Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 74: Ketidakrelaan Seorang Ayah


Makan malam keluarga dimulai. Namun, tanpa Liam karena pria tersebut harus segera menyelesaikan segala pekerjaan sebelum hari pernikahan yang akan diadakan minggu depan tiba.


Baik Jayden maupun Jonathan saling melemparkan pandangan heran melihat adik mereka yang tampak sumringah sejak tadi. Bahkan dia tersenyum setelah menyuapkan sesendok nasi ke mulut.


"Apa kau masih waras, Je?" tanya Jayden.


"Eh hmm. Kenapa memangnya, Kak?" Je menjawab sambil sesekali melirik ponsel di sampingnya. Mana tahu ada notifikasi pesan dari sang pujaan hati.


"Aku mencium aroma remaja di sini. Kau tampak seperti wanita-wanita yang menggilaiku selama ini," ucap Jonathan.


"Ish, sembarangan kalau bicara."


"Adik kalian akan menikah minggu depan." Kalimat yang keluar dari mulut Jesslyn sontak membuat kedua putranya menyemburkan nasi tepat ke wajah Jessica yang posisinya memang di depan mereka.


"Kakak! Tidak bisakah kalian lebih sopan sedikit! Menjijikkan." Jessica mendengus sebal sambil membersihkan wajahnya. Namun, dering singkat ponselnya langsung mengubah ekspresi gadis itu.


"Mommy, tidak bercanda 'kan? Siapa pria bodoh yang mau menikahi gadis nakal sepertinya?" Jonathan tentu saja heran, sedangkan Jayden lebih memilih melanjutkan makan malam meskipun cukup terkejut.


"Dia tidak bodoh, Kak. Kalau dia bodoh tidak mungkin jadi juragan kasino," jawab Je tanpa melihat kakaknya dan masih fokus mengetik di layar ponselnya.


"Berarti dia sial karena harus menikahimu," ucap Jonathan lagi.


"Dia beruntung, Kak. Karena di perjudian dia yang menang dan ternyata keinginannya hanya untuk menikahiku," jawab Jessica tanpa sadar sambil mengangguk kecil.


Sontak suara dentingan sendok dan garpu yang dibanting ke atas piring terdengar cukup keras mengejutkan semua orang. Tatapan tajam yang dilontarkan oleh Nicholas membuat Jessica menyadari jika dirinya sudah salah bicara.


"Oops, keceplosan," gumam Jessica lirih.


"Jessica Light!"


"Iya, Dad." Jessica menundukkan kepala, raut wajah sang ayah tak berani ditatapnya saat ini. Terlalu menakutkan untuk dilihat. Bahkan bagi Jessica, ini pertama kalinya dia melihat ayahnya berwajah merah padam seperti sekarang.


"Sekarang katakan dengan jujur pada Daddy. Bagaimana kau bisa mengenal William?" Suara bariton Nicholas yang tegas menyebabkan ruangan tersebut seketika senyap.


Jessica terdiam untuk sesaat, gadis tersebut menggigit bibirnya dan memikirkan bagaimana caranya meredakan amarah sang ayah saat ini. Dia tidak ingin pernikahan yang sudah di depan mata gagal begitu saja karena ketidaksengajaan mulutnya ini.


"Aku ... aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya, Daddy. Lalu mengajaknya bertanding dan jika aku menang dia harus menikahiku. Tapi, aku kalah dan dia tetap datang untuk melamarku tadi. Bukankah artinya kami sama-sama menyukai pada pandangan pertama." Merasa yakin akan jawabannya Jessica pun menganggkat kepala dan memberanikan diri menatap sang ayah.


Tidak ada lagi nada kelembutan yang keluar dari mulut Nicholas. Suara tingginya tak hanya menggambarkan betapa hancur dan kecewa, pria tersebut juga merasa marah pada dirinya sendiri saat ini. Sementara itu, ketiga anaknya terdiam tak berani menyahut sedikit pun, sedangkan Jesslyn mengusap lembut punggung suaminya.


"Tidak ada pernikahan! Daddy, membatalkan restu dan pergi ke kamarmu sekarang! Renungkan apa kesalahan yang sudah kau lakukan!"


