
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda
“Euggh”
Reflek sebagai bentuk respon alami tubuh, karena kekenyangan saat makan Rendra bersendawa.
“Ih, Sayang apaan sih? Jorok deh, sendawanya gitu!” ucap Meta menegur sendawa Rendra.
“Emang ada sendawa bersih Yang? Sendawa ya begini!” tanya Rendra.
“Ya tapi kan nggak sendawa juga kali, Honey!” jawab Meta lagi.
Entah hanya untuk kepentingan pamer foto di media sosialnya, atau sungguhan lapar maksimal. Meta memesan porsi makan sangat banyak, sampai tagihan mencapai 5 juta. Rendra sampai kekenyangan menghabiskannya itu saja masih sisa dessert.
“Sayang...” panggil Meta dengan suara manjanya.
“Hemm” jawab Rendra hanya berdehem sambil memeriksa ponselnya.
“Sayang!” panggil Meta lagi.
“Iya ada apa?”
“Lusa ada pertemuan selebgram, ada artis dan pengusaha juga. Di acara party gitu di tempat artis yang bernama Stevani itu lho!”
“Terus?”
“Sayang bisa temenin aku nggak?”
“Aslan masih di provinsi Y, Sayang. Ada banyak hal yang harus aku urus. Aku nggak bisa kemana- mana!” jawab Rendra.
“Ih Aslan lagi, Aslan lagi!” gerutu Meta kesal.
“Ya gimana, aku dan Aslan tu ibarat satu kesatuan. Kamu tau itu kan, dia saudaraku dia juga bosku, hidup dan matiku bersamanya!”
“Kamu aja yang bodoh. Kamu bisa pergi dari dia dan mendapatkan pekerjaan lain!”
“Nggak bisa gitu dong! Saat aku kesusahan, Aslan yang selalu ada buat aku. Aku tidak mungkin meninggalkanya!”
“Hhhh!” Meta menghela nafasnya kesal.
“Tapi kamu tetap akan punya pekerjaan kan, Yang?” tanya Meta lagi.
“Iya lah. Aslan kan baru nikah punya anak. Ya nggak mungkin dong dia diam diri jadi pengangguran. Makanya, aku mohon ke kamu jaga bicara kamu. Aslan tidak seburuk yang kamu kira!” tutur Rendra merasa sudah melakukan hal benar menasehati pacarnya.
“Hem.... ya gue nggak habis pikir aja. Apa kurangnya Kak Paul, aku aja ingin menjadi sepertinya, tapi malah pilih perempuan udik begitu!” cibir Meta.
“Meta Sayang. Stop! Dia Bu Kia. Mulai sekarang kalau kamu masih ingin bersamaku, panggil dia Kak Kia atau Nyonya Kia, kamu akan jadi saudaranya!”
“Ya ya, ya udah nggak usah bahas mereka, balik lagi ke topik yang tadi!”
“Apa?”
“Acara kak Stevani!”
“Ya udah kamu dateng aja ke sana! Kamu juga punya banyak teman kan?” jawab Rendra enteng.
Meta kemudian memundurkan kursinya dan berpindah ke samping Rendra. Dengan bakat khususnya itu, Meta mendekati Rendra, diraihnya tangan Rendra. Meta kemudian bergelayut di tangan Rendra itu. Rendra diam membiarkanya.
“Sayang, kalau di acara party begitu, teman- teman Meta, bajunya bagus- bagus. Sepatu mereka juga bagus. Apalagi tasnya.” celoteh Meta manja sambil bersandar di Rendra.
“Baju kamu juga bagus- bagus kok. Endorsan kamu juga kayaknya banyak!” jawab Rendra enteng.
“Iiih kok endorse sih, Yang! Ini acara party nya kan Stevani. Nggak semua orang diundang lho. Hanya artis dan selebgram popular macam aku!” jawab Meta lagi merajuk.
Meta melanjutkan aksinya, tangan Meta berpindah. Dengan gerakan berani, tangan Meta mengelus dada Rendra pelan dan penuh penekanan. Meta jelas merayu dan memancing burung Rendra yang sedang tidur.
“Ya terus gimana?” tanya Rendra dengan suara tertahan karena Meta berhasil memancing Rendra.
Tidak berhenti sampai di situ, tangan Meta semakin liar. Tangan Meta turun ke bawah, mengelus bagian tengah atas pangkal paha Rendra.
