
Jika sudah menyangkut tentang anak. Ibu dan ayah dimanapun akan menjadi kompak dan padu.
Tidak peduli apa arti Kia untuk Aslan, dan apa arti Aslan untuk Kia. Mereka berdua tampak rukun seperti layaknya pasangan.
Ini pertama kalinya Aslan merasa sangat panik dan merasa bersalah. Tapi sebagai laki-laki, Aslan menyembunyikan perasaanya. Aslan harus memasang badan untuk tetap tegar dan tenang di hadapan anaknya.
Kia dan Aslan membawa Ipang keluar dari ruang periksa. Ipang berada dalam gendongan Aslan. Bertumpu pada tubuh tinggi kekar ayahnya yang hangat dan dia rindukan, Ipang terlihat tidur sangat nyaman di pundak Aslan
"Antarkan kami pulang Tuan" ucap Kia lirih setelah sampai parkiran.
Kia merasa tidak nyaman berdekatan dengan Aslan.
"Pulang kemana?" tanya Aslan.
"Tentu saja ke kontrakan kami, kalau tidak mau, biarkan kami pulang sendiri, anda kan harus bekerja" ucap Kia.
Kia menatap pilu melihat Ipang begitu dekat dengan Aslan. Sesungguhnya bukan karena Kia membenci Aslan. Kia justru ternyuh dengan kenyataan di depanya.
Kia tau, Ipang memang butuh ayah. Tapi Kia sadar siapa dirinya, siapa Aslan. Bagaiamana posisi Kia, dan bagaimana status Aslan. Kia tidak ingin menempatkan anaknya dalam masalah.
"Kamu yakin terhadap apa yang kamu katakan?" tanya Aslan menatap dingin ke Kia.
"Yakin" jawab Kia.
Kia menelan salivanya dan mengulum bibirnya sendiri. Membawa Ipang pulang, kemudian secepatnya meninggalkan ibu kota. Itu jalan terbaik.
"Biarkan kami pulang, berikan Ipang ke saya" ucap Kia membuka tanganya siap menggendong Ipang.
"Ck. Ibu macam apa kamu ini? Egois banget" decak Aslan mengejek Kia.
"Hah! Apa anda bilang?" tanya Kia tersinggung perkataan Aslan terdengar mengatainya.
"Kau tidak dengar apa kata dokter tadi? Ipang harus hilangin trauma ke air, apa kau tau apa yang Ipang inginkan?" tanya Aslan.
"Hhh" Kia menghela nafas.
Lalu Kia menatap Aslan kesal lagi. Merasa diremehkan sebagai ibu. Kia kan yang sudah merawat Ipang bertahun-tahun. Kenapa Aslan yang baru sehari bersamanya sok-sokan mengatainya.
"Justru karena itu, saya tau yang terbaik untuknya. Lebih baik Ipang pulang ke rumah, berikan Ipang ke saya" jawab Kia.
"Kia, Kia" ucap Aslan dewasa menatap ke Kia intens.
"Ehm" Kia berdehem salah tingkah ditatap Aslan.
"Kenapa jantung gue dheg-dhegan gini sih diitatap Singa gila ini" batin Kia.
"Di usia Ipang sekarag dia butuh teman. Dia butuh berkembang dan bersosialisasi. Dia harus kembali ke asrama!" jawab Aslan tegas.
"Tau apa anda tentang Ipang? Anda kan tidak bersamanya selama ini" jawab Kia lagi.
"Sudah kau diam saja. Biarkan dia berteman dengan Daffa" tutur Aslan lagi.
"Daffa?" tanya Kia tidak tahu apa hubunganya dengan Daffa.
Sementara Aslan memang ingin mereka berdua dekat dan bersahabat. Malah sampai tua, mereka berdua kan yang akan menjadi pewaris Nareswara.
"Tidak ada bantahan! Ini keputusanku!" ucap Aslan lagi memberi perintah.
"Hoh" Kia hanya terbengong kesal.
Kia diam, Aslan bukan orang yang mudah dipatahkan sepertinya, Aslan juga tidak boleh curiga kalau Kia mau kabur. Kia harus beralasan lagi.
