
Malam itu menjadi hari paling bersejarah dalam beberapa bulan di kasino ini. Di mana terdapat seorang pria dengan tatapan hangat duduk di kursi yang telah disediakan untuk dirinya. Sorot mata lurus menatap gadis yang sedari tadi berhasil membuatnya berdebar tak karuan, sungguh sebuah perasaan berbeda dari biasa yang selalu dingin.
Para pelanggan semakin banyak yang berkerumun menyaksikan jalannya permainan yang belum dimulai itu. Meja hijau di sana bukanlah tempat untuk menjunjung keadilan, melainkan sebagai sarana di mana para kartu entah berpihak pada siapa sesuai keberuntungan pemain tersebut sendiri.
Selain keberuntungan, juga diperlukan skill dan feeling yang kuat untuk memilih melanjutkan atau menghentikan permainan. Tentu saja dengan taruhan yang lebih tinggi jika memang ingin terus bermain.
Dua orang saling bertatapan seakan berbicara melalui pikiran. Seorang bandar sejak tadi melayani kartu keduanya. Senyum yang tak pernah pudar di wajah Liam membuat Jessi mengernyitkan dahi.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Paman?" tanya Je sambil mengintip sebuah kartu miliknya yang masih tertutup. Kemudian, kembali melihat ekspresi pria di hadapannya itu. Tatapan Liam pada Je tak beralih sejak tadi, bahkan hanya untuk sesaat. Hal itu tentu saja membuat gadis tersebut merasa tidak nyaman karena tingkah Liam.
'Jika saja kau tidak tampan, aku pasti sudah mengambil matamu dan melemparkannya pada Light,' batin Je dengan kesal.
Liam tertawa dengan tanpa suara melihat Je yang menatapnya dengan tajam seperti itu. Sorot indah membulat sempurna bahkan bundaran iris mata amber dan wajah yang kesal Je terlihat nyata, tetapi malah membuat gadis itu terlihat sangat imut menurutnya. "Bukan apa-apa. Hanya memikirkan apa nanti yang bisa aku minta pada gadis kecil sepertimu," ujar Liam dengan bangganya.
Sejenak pria itu mengintip kartu miliknya, kemudian kembali melihat Je yang masih menatap tajam ke arahnya. "Kenapa kau juga menatapku? Apa aku terlalu tampan untuk kau abaikan?" Liam mengeluarkan suara tawa kecil yang terdengar renyah.
Namun, hal itu mampu membuat Je tersadar, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mendecih kesal. 'Sialan!'
"Jangan salah paham, Paman. Aku hanya ingin mengingat wajah senangmu sebelum kau kalah! Lagi pula wajahmu tidak setampan itu jika dibandingkan dengan Jayden Bannerick."
Mendengar Je yang mengucapkan nama seorang pria dengan begitu lancar layaknya sudah lama menjalin hubungan seketika mengobarkan api cemburu dalam hati Liam. Pria itu langsung menatap tajam ke arah Je, sungguh ekspresi berbeda dari sebelumnya. 'Kau sungguh pandai merusak suasana hatiku,' ucap Liam dalam hati.
"Apa kau masih ingin bertaruh denganku gadis kecil?" Sebuah seringai tercetak indah di wajah Liam.
Akan tetapi, malah membuat Je memicingkan mata. "Kau yang memaksaku bertaruh, sialan!" Je hanya bisa mendengus kesal karena tidak ada kartu bagus yang datang padanya sejak tadi.
Namun, Liam terlebih dulu membuka kartunya dengan bangga. Di mana kartu pertamanya hanyalah spade empat, clover empat, heart empat, diamond tujuh, dan spade tujuh. "Full house," ucap Liam dengan bangga.
Hal itu tentu saja membuat riuh para pelanggan lain yang menyaksikan hal itu. Full house bukanlah sebuah susunan kartu yang kemenangannya mutlak, bagaimana bisa sang king percaya diri karena itu.
Berbeda dengan Je yang sedari tadi mengumpat kesal dalam hati. 'Sial, dia seperti sudah tahu kartuku.'
Perlahan gadis itu pun membuka kartunya yang ternyata hanya ada spade lima, spade tujuh, spade sembilan, spade king, dan As black spade.
Melihat hal itu, tentu saja membuat Liam tertawa cukup keras. "Flush, sepertinya keberuntungan kali ini tak berpihak padamu, Gadis Kecil."
Untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan bermain di kasino ini, akhirnya Je dikalahkan oleh Sang King Casino.
To Be Continue...