
“Sial! Ngapain istri Aslan dan si Cyntia ada di sekitar Villa ngedeketin istri gue?” batin Nicholas panic.
“Nggak, ini pasti hanya kebetulan! Cyntia hanya kebetulan mampir di kafe!” batin Nicholas meredam kecutigaanya.
Nicholas kemudian mengencangkan laju mobilnya. Dari pagi Paulina terus menghubunginya tiada henti. Nicholas pun mulai risih dengan keposesifan Paulina yang mulai mengusik kehidupanya.
Hanya saja, Nicholas sekarang habis kontrak syutingnya. Padahal Nicholas uang nya baru saja dia habiskan untuk membeli Villa sebagai kado ulang tahun Dokter Lena. Itulah sebabnya Dokter Lena jadi ragu terhadap bukti Cyntia, antara percayaa dan tidak percaya.
Ya, Nicholas memang begitu takut kehilangan Lena dan mencintainya. Sayangnya cara Nicholas salah, Nicholas memberdayai Paulina demi bisa terpandang dan dianggap baik oleh mertuanya. Karena mertua dan keluarga Lena orang ningrat yang memandang rendah Nicholas. Entah apa sebabnya sejak awal Lena berpacaran dengan Nicholas keluarga Maghdalena menentangnya.
Apalagi saat Nicholas tau Paul memimpin Nareswara. Nicholas jadi semakin gencar memeras Paul dengan janji palsunya.
Jadi sekarang saat Paul memanggilnya, Nicholas langsung tancap gas menghampiri Paul. Setelah itu Nicholas minta uang ke Paul lagi.
****
Paul yang tubuhnya lemah karena kehamilannya, sesampai di rumahnya langsung ambruk di kasur dan merebahkan badanya. Dia juga langsung menyambar obatnya.
“Mommy!” panggil Aleena bahagia melihat mommynya pulang.
“Jangan ganggu Mommy, Mommy pusing! Mommy mau istirahat!” jawab Paul ketus ke Alena dan menghentikan langkah Alena yang hendak memeluk Paulina karena rindu.
“Mommy!” lirih Alena kecewa.
“Denger nggak! Mommy capek! Sana main di luar dulu!” usir Paul masih dengan nada tinggi, mungkin karena hormone kehamilan Paulina jadi sensitive, atau memang sifatnya.
Dibentak Ibu yang dirindukanya, Alena kembali hancur hatinya. Alena kemudiaan terdiam dan meneteskan air matanya lagi dengan langkah mundur menjauhi kamar ibunya.
Di saat Alena keluar dari pintu kamar ibunya, Nicholas datang. Nicholas yang selamaa Alena di karantina biasa datang ke rumah itu, kini pun masuk dengan leluasa. Nicholas langsung bergegas masuk ke kamar Paulina.
Bahkan Nicholas melewati Alena tanpa peduli dan menyapa.
“Siapa Om itu? Kenapa masuk ke kamar Mommy?” batin Alena pintar dan curiga.
Alena yang tadi berniat balik ke kamar kemudian berjalan ke kamar Mommynya lagi dan mengintip karena penasaran.
“Akhirnya kamu datang juga?” ucap Paulina menyambut Nicholas.
“Apa yang terjadi honey? Bukankah sudah kubilang, aku akan menemuimu, jika acaraku sudah selesai,” jawab Nicholas kembali membuat kebohongan.
“Kepalaku sangat sakit, perutku juga nggak enak, anakmu merindukanmu! Mana janjimu!” ucap Paul ke Nicholas.
Mereka berdua duduk di ranjang Paulina.
“Begitukah? I am sorry Baby!” tanya Nicholas mendekat ke Paulina kemudian mengelus perut Paulina lembut.
****
Alena yang mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka langsung menutup mulutya rapat.
“Apa? Anak? Apa Mommy hamil lagi?” batin Alena pintar.
Alena kemudian kembali mengintip Mommynya.
Mommynya tampak membelakangi Nicholas. Menggulung rambutnya ke samping dan membiarkan Nicholas memijit kepala Paulina lembut. Nicholas pun memijitnya sambil sesekali menciumya.
Alena dipaksa melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat. Alena juga mendengar sesuatu yang sehasrusnya tidak dia dengar.
“Aku sudah memenuhi permintaanmu, aku sudah beritahukan ke semua orang, anak ini anak Aslan!” ucap Paul di sela- sela menikmati pijitan Nicholas.
“Bagus, Sayang!” jawab Nicholas.
“Apa sekarang sudah baikan?” tanya Nicholas lagi sambil memeluk tubuh Paulina
“Anakmu akan baik- baik saja jika Daddynya selalu di sampingnya!” jawab Paulina manja.
Nicholas tidak menyiakan kesempatan mendengar ucapan Paul. Nicholas memutar tubuh Paulina agar menghadap ke arahnya, lalu Nicholas melahap bibir Paul lembut. Paul pun membalasanya sehingga mereka berdua saling terpaut, bahkan lama- lama menjadi berlanjut.