"Tapi kalau dia main lagi di kolam itu gimana?" tanya Kia asal mencari alasan.
"Ck. Kia, Ipang anak laki-laki, hanya karena dia pernah kecelakaan jangan lantas membuatnya takut dan pobia" tutur Aslan menasehati.
"Maksud anda? Jadi anda ingin Ipang kembali ke karantina terus bermain air dan tenggelam lagi?" tanya Kia.
"Haishhh. Kamu benar-benar bodoh ternyata" ejek Aslan lagi. Lalu membuka mobil dan mengacuhkan Kia.
"Wuaa? Hah dia mengataiku lagi? Aku bodoh? Egois? Bagaimana dia bisa mengataiku begitu? Benar-benar menyebalkan. Dasar Singa gila" batin Kia geram menatap Aslan.
Kia kemudian menyusul Aslan ke mobil.
"Apa maksud perkataan Anda?" tanya Kia masih tidak terima.
"Pelankan suaramu, nanti anak kita bangun. Biarkan dia tidur" jawab Aslan tidak mennggapi.
"Berikan Ipang padaku. Biar dia tidur di pangkuanku" ucap Kia dari tadi dicueki Ipang.
"Masuk!" perintah Aslan menunjuk mobil depan tidak memperdulikan pertanyaan Kia.
Kia diam dengan gerakan mata menanyakan? Kalau masuk memang mau kemana?
"Denger Nggak? Masuk!" ucap Aslan lagi.
"Iya. Tapi kita mau kemana?" tanya Kia.
"Siapkan bantal buat Ipang, nggak usah banyak tanya"
"Ipang biar saya pangku saja!" jawab Kia
"Ya sudah. Masuk! Duduklah!"
Kia kemudian duduk di mobil, pelan-pelan Aslan menyerahkan Ipang ke Kia. Sehingga mereka berhadapan sangat dekat. Tangan Aslan juga sempat menyentuh tangan Kia.
Sesaat tatapan mata mereka saling terpaut. Kia terdiam dan gugup, jantungnya terus berdegup kencang.
Tatapan itu, tatapan hangat Aslan yang tidak pernah Kia dapatkan. Tatapan mata biru Aslan yang menghunjam hati kia. Aslan membaringkan Ipang dengan lembut ke pangkuan Kia.
"Ehm"
Kia tersadar dan mengalihkan pandangan.
"Ingat Kia, dia suami orang" batin Kia dalam hati.
"Pegang kepalanya baik-baik, jangan sampai terbangun" tutur Aslan menasehati.
"Iya tau!" jawab Kia.
"Kalau tanganmu pegal bilang saja"
"Anak kita" jawab Aslan lagi. Lalu Aslan mengangkat tubuhnya melewati Kia.
Kia kembali dheg-dhegan saat Aslan berada di depanya sangat dekat.
"Dia mau apa?" batin Kia gugup menelan ludahnya dan kege_eran.
Ternyata Aslan menutup pintu mobil ulang karena Kia tidak menutup rapat. Setelah itu Aslan memakaikan sabuk pengaman ke Kia. Kia benar-benar dibuat mati kutu dengan sikap hangat Aslan.
"Kita pergi sekarang" ucap Aslan
"Iya. Tapi kita mau kemana?" tanya Kia.
"Ikut saja!" jawab Aslan melajukan mobil.
Aslan dan Kia terdiam beberapa saat. Mereka pergi bersama seperti layaknya keluarga. Ayah ibu dan anak.
Entah kemana tujuan Aslan. Tapi Kia tau pasti. Mereka tidak menuju ke hotel tempat karantina. Mereka juga bukan datang ke kontrakan Kia.
Sesekalai Kia membetulkan posisi tidur Ipang. Sesekali juga Kia menatap Aslan yang fokus menyetir. Ada banyak tanya di hatinya, laki-laki seperti apa sebenarnya, ayah Ipang ini.
"Sadar Kia, sadar, aku tidak akan bisa menggapainya" batin Kia lagi menatap ke depan.