"Tapi, Dad—" Jessica berusaha membela diri, tetapi untuk kali pertama sang ayah malah membentak dengan cukup keras.


"Sekarang!" Bentakan dari Nicholas lantas membuat sang istri mengisyaratkan pada Jessica untuk mengikuti perintah ayahnya terlebih dahulu.


Dengan kesal Jessica melangkah menaiki tangga ke kamarnya, sedangkan Nicholas terduduk lemas sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba saja terasa berdenyut.


"Sayang—"


"Kita bicara nanti saja." Tak ingin semakin jauh meluapkan kekesalan, Nicholas memilih segera beranjak dan melangkah ke luar guna mencari udara segar. Dia pergi ke bagian belakang rumah, tempat di mana ketiga anaknya sewaktu kecil terbiasa bermain bersama.


Nicholas duduk di anak tangga sambil merenung, mengingat kembali saat-saat di mana dia mengasuh serta mengajak anak-anaknya bermain di sela kesibukannya. Sebuah kejadian yang tak akan terulang kembali meskipun membayar dengan seluruh hartanya. Hanya sisa kenangan dalam benaknya yang tak dapat diputar lagi.


Dia menundukkan kepala, menghela napas berat, dan mengusap kasar wajah yang kini tak lagi muda. Sebuah tepukan tangan sang istri di belakang yang lantas duduk di sampingnya membuat pria tersebut seketika menoleh.


"Apa yang kau pikirkan, Sayang?" tanya Jesslyn.


Nicholas hanya menggeleng kecil, ternyata perasaan tidak ikhlas anak-anaknya tumbuh dewasa kini mendera jiwa. Meskipun bukan Jessica, akan ada masanya dia harus ikhlas merelakan Jayden dan juga Jonathan berkeluarga dan memilih jalan masing-masing.


Jesslyn meletakkan kepala di pundak suaminya. "Tak terasa, Nich. Kita sudah menikah dua puluh lima tahun lamanya. Seandainya dulu kedua orang tuaku masih ada, mereka mungkin akan mengkhawatirkanku seperti kau pada anak-anak."


Kalimat Jesslyn tentu saja mengundang Nicholas untuk menoleh ke arahnya. Dia menatap lekat perempuan yang kini tersenyum padanya tersebut. "Sayang, anak-anak sekarang sudah dewasa. Mereka tahu apa yang baik dan tidak untuk kehidupannya, termasuk Jessica. Aku tahu masih terlalu berat bagimu melepaskannya menikah. Kau pun tahu sifat anakmu itu."


Jesslyn tertawa kecil sambil meraih tangan suaminya yang kini mulai berkerut. "Dia sangat mirip denganmu jika menginginkan sesuatu. Kalian selalu menyukai suatu hal hanya dalam sekali lihat. Tapi, lihatlah sekarang. Adakah keputusan salah yang kalian ambil?" Dia menggeleng kecil.


"Sayang, putri kita sudah dewasa. Siap tidak siap, mau tidak mau. Kita harus melepaskannya untuk memulai hidup baru pilihan. Anak-anak hanyalah titipan Tuhan, jangan mempersulit mereka dengan berbagai alasan. Padahal sebenarnya semuanya berasal darimu yang enggan menerima kenyataan mereka sudah dewasa. Ingatlah, kau masih memiliki aku. Akulah yang akan menemanimu hingga ajal menjemput kita."


Tanpa terasa buliran hangat memgalir dari sudut mata Nicholas. Memang benar apa yang dikatakan sang istri. Dia bukan marah karena alasan konyol Jessica, melainkan lebihpada ketidakrelaan melepas sang putri untuk menempuh hidup baru.


Mengingat kenyataan satu per satu dari ketiga anaknya akan pergi, cepat atau lambat untuk memulai hidup baru. Rasanya Nicholas tidak ingin mereka dewasa dan biarkan menjadi anak-anak lagi. Saat di mana dialah orang spesial yang mereka punya. Bukan orang luar yang baru mereka temui dan berhasil membuatnya cemburu seperti sekarang.


To Be Continue...