Tentu saja semua itu masih dalam pengawasan mata Alena. Si gadis malang, yang dulunya ceria, kini berdiri dengan tubuh gemetaran dan derai air mata.
“No Mommy!” lirih Alena.
Alena pun tidak tahan melihat perlakuan bejat Mommynya. Alena kemudian berlari ke kamarnya. Alena menghamburkan dirinya ke kasur menangis sendirian.
Jika dulu saat Alena menangis karena melihat Daddy dan Mommynya bertengkar, ada Mbok Mina yang menghiburnya. Kini Alena sendirian, Alena tidak kena dengan pengasuh barunya.
“Siapa Om itu?” batin Alena berfikir.
Alena jadi mengerti sekarang kenapa Daddynya pergi dari rumahnya. Alena juga yakin Daddynya juga tahu kalau Mommynya bersama pria lain.
Alena kemudian ingat semua racun- racun kebohongan yang Paulina taburkan pada memory Alena. Kini Alena yang tumbuh besar dan pintar jadi mengerti.
“Mommy bohong! Mommy jahat! Mommy bohong!” batin Alena sangat terluka mengingat janji- janji Mommynya yang dulu.
“Alena benci Mommy!” batin Alen lagi.
Setelah semalaman Alena menangis sesenggukan karena mengetahui Aslan bukan Daddynya, kini Alena kembali menangis sesenggukan melihat sesuatu yang seharusnya tak dilihat anak seusianya.
Emosi Alena jadi tak terkendali sehingga Alenamembanting semua yang ada di kamarnya. Apa yang ada di pandanganya dia lempar secara membabi buta. Bahkan cermin yang ada di kamarnya dia lempar dengan pialaa dan plakatnya ikut beberapa event lomba menyanyi.
Prang Alena menangis sejadi- jadinya melampiaskan kesakitanya.
Baby Sister barunyaa pun kaget mendengarnya, mereka kemudian mndekat ke kamar Alena. Sayangnya mereka syok melihat Alena yang sngat kacau.
“Non…Non Aleana kenapa?” tanya Baby Sister Alena lembut hendak menenangkan.
“Huaa …. Huaaa !” Alena malah teriak semakin kencang dan tantrum.
Para asisten rumah tangga Paul saling berbisik dan berinisiatif memanggil Paul. Salah satu dari mereka kemudian mengetuk pintu kamar Paul.
Di dalam rupanyaa sedang ada pergulatan panas yang tidak mau dihentikan. Paulina dan Nicholas yang sedang saling melepaskan gaaairahdan amarahnya merasa sangat terganggu mendengar ketukan pintu.
“Shiiiittt!!” umpat Nicholas geram di tengah aktifitasnya. Nicholas terpaksa menghentikan hentakanya yang baru saja dia mulai.
“Aada apa Mbak?” tanya Paul dari dalam.
“Non Alena Nyonya!”
“Alena kenapa?” tanya Paul. Paulina masih dalam posisi terlentang tanpa bpakaian sehelai benang pun dan Nicholas duduk dengan keadaan yang sama.
Sementara Alena di kamarnya menangis tanpa kendali, meraung mengungkapkapkan kemarahan yang tidak bias dijabarkan anak seusianya.
Bahkan tangan Alena mulai berdarah karena Alena terus mengobrak abrin dan memukul sesuatu yang ada di dkekatnya.
“Pokoknya, Nyonya harus lihat. Non Alena ngamuk Nyonya!” ucap asisten rumah tangga Paulina terbata dan sedikit kesal. Ibu macam Paulina, bukanya buru- buru bangun dan melihat anaknya.
Nicholas mendengus sangat kesal karena pedangnya masih berdiri tegak tapi harus di lepas dari sarangnya.
“Urus anakmu dulu!” ucap Nicholas.
“Oke!” jawab Paulina bangun memunguti pakaianya .
“Aku akan menyusul, pergilah!” jawab Paulia masih dari dalam kamar.
Asisten rumah tangga Paul pun hanya bias mengernyitkan matanya sedikit bingung. “Aku akan menyusul? Tidak kahawatirkan dia terhadap anaknya? Hoh tidak bias dipercaya?” batin asisten rumah tangga Paul.
“Non jangan lakukan itu, Non, nanti tangan non terluka!” tegur asisten rumah tangga Paulina Karena Alena terlihat memegang pecahanbotol parfum dan Alena tampak menusuk- nusukn ke kasur.
Alena benar- benaar di luar kesadaran. Keyataan tentang orang tuanya benar- benar menorehkan luka yang amat sangat dan tak tekendali. Mengeraskan hatinya, membuatnya haus akan emosi dan inginn terusa dia puaska dengan berteriak dan menghancurkan segala apa yang ada di dekatnya . Mengeruk batinya dengan luka yang menganga.
“Alena. What are you doing!” bentak Paul kasar melihat keadaan anaknya dan kamarnya sangat kacau.
Baik Alena dan asisten rumah tangganya saling diam mendengar bentakan Paul.