Sang Pangeran

Sang Pangeran
100. Kecewa


Rendra berdiri mengusap kasar rambutnya. Merepotkan ternyata makhluk bernama perempuan itu. Begitu fikirnya saat ini. Tapi, Rendra terlanjur cinta. Pusing juga harus menahan has*at yang dipatahkan. 


“Haish.... kapan gue bisa menikah kalau begini terus?” batin Rendra. 


Melihat Rendra berdiri dengan penampilan berantakan di bawah terik matahari di halaman apartemen mewah itu, Aslan dan Kia kemudian keluar.


Mereka berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan, bukan karena bermusuhan tapi karena Kia menepis tangan Aslan dan merasa belum waktunya. Aslanpun, menghargai itu, toh sebentar lagi tanpa marahan dan paksaan, Aslan akan memiliki Kia seutuhnya.


“Jangan cengeng Bro!” ucap Aslan menepuk bahu Rendra tiba-tiba.


Rendra yang sedang melamun pun langsung mendongakan kepala terkejut. Rendra sampai bingung darimana datangnya Aslan tiba- tiba ada di belakangnya. Dan Rendra semakin malu saat melihat Kia ada di belakang Aslan. 


Rendra pun langsung menggaruk tengkuknya salah tingkah. Andai saja ada jurus menghilang, Rendra mau menghilang saja saat itu, sebab aibnya ketahuan. Bahkan tatapan Kia dan Aslan tertuju pada noda merah di kemeja Rendra.


“Ehm” Kia pun berdehem menundukan kepalanya. 


“Kalian sejak kapan di sini?” bisik Rendra ke Aslan. 


“Dari tadi” 


“Kok nggak keliatan, dimana?” bisik Rendra lagi. 


“Nggaklah, matamu kan dibutakan sama cinta!” jawab Aslan lagi menyindir.


“Hemmm, udah akur nih?” tanya Rendra balik melirik ke Kia yang berdiri menundukan kepalanya malu sambil menggerakan jari- jarinya saling menaut dan menepuk nepuk. 


“Udah dong!” jawab Aslan percaya diri.


“Ya udah yuk masuk, nggak enak berdiri di sini panas!” tutur Rendra mengajak Kia dan Aslan masuk.


Aslan pun menoleh ke Kia. 


“Ayo Yang, masuk!” tutur Aslan mesra dan membiarkan Kia berjalan di depanya 


“Iya Abang” jawab Kia ragu, lalu melangkahkan kakinya berjalan mendahului Aslan.  


“Hoh!” mata Rendra pun melotot mendengar Kia memanggil Aslan, abang. “Wuah!” gumam Rendra menggelengkan kepala melihat dua orang di depanya itu. 


“Kapan merea jadian? Seorang Bu Kia manggil Aslan abang?” batin Rendra menyusul dua sejoli yang baru jadian itu. 


Kia berjalan di depan bak putri yang di kawal dua pria tampan. Aslan sangat menghormati dan menjaga Kia, meski dia pernah kelepasan berbuat senonoh mencuri ciumannya. 


Mereka pun masuk ke lift memencet lantai dimana Rendra tinggal. Setelah beberapa menit, liftpun terbuka. Kia keluar lebih dulu, tapi berhenti,  menampakan wajah polosnya dan nyengir. Kia tidak tahu harus berjalan kemana? 


Aslan pun terpesona dengan senyum polos Kia yang sangat imut. Lugu- lugu menggemaskan, tangan Aslan gatal ingin menoel pipinya, tapi nanti Kia marah, bisa batal nikah. Akhirnya Aslan mengusap kepala Kia yang tertutup hijab. 


“Ngapain berhenti?” 


“Bingung, kan belum tau” jawab Kia. 


“Itu di pojok” jawab Aslan mesra menunjuk pintu apartemen Rendra. 


Rendra berjalan lebih dulu. Dan kini Kia berganti mengekori mereka berjalan paling belakang. Mereka kemudian masuk ke apartemen Rendra. Kia pun melihat sekeliling. 


Tampak luas dan rapih. Lalu mereka menuju ke ruang tengah. Rendra masuk ke dapur mengambilkan minuman untuk tamunya.


Aslan menyuruh Kia duduk di ruang tengah dulu, Aslan hendak masuk ke kamar tempat dia menginap mengambil koper dan hadiah Ipang. 


“Tunggu, abang dulu!” tutur Aslan. 


“Iya” jawab Kia.


Saat Aslan berbalik Kia marik jas Aslan.


“Ehm” Kia berdehem malu. Ternyata di bawah sofa dan di sofa tempat Kia hendak duduk, celana kolor Rendra dan kaos dalamnya masih tertinggal. 


