Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 55: Meninggalkan Wasiat


Je yang kini tinggal bersama sang ayah memulai lagi hidupnya yang baru. Dia tidak lagi menempati kamar sempit yang penuh dengan barang-barang, tetapi pindah ke tempat yang lebih luas sesuai seleranya.


Pagi itu, dia bersiap melangkah menuruni tangga sambil memasang dasi. Namun, aktivitasnya terhenti karena melihat Su Man To sudah duduk di meja makan dengan berpakaian rapi. "Daddy, mau pergi?"


"Iya, Nak. Daddy harus pergi ke kantor karena banyak yang harus dikerjakan. Sudah terlalu lama Daddy tidak hadir, pasti banyak urusan perusahaan tertunda, " jawab Su Man To singkat, tetapi dengan senyum yang terukir indah pada sang putri.


"Tapi, bagaimana, Daddy beraktifitas nantinya? Haruskah aku bolos sekolah saja dan ikut, Daddy ke perusahaan?''


"Tidak usah. Nanti ada asisten Daddy yang datang. Ayo sarapan! Bagaimana bisa remaja sepertimu selalu membolos hanya demi menjaga ayahnya?" 


Keduanya pun sarapan dalam dia. Hingga sesaat kemudian, seorang pria berkacamata masuk membungkuk pada tuannya. "Tuan," sapa pria itu. 


"Siapa dia?" tanya Jessica dalam hati pada Jenni di sampingnya.


"Ahn Jay. Asisten Daddy sejak memulai bisnis dulu," jawab Jenni. 


"Daddy berangkat dulu, Nak. Kau baik-baiklah di sekolah," pesan Su Man To sebelum mengisyaratkan asisten untuk segera berangkat. 


"Hati-hati, Dad."


Su Man To hanya tersenyum, sedangkan Ahn Jay menyapa Je dengan sedikit menundukkan kepalanya tanpa banyak kata, lalu mendorong kursi roda keluar rumah.


“Kau ikuti saja ke mana pun Daddy pergi! Kabari aku jika terjadi sesuatu dan jangan lepaskan pengawasan dari pria itu dan cari tahu semua informasinya," batin Je memerintahkan Jenni. 


"Maksudmu, Tuan Ahn Jay." Jenni memastikan sambil menatap curiga ke luar.


"Iya. Jangan sampai lolos! Apalagi meninggalkan Daddymu. Firasat ku berkata buruk hari ini."


"Baiklah. Aku akan menurutimu." Jiwa Jenni pun akhirnya ikut pergi bersama sang ayah.


Mereka pergi ke lokasi tujuan masing-masing. Su Man To dengan Ahn Jay pergi ke kantor, sedangkan Je akhirnya pergi ke sekolah, setelah sekian lama dia membolos demi mengurus Su Man To di rumah sakit. Meskipun rasanya sangat malas, tetapi mau bagaimana lagi. Inilah kehidupannya saat ini yang harus dia jalani.


__________


Di sekolah, waktu berlalu seperti biasa. Karena Rose yang akhirnya pindah, maka tak ada lagi orang yang mengganggu kenyamanan Jessica. Dia yang tengah berada di kelas mendengarkan musik sambil tidur di atas bangku saat istirahat, tiba-tiba saja dikejutkan oleh Sam Sul yang langsung mengejutkannya dengan menggebrak meja. "Je, apa yang sudah terjadi pada,  Daddymu? Benarkah semua berita ini?" tanya Sam Sul dengan wajah panik memperlihatkan layar ponselnya berisikan trending topik saat itu.


"Sialan! Ternyata mereka bergerak cepat dan tidak ingin membiarkanku bernapas walau sedetik pun,” umpat Je yang tengah berlari saat itu.


Bagaimana Je tidak panik, baru tadi pagi dia dan Su Man To sarapan di meja bersama untuk pertama kali, tetapi kini pria itu sudah ditangkap karena kasus penggelapan dana perusahaan dan penyalahgunaan izin usaha. Di mana Su Man To dituduh sebagai penyelundup dan pengedar barang ilegal berupa narkoba dan sejenisnya. Padahal jelas bukan pria itu yang melakukannya, melainkan orang-orang yang takut jika kejahatannya segera terbongkar dan memilih mengkambing hitamkan ayahnya secepat ini.


