Sang Pangeran

Sang Pangeran
198.Dibuka semua


"Gue kan udah mandi tadi? Ngapain mandi lagi yaak? Huuuf!"


Begitu masuk kamar Kia melempar tasnya dan mencuci mukanya. Meski pamit pada putranyana hendak mandi nyatanya Kia sudah mandi. Kia lama di kamar mandi hanya berdiri menatap cermin dan melamun.


Kia kira suaminya akan menyusulnya, tapi lama Kia di kamar mandi tak kunjung terdengar suara langkah seseorang masuk ke kamarnya.


"Salah nggak sih aku marah sama Bang Aslan? Huuft, bodo amat gue mau diemin dia!" batin Kia ke kamarnya.


Kia berjalan ke tempat ganti pakaian. Kia celingukan mengira suaminya akan masuk dan memeluknya dari belakang seperti sebelumnya sampai Kia menutup pintunya, tapi sampai Kia selesai berganti pakaian tidak juga ada suara langkah seseorang masuk.


"Hhhh.." Kia pun hanya menghela nafasnya.


Kia kemudian memilih merebahkan diri kasurnya. Kia yakin Aslan sedang bersama Pangeran. Kia malas bertemu dengan suaminya itu, dia pun merebahkan diri sampai tertidur.


****


Setelah menghubungi anak buahnya Aslan bersiap pergi keluar. Aslan sebenarnya ingin pamit ke istrinya tapi Aslan ragu dan pikiranya masih kacau. Aslan takut ditolak istrinya lagi.


Sejujurnya, melihat Kia marah- marah dan menangis adalah hal yang paling menyakitkan buat Aslan. Prioritas Aslan sekarang adalah senyum Kia, membahagiakan Kia.


Aslan berjalan perlahan keluar dari ruang kerjanya. Di ruang tengah Pangeran terlihat sedang bermain dengan Mbok Mina karena Fatimah dan Radit pergi jalan- jalan lagi.


"Kok berdua aja, Nak? Yang lain kemana? Ibu kemana?" tanya Aslan ke Pangeran.


"Ummi Fatimah sama Om Radit katanya mau belanja. Ibu masih di kamar!" jawab Pangeran polos.


"Apa ibu belum keluar kamar dari tadi?" tanya Aslan pelan sambil melirik arah kamarnya yang sepi dan terlihat dari kejauhan pintunya tertutup.


"Belum Yah!" jawab Pangeran menatap ayahnya dengan seksama.


Aslan menelan ludahnya, ada rasa gelisah yang datang menyeruak memenuhi dadanya. "Kia sangat marah padaku, tunggu Abang Sayang! Abang akan lakukan apa yang kamu mau," batin Aslan merasa sangat sakit dicueki istrinya.


"Ya udah, Ayah kerja dulu ya!" pamit Aslan ke Pangeran.


"Ayah mau pergi lagi?" tanya Pangeran dengan sorot mata kecewanya.


"Ayah harus kerja, Nak. Ayah juga harus siapin acara pesta ayah dan ibu besok! Kamu mau ibu dan ayah terus bersama kan?" jawab Aslan tersenyum pada Pangeran.


"Hemm padahal Ipang mau ajak ayah main, Ipang dibelikan mainan sama Om Radit!" jawab Pangeran


"Oh ya? Apa itu?" tanya Aslan.


Pangeran kemudian menunjukan peraga wayang orang kecil- kecil. Radit tahu dulu di kampung, Pangeran suka bercerita. Benar saja, Pangeran sangat suka mendapatkan hadiah wayang kecil itu, meski hanya ada 4 tokoh.


Aslan tersenyum mengusap puncak kepala putranya, dan menciumnya. Sebenarnya Aslan juga ingin melepas dasi yang begitu mencekiknya. Aslan ingin memakai kaos longgar dan nyaman. Aslan juga mau bersantai bersama anak dan istrinya, tertawa bahagia menikmati masakan rumah sehat yang dibuat oleh tangan cantik sang istri dan penuh cinta, pasti menyenangkan.


"Huuuuft!" Sayangnya, ternyata PR Aslan masih banyak.


"Maaf ya! Ayah harus kerja dulu! Ayah janji kalau ayah libur, ayah temani Pangeran main. Ayah juga mau dengarkan cerita Pangeran!" jawab Aslan ke Pangeran.


"Janji ya Ayah!"


"Tapi kapan liburnya?" tanya Pangeran lagi.


"Setelah resepsi, ibu dan ayah ya!" jawab Aslan lagi.


"Oke!"


"Ya udah Ayah pergi!" pamit Aslan.


"Ya Ayah!"


"Titip Pangeran ya Mbok!"ucap Aslan ke Mbok Mina karena yang menemai Pangeran hanya Mbok Mina.


" Ya Tuan!" jawab Mbok Mina.


Aslan pun pergi meninggalkan rumah tanpa pamit ke Kia. Agenda Aslan hari ini, pagi ke kantor barunya dan memeriksa beberapa proses produksi prodak bisnis barunya. Setelah semuanya selesai, Aslan akan menemui seseorang yang menjadi kunci permasalahan Alena.