“Kenapa Sayang?” tanya Aslan menoleh ke Kia, mendengar Kia berdehem.


“Thing!” Kia mengedipkan matanya menunjuk ke barang aib Rendra. Mata Aslan pun mengikuti arah kedipan Kia. 


“Haish...” gerutu Aslan. 


“Ndraaa!” panggil Aslan. 


“Ya bos!” jawab Rendra keluar dari dapur membawa 3 botol minuman kemasan.


“Jorok banget sih kamu!” cibir Aslan mengatai Rendra. 


“Jorok apaan?” tanya Rendra belum tau kesalahanya.


“Tuh!" tunjuk Aslan.


"Lo abis angkatan ya?” tanya Aslan menganggap Rendra parah. 


Melihat dua barang memalukanya Rendra buru-buru mengambilnya, dengan membuang muka. 


“Parah Lo, nikah dulu Bro! Hamil baru tau rasa lo, bini lo gitu!” ucap Aslan menasehati.


“Belum sempet, kok! Hamil gimana? Gue nggak kaya kalian kok” jawab Rendra.


Rendra melirik ke Kia, emang Kia dan Aslan sekali ketemu langsung tek dung, Meta dan Rendra kan lebih licik. Kia hanya diam menunduk. Kemudian mereka duduk. Aslan pun menunda ke kamar.


“Lo serius sama perempuan itu? Atau main- main doang?” tanya Aslan peduli.


“Kenapa lo peduli?” jawab Rendra sedikit risih Aslan di depan Kia menanyakan urusan pribadinya apalagi ketahuan berantem.


“Kalau lo mau serius sama dia. Gue cabut dari sini malam ini juga” ucap Aslan ngambek. 


“Kok lo jadi kaya anak kecil gitu? Lo tersinggung sama ucapan Meta?” tanya Rendra. 


“Serius nih aku tanya ke kamu. Kamu cinta sama dia? Kamu yakin mau sama perempuan sundel kaya dia?” tanya Aslan kemudian dengan mimik serius.


“Kok lo ngatain Meta sundel sih?” jawab Rendra tidak terima pacarnya dibilang sundel. 


“Lah dia juga ngatain aku benalu!” jawab Aslan lagi. Aslan memang beneran tersinggung dan marah. Dan saat itu juga Aslan yakin Meta bukan perempuan yang baik.


"Dia hanya butuh dikasih pengertian! Nanti dia akan mengeri kok. Tolong maafkan dia!” jawab Rendra lagi masih membela Meta.


“Sekarang jawab pertanyaanku sekali lagi. Lo cinta sama dia? Lo serius sama dia?” 


“Ya cintalah. Dia kan pacarku, aku juga serius!” jawab Rendra. 


Mendengar jawaban Rendra, Aslan kecewa. Sementara Kia hanya diam menyimak tanpa berkomentar.


Sebenarnya Kia juga menyayangkan kalau Rendra sama Meta. Mending sama Cyntia. Dari tatapannya Kia juga ngrasa mereka berdua ada ketertarikan, eh tapi ternyata cinta Rendra ke Meta.


“Aku vuma ingetin aja. Cari istri jangan kaya dia. Kamu liat Paul, dia bagus cashingnya doang! Dan aku yakin Meta bukan perempuan baik-baik” ucap Aslan menasehati Rendra. 


“Aku kenal Meta kok! Aku cinta sama dia, kamu nggak usah khawatir, ” jawab Rendra masih membela pacarnya. 


“Oke, terserah kamu. Kalau gitu malam ini aku pulang ke rumah papa aja, makasih udah msnampungku” ucap Aslan akhirnya.


“Tolong jangan marah. Omongan Meta jangan diambil hati!" ucap Rendra lagi merasa tidak enak. Ternyata Aslan dengar semuanya.


"Aku emang mau ketemu Papah. Dia juga menyuruhku berkunjung"


"Maaf ya"


“Nggak ada yang perlu dimaafin. Aku malah kasian sama kamu” ucap Aslan menohok.


“Kasian gimana?” tanya Rendra tidak sadar.  Karena Rendra sudah salah memilih pacar.


“Ya kamu, penyakit bodoh dipelihara. Udahlah pusing ngomong sama kamu” ucap Aslan kecewa. Aslan kemudian masuk dan mengambil kopernya. 


"Gue bodoh?" gumam Rendra sendiri. Tapi karena Rendra tau sifat Aslan suka bicara kasar Rendea tidak ambil pikir dan merasa dirinya masih benar.


“Ayo, Sayang kita pergi!” ucap Aslan mengajak Kia pergi.


"Ayo"


“Aslan, sory ya!” 