Je yang marah mengemudi dengan kecepatan tinggi sambil berulang kali mengumpat kesal, tetapi baru beberapa menit dia sudah melihat ada tiga mobil lainnya yang mengikuti di belakang.


“Jadi kalian ingin bermain dengan iblis kecil ini. Baiklah ayo temani aku bermain!” Sebuah seringai kembali melengkung di wajah Je. Dia dengan segera menancap gas dan bergerak melesat begitu saja, tetapi anehnya ketiga mobil itu dengan mudah tak lagi mengikutinya. Dia sedikit mengernyitkan dahi melihat keanehan situasi saat ini. Namun, ketika Je berusaha mengurangi kecepatannya, hal itu sudah terlambat karena rem blong dan posisinya berada di jalan yang ramai. 


Gadis itu pun menghela napas kasar. “Sial! Kalian menyabotase mobilku rupanya. Jangan harap seorang Jessica Light begitu mudah kalian permainan dalam situasi bodoh ini! Bisa-bisa Nenek Laura tidak lagi mengakui aku sebagai cucu nantinya," gerutu Je untuk menutupi kepanikan dalam dirinya. Dia pun segera mengulurkan tangannya ke layar GPS di depannya dan mencari jalan tanpa hambatan apalagi tol yang akan dilalui untuk bermain-main. "Kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini! Daddy Nich, jangan lupa doakan aku segera kembali pulang!"


Dengan mudahnya Je menyalip satu per satu kendaraan di depannya tanpa kehilangan kendali dan melesat layaknya seorang pembalap profesional. Hal itu sontak membuat ketiga mobil itu pun kembali mengikutinya karena rencana membuat sang gadis kecelakaan di keramaian lalu lintas gagal begitu saja.


"Ternyata dia cukup pandai memahami situasi," ucap seorang wanita di salah satu dari ketiga mobil itu sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Gadis yang menarik. Terus ikuti dan lihat apa yang bisa dia lakukan dengan kecepatan seperti itu nantinya!"


"Baik, Bos." Sang anak buah yang mengemudi hanya bisa mengikuti perintah wanita itu dan menancap gas guna mengimbangi kecepatan Je.


"Kalaupun dia masih selamat, semuanya hanya akan terjadi jika dia memiliki keberuntungan lebih kali ini! Tapi, tidak selanjutnya karena aku masih bisa menghabisinya setelah itu dan nyawamu tetap akan melayang hari ini," batin wanita itu menatap tajam ke depan.


Mau tak mau kejar-kejaran di jalan pun tak lagi terelakkan. Hanya saja ketiga mobil tidak berniat menyalip Je dan hanya akan mengawasi dari belakang, sedangkan Je sendiri memilih untuk mencari jalan sepi dan tidak terlalu berkelok agar tidak menimbul korban jiwa yang tak bersalah nantinya. 


Akan tetapi, berita tentang Su Man To dengan cepat menyebar. Ponsel Je berdering memerlihatkan panggilan dari William. Untuk sesaat Je kembali mengingat waktu di mana dirinya kecelakaan sebelum masuk ke tubuh Jenni. Dengan segera Je mengangkat panggilan tersebut. 


"Baby, apa kau baik-baik saja?" tanya Liam di seberang telepon. 


"Paman, jika hari ini ada berita aku kecelakaan atau mati. Jangan lupa untuk menepati janjimu! Kau harus membantu ayahku keluar dari semua masalah ini dan membuktikan semuanya dengan apa yang aku berikan saat itu. Kau harus membantuku membalas perbuatan mereka sampai ke akar-akarnya. Ingat itu, Paman!" cerocos Je tanpa henti menyampaikan pesannya jika memang terjadi sesuatu nantinya. 


"Hei! Apa yang kau bicarakan, Bodoh! Apa kau berniat menitipkan wasiat dan meninggalkanku!" teriak William tampak panik di seberang sana.


"Kau sudah berjanji ingat! Atau aku akan menghantuimu kalau sampai kau ingkar!" Ancam Je begitu saja tanpa sadar. 


To Be Continue...