“Sayang!” panggil Rendra semakin tidak terkendali karena Meta meremas kecil benda yang mulai mengeras di balik resleting celana.
“Aakh” Rendra mulai mendesah keenakan. “Buka aja resletingnya Sayang!” ucap Rendra malah menyambut Meta.
Meta kemudian menatap Rendra intens.
“Di outlet langganan aku lagi ada promo tas terbaru, Sayang!” ucap Meta lagi sambil membuka Resleting Rendra.
“Mang outlet mana?” tanya Rendra dengan suaranya yang mulai tak beraturan karena Meta berhasil membuka ikat pinggang dan reseleting Rendra.
Tanpa diberi tahu dan disuruh, Meta tiba- tiba naik ke pangkuan Rendra. Bahkan Meta mulai membuka kancing dadanya.
Sambil membuka kancingnya Meta menyebutkan nama outlet tas yang diingankan Meta.
“Di outlet hermes, Sayang!” ucap Meta berhasil menampakan buah melonya.
Rendra menelan ludahnya tidak sabar. Saat wajah Rendra maju hendak melahapnya. Meta menyebutkan harganya.
“Murah kok, 200 juta aja!” ucap Meta menyodorkan buah melonya.
“Apa?” Rendra kemudian memundurkan wajahnya kaget dan tidak jadi menyantap melon segar itu.
“200 juta doang, Sayang!” rayu Meta lagi.
Entah karena doa Umma yang sayang pada Rendra. Atau kebaikan Rendra di masalalu, di saat bersamaan, pintu ruang privat itu terbuka dengan paksa.
Saat masuk mereka lupa mengunci pintu. Mereka berdua pikir semua pengunjung kafe orang elit dan cerdas jadi yang namanya ruang privat ketika tertutup berarti tidak boleh dibuka.
“Hooh ...Ups. Sory!” ucap si pembatal misi Meta.
Meta dan Rendra langsung gelagapan mengetahui aksinya dilihat orang lain. Meta buru- buru turun dan merapihkan kancing bajunya. Begitu juga Rendra. Untung Rendra belum lepas- lepas.
“Haish. ****, f*ck you!” gerutu Meta melihat yang masuk adalah si Cyntia.
Rendra menekuk wajahnya, malu, kesal gondok dan pusing bercampur menjadi satu. Nggak di apartemen nggak di kafe, Rendra selalu di gagalkan.
Karena Cyntia dalam rangka berlindung, meski dirinya salah masuk. Cyntia juga tidak menyangka yang ada di ruangan itu tetangga apartemenya. Cyntia tetap berdiri mematung tanpa tahu malu.
“Kau!” pekik Meta.
“Maaf!” ceplos Cyntia polos.
“Lo gila ya!” omel Meta mulai mengajak Cyntia bertengkar.
“Gue kan udah minta maaf, maaf gue ganggu kalian!” ucap Cyntia lagi dengan santainya.
“Lo nggak buta kan? Lo liat dong tulisan di depan. This is privat room. Lo nggak dungu kan? Pergi!” ucap Meta kasar mengusir Cyntia.
Cyntia mengeratkan rahangnya. Sungguh Cyntia juga ingin memaki, tapi demi Kia, demi sahabat yang udah banyak nolong dan ada di saat Cyntia susah. Cyntia memasang muka tembok di depan Meta.
Sebenarnya Cyntia juga muak banget liat Rendra dan Meta si perempuan kegatelan itu yang wajahnya udah oplasan semua. Demi agar tidak ketahuan, Cyntia tidak bergerak sedikitpun.
“Sayang, lihatlah perempuan itu! Dia tetap berdiri di situ!” ucap Meta mengadu menunjuk ke Cyntia. Sementara dari tadi Rendra hanya diam mematung seperti hewa peliharaan yang kelaparan.
Mendengar dorongan dan aduan wanitanya. Rendra bangun dan ikut memaki Cyntia.
“Apa kau mengikutiku?” tanya Rendra dingin.
“Woo? Aku mengikutimu? Amit – amit!” jawab Cyntia.
Cyntia menelan ludahnya kejadian tadi pagi saja cukup membuatnya malu, kenapa sekarang bertemu di situasi semacam ini.
“Apa kau sungguh sejablai ini, sampai kau menguntitku?” tanya Rendra dengan bahasa kasar.
Meta pun tersenyum sinis. Meta merasa menang mendengar Rendra membelanya dan memaki Cyntia.