“Gue nggak marah kok, santai aja!” ucap Aslan tersenyum getir.


Lalu Aslan dan Kia pergi dari apartemen Rendra. 


“Aku bantu bawa Bang” ucap Kia. 


“Nggak usah” jawab Aslan.


Aslan kini mulai membiasakan membawa barangnya sendiri. Tanpa pelayan atau pengawal. Dan saat bersama Kia, Aslan lah yang harus mengalah dan melindungi. Mereka pun berjalan keluar.


"Biar mobilmu di sini dulu ya. Ke Pangeran pake mobilku" ucap Aslan mengajak Kia memakai mobil mewahnya saja.


Kia mengangguk setuju.


“Maaf ya!” ucap Kia tiba- tiba saat mereka berada di mobil.


“Kenapa minta maaf Sayang?”


“Demi aku dan Ipang, kamu jadi begini," ucap Kia lirih. Kini Kia tidak galak lagi, dan benar-benar simpati dan kasian ke Aslan. Kia juga terharu, dibalik sifat nyebelin, ternyata ada sisi menyedihkan dari Aslan.


“Ini bukan tentangmu atau tentang Pangeran. Bukanya kamu sendiri yang bilang, justru aku yang bodoh kalau tetap berada di posisiku sebelumnya? Benarkan?” 


“He...maaf”


“Kamu sendiri juga kan yang bilang, kita akan bahagia, nggak usah khawatir. Kamu percaya itu kan?!” 


“Terima kasih” jawab Kia sendu. Entah kenapa mereka berdua tiba-tiba melow. Aslan kemudian menatap Kia dalam dan mengelus kepala Kia lembut.


“Aku hanya khawatir dan tidak habis pikir dengan jawaban Rendra” ucap Aslan lagi. 


“Apa kamu marah pada pilihanya?” 


“Aku kecewa, hah yasudahlah, biar saja dia berfikir, aku berharap dia segera menyadari kesalahanya, mungkin sekarang dia sedang dimabuk cinta," ucap Aslan lagi.


“Hemmm, ya, kita tidak boleh ikut campur terlalu jauh.”


"Oke pakai sheat belt mu!" ucap Aslan ke Kia mereka akan segera berangkat menjenguk Ipang.


“Terus setelah ini Abang mau gimana?” tanya Kia menatap Aslan dengan penuh perhatian dan cinta.


“Gimana apanya?” jawab Aslan santai.


“Mau tinggal dimana?” tanya Kia. 


“Gampang!” jawab Aslan enteng.


“Gampang gimana?” tanya Kia khawatir Aslan akan tinggal dimana.


"Ya gampang. Apa kamu mengkhawatirkanku?"


"Ya Abang kan sekarang nggak punya rumah, terus mau tinggal dimana?"


“Hehe," Aslan malah tertawa menertawai Kia yang mengkhawatirkanya.


"Kok ketawa?" tanya Kia tersinggung.


"Apa kamu mau menawariku tidur di rumahmu? Bolehkah?” ledek Aslan dengan tatapan mesranya ke Kia.


“Ehm" Kia berdehem, tapi maksud Kia memang itu.


"Ya kalau Abang mau.” jawab Kia ragu.


“Sungguh?” ledek Aslan lagi.


“Itu kan rumah Abang.” ucap Kia lagi merasa Kia tidak bekerja keras dan hanya menerima pemberian laki-laki di sampingnya itu.


“Itu rumah Pangeran.” jawab Aslan kemudian. Aslan merasa barang yang sudah diberikan ke orang bukan punya dia lagi.


“Kamu kan ayahnya.” jawab Kia lagi.


“Jadi? Aku boleh menginap?” 


“Kalau Abang mau. Abang bisa tidur di lantai atas” ucap Kia lagi.


“Hehe nggak sayang. Abang takut khilaf kalau tidur satu atap denganmu. Abang akan sabar menanti waktu itu, baru kita tinggal satu rumah.” jawab Aslan dewasa dan kembali membuat Kia tertegun.


Kia pun menjadi malu, mengajak Aslan menginap. Kia tidak menyangka orang semenyebalkan Aslan ternyata dengan jujur menolak ajakan Kia dengan jawaban seperti itu. Dan hati Kia semakin mengembang mengeluarkan love- love banyak sekali.


“Terus Abang tinggal dimana?” tanya Kia lagi.


“Papa mau ketemu, Abang pulang ke rumah Papa?” jawab Aslan.


“Oh." Kia mengangguk tenang.


“Kamu mau ikut?” tanya Aslan lagi.


“Aku?”


“Iya, kita ke Ipang setelah itu temui orang tuaku!”