah bukan pacar si Meta lagi, bisa matiin pasaran kakak kan ya?” ucap Kikan kemudian. 


“Pletak!” Rendra menyentil pelipis Kikan. 


“Uuuh sakit!” 


“Anak kecil kepo banget sih, sini hp nya! Nggak usah main instagram mulu makanya. Tugasmu belajar! Nggak kakak kasih uang kuliah nanti kamu!” jawab Rendra kesal ke Kikan. 


“Ye... mantan Kakak aja selebgram, larang- larang Kikan! Oh ya, Kikan beli hp Kikan juga dari Kikan kerja sama Umma, dapet Uang dari Umma. Kikan juga bisa kuliah minta uang ke Kak Aslan! Kak Rendra kan pelit!” jawab Kikan menarik ponselnya. 


“Hsssh!” Rendra pun hanya mendesis.


Cyntia dan Umma hanya bisa menyimak dan tersenyum. Kikan terlihat sangat manja tanpa beban.


“Kalau sama pacar kamu yang kemarin putus, lantas kapan kamu mau cari perempuan lain yang mau diseriusin? Kamu udah tua lho, Nak!” ucap Umma menasehati.


“Ya, tuh! Dengerin apa kata Umma!” sambung Kikan lagi. 


Rendra kemudian diam dan menatap Cyntia lagi. Mereka berada dalam situasi canggung lagi, Cyntia semakin tidak nyaman ada di situ, tapi tanggung kalau mau pergi.


“Ya nanti gampanglah!” jawab Rendra enteng. 


“Huh dasar bujang tua!” celetuk Kikan mencibir.


“Nak Cyntia barangkali punya teman, bisa kenalkan buat anakku yang nakal ini ya, kasian udah berumur!” tutur Umma lembut mengajak Cyntia membuka suara karena daritadi Cyntia diam. Umma dan Kikan taunya Cyntia sudah bersuami, karena awal Cyntia ikut audisi di film yang digarap Satya status Cyntia masih bersuami. Cyntia juga tidak pernah menshare status rumah tangganya.


Cyntia pun jadi gugup dan kaget mendengar pertanyaan Umma. 


“Ah iya... maaf teman Cyntia sudah berpasangan semua!” jawab Cyntia tersenyum, lalu melirik ke Rendra dengan tatapan menghina. “Bukan sudah berpasangan semua, aku tidak ikhlas temanku dijodohkan dengan lelaki gila sepertinya!” batin Cyntia. 


“Iyalah, seusia kak Cyntia dan Kak Rendra kan memang seharusnya udah menikah, Kak Rendra aja yang bodo! Nggak bisa dapetin istri yang bener!” sahut Kikan mengejek sangat puas. 


Cyntia pun dalam hati ikut tertawa tapi dia tahan karena harus jaim ke Umma. 


“Pletak!” Rendra yang tidak terima memukul Kikan lagi. 


“Tuh kan, sama anak kecil aja main pukul gitu, gimana mau dapet istri? Pantes putus mulu!” ejek Kikan lagi. 


“Kakak yang mutusin!” jawab Rendra merasa harga dirinya terinjak.


“Tetep aja Kakak bujang tua! Usia kakak itu udah kepala tiga lebih, anak Kak Aslan aja udah dua tuh mau tiga bentar lagi. Pacaran putus mulu kaya ABG labil! Uh! Bujang tua!” jawab Kikan semakin senang membercandai Rendra. 


Baik ke Aslan ataupun ke Rendra, Kikan memang senang ceplas ceplos dan begitu dekat. 


“Kakak masih muda, masih ganteng kok! Sama teman- teman kamu juga tampangnya pasti mudaan kakak!” jawab Rendra masih dengan sifat narsisnya. 


“Tetep aja, percuma! Ganteng tapi nggak laku! Kak Aslan aja udah nikah 2 kali. Kak Satya udah gede anaknya, Kak Rendra pacar bener aja nggak ada. Wweek!” jawab Kikan lagi mengejek.


“Kakak laku!” jawab Rendra merasa terhina.


“Ya udah buktikan!” 


“Ya liat nanti ya!” jawab Rendra. 


“Tahun ini Kakak nggak nikah? Fiks kakak aku nobatkan sebagai bujang lapuk!” ejek Kikan lagi menantang Rendra membuat Rendra kelabakan dan wajahnya merah padam, karena secara tidak langsung Rendra terhina di depan Cyntia.


“Kikaan!” pekik Umma, Kikan memang selalu suka membercandai orang. “Maaf ya Nak Cyntia, Kikan memang begitu!” ucap Umma merasa tidak nyaman membuat Cyntia jadi penonton. 


“Nggak apa- apa Bu, Kikan lucu, seneng liatnya, saya soalnya nggak punya saudara!” jawab Cyntia tersenyum. Cyntia mah sangat pro Kikan. 


“Ya udah jadi saudara Kikan aja Kak!” sahut Kikan dengan polosnya.