“Kan benar kan? Pasangan ini selalu saja menghinaku, sehina- hinanya. Padahal yang hina kalian berdua!” batin Cyntia mengepalkan tanganya.
“Aku tidak menguntitmu. Siapa juga yang jablai!” jawab Cyntia membela diri.
“Sebegitu besarkah obsesimu padaku? Sampai kau masuk ke ruang pribadiku? Apa ini namanya kalau bukan menguntit?” tanya Rendra lagi.
“Aku tidak menguntit, aku!” jawab Cyntia tetap menyanggah, tapi belum selesai sudah dipotong.
“Kalau kau menyukaiku, katakan saja nyonya Cyntia. Jelas- jelas kau masuk ke ruanganku, apa ini namanya?” ucap Rendra memojokan Cyntia.
“Aku bukan menguntitmu. Aku sedang, aku!” Cyntia pun terbata, Cyntia tidak mungkin mengatakan misinya di depan Meta. Meta kan ember, followers Meta juga banyak, bahaya. Cyntia kemudian terdiam tdiak bisa menjawab.
“Apa perlu aku carikan gigolo untukmu?” celetuk Meta menambahi.
Kali ini Meta benar- benar menyakiti hati Cyntia. Ibarat kata, Meta sudah menusuk hati Cyntia masih diinjak dan di re*as- re*mas. Sakit benar- benar sakit hinaan Meta.
"Kurang ajar! Kau menghinaku?" batin Cyntia geram.
“Saya prihatin terhadapmu Ny. Cyntia!” ucap Rendra lagi.
“Dasar jablai! Penguntit!” ejek Meta mengimbuhi.
Karena sudah bleng tidak punya jawaban lagi, akal dan otak Cyntia di atas normal kewarasan. Cyntia mengepalkan tangan maju.
Tanpa dikira Meta atau Rendra, dengan tindakan berani dan lebih lihai dari Meta. Cyntia mendekat ke Rendra, mencium bibirnya dengan liar, membuat Rendra syok dan kewalahan. Cyntia menumpahkan emosinya dalam luma*an bibirnya itu.
“Hoh. F8ck you! You are crazy!” teriak Meta panas.
Cyntia kemudian melepaskan ciuman paksannya. Rendra tak berdaya, tapi sebenarnya Rendra cukup terpancing dan mengagumi kepintaran Cyntia.
“Ini kan yang ingin kalian lihat? Puas Lo! Kita lihat siapa yang lebih jablai di antara kita! Cewek plastik!” cibir Cyntia puas mengatai Meta.
Cyntia menatap Rendra tajam. Setelah itu berlalu pergi. Cyntia yakin Nicholas dan Paul sudah keluar.
*****
“Hoh!” Rendra mengelap bibirnya dan mengatur nafasnya.
“Apa kau menikmati ini?” tanya Meta cemburu.
“Hey kamu lihat kan? Dia yang menyerangku!” jawab Rendra membela diri.
“Ya dia memang yang menyerangmu. Tapi kamu tidak menolaknya dan kamu menerimanya!” omel Meta lagi.
“Kemon Baby, ini terjadi sangat cepat. Apa yang kamu katakan? Aku mencintaimu!” ucap Rendra berusaha meredam amarah pacarnya.
“Bohong!” ucap Meta masih merajuk.
“Ya Tuhan. Sayang, sungguh aku tidak menyukainya!” ucap Rendra lagi masih berusaha.
“Realy? Do you love me?” tanya Meta masih sempat mengingat misinya.
“Sayang, kamu sangat tahu, aku mencintaimu, aku siap menikahimu kapanpun kamu mau!” ucap Rendra meyakinkan.
“Belikan aku tas itu!” ucap Meta.
“Hey... hey..., ayolah! Mengertilah posisiku sekarang!” jawab Rendra merasa keberatan jika di masa dia berjuang dia harus menuruti keinginan Meta.
“Tuh kan, katanya kamu cinta ke aku? Bullsyit!” ejek Meta kesal.
“Sayang, pekerjaanku sekarang belum waktunya mendapat bonus seperti dulu, aku belum bisa membelikanmu barang semahal itu! Mengertilah!” ucap Rendra memberi pengertian.
“Oh, ya! Setelah kamu menerima ciuman dari perempuan lain, dan sekarang kamu menolak permintaanku, kamu masih bilang kamu mencintauku? No. Aku tidak percaya. Kamu pembohong dan pembual. I hate you!” ucap Meta tidak tahu malu mengatai Rendra.