Sementara untuk konferensi Pers, Aslan menyerahkan ke Rendra sebagai wakilnya. Rendra membawa surat resmi dari Aslan, sebagai sekertaris yang diberi hak penuh untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan kegadugan yang terjadi.


****


Jika hari- hari lalu Rendra menghindari media yang mencari Aslan ke kantornya, siang ini Rendra yang mengkoordinir karyawan untuk mengundang para awak media itu.


Di sebuah aula megah di kantor yang belum lama Aslan beli, para pekerja yang di lehernya menggantung id card dan beberapa alat perekam mulai memadati ruangan itu. Di meja panjang dan bersih,beberapa alat perekam juga berjejer membentuk setengah lingkaran bersiap menampung suara, yang berisikan kebenaran.


Mereka semua sudah tidak sabar, mendengarkan penuturan dari Tuan Aslan yang terkenal sangat dingin dan tampan itu. Mereka juga yakin apa yang akan mereka dengarkan dan rekam, akan jadi berita utama yang dicari dan ditunggu- tunggu.


Tepat pukul 13.30 mobil sport besar mengkilat dan gagah terparkir di depan aula itu. Semua orang pun menolehnya.


Seorang pria yang bertubuh tinggi tegap dengan stelan jas hitamnya keluar dengan tatapan lurus dan muka tanpa ekspresi, menyiratkan hanya orang tertentu yang bisa mengenalinya.


Semua orang menerka orang itu sangat berkelas dan berwibawa. Tidak ada yang mengira dibalik tatapan lurusnya itu, dia seorang yang sangat bodoh bahkan dianggap syaraf oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Rendra.


Beberapa karyawan kemudian mendengus kesal. Yang mereka tunggu kan subjek utama,Tuan Aslan. Kenapa yang datang hanya Tuan Rendra sang sekertaris. Tapi dengusan mereka tidak lama, toh Rendra sama- sama tampan.


Mereka pun semangat lagi, meliput berita demi bisa mendapatkan cuan dan memenuhi kewajiban karirnya, toh Pak Rendra Permadi Handoyo adalah orang kepercayaan Tuan Aslan nomer satu.


Rendra berdiri tegap menghadap ke kamera dan semua wartawan. Dimùlai dengan salam, tanpa banyak bosa basi Rendra langsung menyampaikan niatnya. Bahkan Rendra langsung membawa berkas- berkas bukti, tanpa banyak bernarasi.


"Ini bukti berkas perceraian dari Tuan Aslan dan Nyonya Paulina Abigail. Kalian bisa lihat kapan tanggalnya, ini visa dan tiket keberangkatanya. Tuan Aslan meninggalkan rumah Nyonya Paulina ke negara Jepang, Turki, Belanda, New Zealand dan Italia, selama kurang lebih tiga bulan. Ini buktinya, di sini ada beberapa foto perjalanan bisnis Tuan Aslan dan kegiatanya. Semua berkas dan tiker penerbangan juga lengkap. Jadi jelas, selama 3 bulan lebih dan selama proses perceraian, Tuan Aslan dan Nyonya Paulina tidak ada kontak, sudah bercerai secara agama!"


"Sementara di sini dari hasil pemeriksaan kehamilan Nyonya Paulina yang beliau unggah sendiri dari keterangan dokter yang memeriksanya, usia kehamilan baru berusia kurang dari 10 minggu, sudah jelas bukan? Anak yang dikandung Nyonya Paulina bukan anak Tuan Aslan!" ucap Rendra tegas.


"Mengenai Nyonya Kiara Arsyila, beliau tercatat menjadi karyawan Nareswara di tanggal ini.....2022, dia mengajukan karyanya sebagai peserta lomba beralamatkan dari kota Y, dan menggunakan internet, pengumuman pemenang naskah dilakukan oleh tim Nareswara yang dipimpin Bu Rossa pada tanggal .....22. Selama 7 tahun Nyonya Kiara tidak pernah berhubungan dengan Tuan Aslan meski dulu mereka pernah bersama. Di sini saya jelaskan, tidak ada keterkaitan Nyonya Kiara terhadap perceraian Tuan Aslan dan mundurnya Tuan Aslan dari Nareswara"


"Tuan Nareswara mundur bukan atas gugatan harta gonogini, atau ada upaya perebutan kekuasan karena hasutan Nyonya Kia, tapi karena perjanjian pra nikah yang dilakukan oleh Tuan Agung Nareswara, ini dia surat perjanjian mereka yang ditandatangani 7 tahun lalu. Saya tegaskan lagi semua yang dikatakan Nyonya Paulina adalah Bohong!"


"Sekali lagi. Tidak ada keterkaitan antara Bu Kia dengan perusahaan Nareswara. Alasan perceraian Tuan Aslan dan Bu Paulina juga sudah cukup jelas dikemukakan di pengadilan agama beserta bukti- buktinya. Kepada pihak Bu Paulina, jika keberatan dengan pernyataan kami, dan jika anda masih menyeret Nyonya Kiara Arsyila, mari bertemu kami di kantor polisi, lagi. Kita tempuh dengan jalur hukum. Perlua rekan- rekan ketahui, kami mempunyai bukti tes DNA, tidak ada kecocokan antara Tuan Aslan dan Nona Alena! Jadi bisa disimpulkan di sini, siapa yang berkhianat terhadap pernikahan mereka!"