Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 68: Deal


Berbekal informasi yang didapat, Je melesat menuju kasino baru yang ternyata cukup mewah dan hampir sejajar dengan milik sang ibu. Selama ini dia hanya mengunjungi kasino orang lain untuk mengacau, tetapi kali ini dia datang guna menarik perhatian pemiliknya.


Dengan lihai Jessica bermain judi, namanya sudah tak lagi asing di telinga para pejudi kelas kakap. Bagaimana tidak, belum ada satu pun dari mereka yang berhasil mengalahkan keberuntungannya. Bahkan pemain profesional dunia sekali pun.


"Cih, kenapa tidak ada yang menarik? Bisa-bisa Ibuku semakin kaya kalau uang kalian selalu habis di tanganku," ejek Jessica pada beberapa pria di depannya sambil melemparkan kartu karena kesal.


Sebuah keberuntungan bisa bermain judi bersama Jessica Light. Meskipun menguras kantong mereka dan berakhir dengan emosi, tetapi sensasi kekalahan telak membuat mereka merasa tertantang seketika.


"Jangan berbangga hati dulu, Nona! Apa Anda tidak mendengar pemilik tempat ini adalah King Casino. Kudengar keberuntungannya cukup baik. Hanya saja dia tidak pernah bermain dengan orang lain," ujar seorang pria lawan Je.


Sebuah seringai tertarik di salah satu bagian sudut bibir Je. Menurut informasi yang dia dapat tentu saja itu adalah sasaran incarannya dan dia tidak akan melewatkan kesempatan berharga ini tentunya. "Baiklah, aku menantangnya. Kalau kalian bisa membawanya bermain denganku, akan kuberikan seluruh hasil kemenanganku ini pada kalian."


Semua orang langsung melebarkan matanya. Jumlah yang cukup fantastis hanya dengan membujuk seorang William. Meskipun cukup sulit katanya, tetapi hanya imbalan sebagai perantara saja sudah sebanyak itu. Pasti permainan keduanya akan menjadi sejarah jika benar-benar terlaksana.


"Waktu kalian membawanya kemari satu jam." Je melihat pergelangan tangan di mana sebuah jam melingkar di sana. "Di mulai dari sekarang."


Orang-orang itu lantas berlari tergopoh-gopoh ke lantai atas. Tempat di mana pemilik kasino berada. Mereka berebut tempat dan bergilir mencoba menemui William.


Sementara itu, orang yang mereka cari hanya duduk di kursi sambil menatap sebuah cincin yang telah lama dia siapkan. "Ada apa berisik di luar?" Dia lantas menutup kotak tersebut dan memasukkan ke saku celananya.


Belum sempat Liam membuka pintu, Kare yang berjaga malah terjerembab di lantai akibat dorongan dari orang-orang yang mencarinya. "Ada apa ini? Kenapa kalian berbuat rusuh di tempatku?"


"King, mereka mencari Anda dan meminta untuk bermain dengan seorang gadis," ujar Kare berusaha bangkit.


"Iya, King. Kami mohon supaya Anda bermain dengannya. Kasihanilah kami, jika Anda tidak mau bermain dengannya dia mengancam akan membunuh kami dan meratakan tempat ini," ucap salah seorang pria mewakili teman-teman lainnya dan mereka malah membenarkan hal itu.


Tentu saja beberapa lapis kerutan tampak jelas terukir di dahi Liam. Setiap dia membuka satu cabang kasino baru, pasti akan ada saja masalah yang terjadi. Namun, anehnya kenapa seorang gadis memaksa sekali hanya untuk mengajaknya bermain.


"Kalian ini pria-pria kuat. Kenapa takut sekali dengan ancaman seorang gadis. Sudah-sudah pergi sana! Mengganggu saja. Katakan padanya agar meninggalkan tempat ini, kalau kalian tidak berani, minta penjaga mengusirnya!" Liam hendak kembali ke ruangannya, tetapi sebuah tepuk tangan berhasil meredakan situasi saat itu.


Semua orang terdiam, sedangkan Liam menatap heran wanita di seberang. "Lagi-lagi dia," batinnya.


"Tidak kusangka seorang William Scorpion ternyata sepengecut itu," ucap Jessica memprovokasi. "Cih, bahkan tak berani menerima tantangan bermain judi dari seorang gadis manis sepertiku."


"Je, kenapa kau di sini? Kakakmu mencarimu ke mana-mana?" ujar seorang pria berusia tak jauh berbeda dengan Liam.


"Je?" batin Liam bergetar hingga pria tersebut terdiam seketika. Dia seolah mematung di tempatnya, tak mampu bergerak. Bahkan pasokan udara seolah lenyap seketika menarik jantungnya sekali.


"Kak Steven? Kenapa kau di sini?" tanya Jessica berubah ekspresi.


"Jayden dan Paman Nicholas mencarimu sejak tadi. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk lagi. Kenapa kau susah sekali dihubungi."


Kebiasaan Jessica jika sudah bermain judi adalah lupa waktu. Jika tidak dicari, bisa-bisa gadis tersebut sampai tiga haru baru pulang. Awalnya keluarganya membiarkan hal itu. Namun, semuanya berubah setelah hal buruk menimpa keluarga Light. Apalagi jika Jessica bermain di kasino orang lain. Nyawanya bisa dalam bahaya kapan saja.


"Benarkah?" Je lantas memeriksa ponsel di sakunya yang ternyata mati. "Jam berapa sekarang?" Dia mengitari pandangan hingga terlihat sebuah jam yang menunjukkan pukul lima. Artinya sudah hampir pagi, tetapi dia masih juga belum pulang.


Jessica hanya menyengir kuda, semenjak kecelakaan keluarganya memang lebih protektif padanya. "Maaf, Kak. Aku keasyikan bermain di sini."


"Ya sudah, ayo kita pulang!" Steven hendak membawa Jessica pergi, tetapi lagi-lagi suara Liam yang membeku sejak tadi menghentikan langkah mereka.


"Tunggu!" Liam menatap sekilas wajah wanita yang kini juga melihatnya. Tatapan keduanya saling bertemu seolah waktu berhenti saat itu juga. "Datanglah ke mari besok malam jika ingin menantangku bermain."


"Deal." Jessica langsung menjawab dengan sebuah senyum riang dan kedipan sebelah matanya. Sebelum akhirnya wanita tersebut ditarik oleh Steven untuk membawanya pulang.


"Kau selalu saja menantang orang lain untuk bermain judi. Tapi suka lupa waktu. Kasihan kakakmu mengkhawatirkan dirimu sejak tadi. Padahal sudah seharian lelah dengan pekerjaan kantor," gerutu Steven sambil menggandeng tangan Je membawanya pergi.


Sementara itu, Liam masih mematung di tempatnya hingga punggung Je sudah menghilang dari pandangannya dan semua orang yang tadinya berkumpul bubar. Jantungnya masih berdetak tak karuan saat ini. Panggilan 'Je' yang setelah sekian lama dia cari akhirnya kembali terdengar menusuk telinganya. Akankah pencariannya berhenti di sini.


"King."


"Cari tahu siapa wanita itu!" Perintah Liam pada anak buahnya sebelum akhirnya kembali menutup pintu ruangan.


To Be Continue..