Meta mengambil tasnya dan berlenggang pergi.
“Sayang tunggu! Kamu mau kemana?” tanya Rendra meraih tangan Meta mencegahnya pergi.
Meta langsung mengehempaskan tangan Rendra.
“Lepas! Gue mau pulang!” ucap Meta.
“Gue antar!”
“Gue bisa pulang sendiri!” ucap Meta.
Meta sangat kesal, dia sudah berusaha melancarkan misinya, mengorbankan tubuhnya untuk merayu Rendra. Di saat hampir berhasil, malah digagalkan Cyntia.
Sudah begitu Meta harus menyaksikan ciuman panas pacarnya itu dengan mata telanjangnya. Tidak berhenti sampai di situ, ternyata Rendra menolak permintaanya.
Padahal Meta, sudah menyombongkan diri ke teman-temanya. Meta bercerita pacarnya petinggi Nareswara, tangan kanan pewaris perusahaan itu, gaji Rendra sangat tinggi apalagi bonusnya. Membeli tas merek sangat mudah bagi Meta.
“Bren*sek , bre*gsek. Dasar perempuan gila. Gagal semua rencana gue!” ucap Meta frustasi memukul- mukul stir mobil dan mengacak- acak rambutnya.
“Gimana ini? Gue harus pakai tas itu di acara nanti, kalau nggak bisa dibully gue!” gerutu Meta mencari ide.
Setelah mendapatkan ide. Meta kemudian menyalakan mesin mobilnya pergi.
****
Selepas kepergian dua perempuan yang sama- sama aneh dan mengga*rahkan itu Rendra kini sendirian.
“Huh!” Rendra mengacak- acak rambutnya.
Rendra masih merasakan hawa panas akibat ulah Meta dilanjut dengan Cyntia. Entah karena yang terakhir atau emang ada yang lain, apa yang diberikan Cyntia lebih terasa membekas di otak Rendra.
Rendra kemudian meneguk sisa minuman yang dia pesan.
“Gila, apa dia benar- benar menyukaiku?” gumam Rendra malah kepikiran Cyntia.
Otak, Rendra kemudian dipenuhi bayangan setiap pertemuan yang dia ditemui bersama Cyntia. Rendra percaya diri dan yakin sekali, kalau Cyntia selama ini menguntitnya dan menyukainya.
“Haish!” Rendra mengusap wajahnya kasar menghilangkan bayangan Cyntia.
Rendra kemudian mengambil jasnya, pergi dari ruangan itu, membayar tagihan dan menuju ke parkiran mobil, pulang ke apartemenya.
*****
Merasa kepentinganya sudah selesai dan tidak mau berurusan lama- lama dengan Meta, Cyntia langsung ke mobil dan bersiiap pulang.
“Hooh, oOh my God” Cyntia mengipasi wajahnya yang terasa panas dengan tanganya selama di mobil.
Padahal AC mobil kan dingin, kipasan tangan Cyntia juga tidak berasa. Tapi gerakan tangan Cyntia itu sedikit mengurangi keteganganya. Entah bagaimana ceritanya.
“Apa yang gue lakuin tadi, aah bodoh – bodoh. Cyntia lo bodoh!” Cyntia terus merutuki dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan tadi.
Entah kenapa meski Cyntia yang memaksa dan memulainya, tapi Cyntia jelas bisa merasakan kalau Rendra menyambutnya dan membalas pagu*an lidah Cyntia. Saat bertabrakan tadi pagi, Cyntia juga jelas merasakan ada respon dari senjata Rendra.
Seharusnya Cyntia bisa lebih waras dan mengontrol emosinya. Tapi perkataan Meta, membuat Cyntia harus memberikan pelajaran. Apa yang Cyntia lakukan tadi cukup menampar dan menyakiti Meta. Setelah Cyntia sadar lagi, Cyntia menyesali kegilaanya.
“Apa yang akan gue lakukan kalau gue ketemu dia yak? Aah pasti dia akan sangat ke GR an setelah ini!” gumam Cyntia menyesal, ke depan kan Cyntia dan Rendra akan sering berpapasan.
“Gue harus mengindar kalau ketemu dia lagi!” batin Cyntia sambil menyetir dan memegangi bibirnya.
“Hah...!” Cyntia membuang nafasnya mengusir bayangan Rendra