"Eeemmpt Ibu" Ipang kemudian menggeliat dan terbangun.
"Sayang, kamu bangun?" tanya Kia ke Ipang sambil mengelus kepalanya.
Ipang hanya mendongak dan menguap. Lalu Ipang menoleh ke samping.
"Ayah" panggil Ipang lagi senang melihat ayahnya di sampingnya.
"Iya jagoan, kemarilah, duduk sama Ayah. Ibumu lama memangkumu, sepertinya dia cukup pegal" ucap Aslan hangat.
"Iya, Ayah" jawab Ipang lalu beringsut duduk di pangkuan Aslan.
"Jangan pegang setir ya, duduklah yang tenang"
"Baik Ayah"
"Ipang, sama ibu saja ya. Biar ayahmu fokus menyetir" tutur Kia merasa tidak nyaman melihat Aslan menyetir sambil memangku Ipang.
"Ipang mau sama ayah" jawab Ipang.
"Tapi bahaya Nak"
"Ipang akan duduk tenang" jawab Ipang lagi.
"Good joob Boy" ucap Aslan membela Ipang.
Akhirnya Kia diam. Kia hanya pasrah dan menatap kedekatan Ipang dan Aslan. Entah apa saja yang Aslan katakan. Ipang begitu cepat akrab dengan ayah yang baru dia temui itu.
"Kau baik-baik saja sekarang? Apa kamu masih takut dan sesak?" tanya Aslan memastikan Ipang sudah segar lagi.
"Ipang baik-baik saja ayah"
"Siip, bagus" jawab Aslan membiarkan Ipang duduk di pangkuanya.
"Kenapa jagoan ayah bisa tenggelam seperti tadi?" tanya Aslan lagi.
"Ipang terpeleset sehingga tidak siap mengatur nafas seperti yang ayah ajarkan"
"Hemm, lain kali jika tidak ada ayah, jangan main ke kolam dalam lagi ya!" tutur Aslan menasehati.
"Iya, ayah. Maafkan Ipang"
"Ayah juga minta maaf. Besok latian lagi ya!"
"Iya Ayah"
"Siip" jawab Aslan tersenyum lalu melirik ke Kia lagi. Menunjukan begitulah cara mendidik anak laki-laki. Tidak boleh menjadi penakut.
Kia diam tidak berkata apapun. Walau bagaimanapun Kia memang butuh laki-laki. Tapi bukan suami orang.
"Kita mau kemana ayah? Apa kita akan holiday seperti kata Daffa?" tanya Ipang polos ke ayahnya.
"Holiday?" tanya Kia mengernyit. Sementara Aslan melirik Kia lagi dengan tatapan menang.
"Liat saja nanti" jawab Aslan.
"Apa ibu sudah tidak marah lagi? Apa ayah sudah peluk dan cium ibu?" tanya Ipang lagi.
"Ipang?" seru Kia semakin merasa malu dan tidak nyaman.
Darimana anaknya berfikir hal-hal seperti itu? Kia kemudian menatap Aslan dengan mode galak.
"Bukan gue yang ajarin" jawab Aslan pandai mengartikan tatapan Kia.
"Ibu tidak marah lagi kan?" tanya Ipang lagi.
"Tidak Nak. Ibu tidak marah, tapi apa maksud pertanyaanmu"
"Hehe ibu tidak usah malu. Ipang kan anak ibu dan ayah" jawab Ipang lagi.
Kia hanya menatap Ipang penuh tanda tanya. Kia penasaran apa sebenarnya yang Ipang dan Aslan bicarakan saat tidak ada dia. Kenapa Ipang membahas hal-hal di luar dugaanya.
"Terima kasih ayah, udah buat ibu nggak marah lagi" ucap Ipang ke Aslan dan mencium pipi Aslan.
Hal itu membuat Kia semakin bingung, kenapa Ipang terima kasih segala.
****
Terima kasih sudah baca karya Author.
Buat dukungan dan semangat, sll pencet tombol like, tinggalin koment membangun dan vote ya Kakak.
Happy reading.
❤❤❤