
Mon Nyong yang tengah asyik bercinta siang itu bersama Ju Min Ten terpaksa menghentikan aktivitasnya karena mendengarkan kebisingan di luar.
“Siapa yang berani mengacaukan kesenangan kita? Akan aku beri dia pelajaran!" geram Mon Nyong lantas beranjak dan mengenakan kembali pakaiannya sebelum melangkah keluar kamar. Dia meninggalkan Ju Min Ten yang masih bergelut di bawah selimut.
“Aku juga penasaran siapa yang berani macam-macam di sini?” Ju Min ten yang merasa penasaran pun memilih beranjak dan melihat apa yang terjadi di luar dari balik jendela. Wajahnya tampak merah dengan bola matanya hampir keluar dari tempatnya melihat mobil yang dia kenal serta mengemudinya. “Gadis sialan itu! Berani-beraninya dia datang kemari, setelah apa yang ayahnya lakukan padaku.”
“Siapa itu?” tanya Mon Nyong pada beberapa asisten rumah tangga yang berkumpul di sana.
“Tidak tahu, Tuan.”
Dia pun melangkah ke bagian depan villa da berteriak dengan sangat keras. “Hei! Apa maksudmu membuat kericuhan di rumah orang lain, hah?”
Je yang mendengar suara orang yang menyapa lantas menghentikan aksinya. “Kau cari tahu di mana benda yang seharusnya menjadi milik kita. Aku akan memberikan pelajaran kepada para kecoa itu terlebih dahulu,” ujar Je pada Jenni yang mengangguk patuh dan menghilang dalam sekelip mata.
Dengan gaya arogan Je turun dari mobil yang dikemudikan. Dia membanting pintu kendaraan itu dengan sangat kuat dan melangkah tegas mendekati Mon Nyong. “Selamat siang, Tuan Asisten. Tidak menyangka jika pekerjaan asisten membuatmu cukup makmur hingga bisa memiliki villa sebesar ini,” ucap Je tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam meninggalkan Mon Nyong yang masih tercengang akan kedatangannya.
"N–nona Jenni," sapa Mon Nyong terbata. "ah, ini hanyalah salah satu villa milik istriku dan kebetulan aku sedang di sini. Ada perlu apa Anda kemari, Nona?"
Mon Nyong berusaha bersikap seramah mungkin, sedangkan Je mengedarkan pandangannya ke segala arah, menelisik setiap sudut bangunan tersebut tanpa ragu.
“Villamu bahkan lebih mewah dari milik ayahku. Apa kau juga tinggal di sini sendirian, Tuan Asisten?" Tanpa menunggu dipersilakan, Je langsung duduk begitu saja seolah rumahnya sendiri.
“Itu.”
Belum sempat Mon Nyong menjawab seorang wanita berjalan dengan begitu bangganya dari atas tangga. “Apa yang kau lakukan di sini? Bukan urusanmu dia tinggal sendirian atau tidak.”
“Ah, jadi benar dugaanku, Mommy ada di sini,” ucap Je dengan nada mengejek. “Oops salah. Bukan Mommy tapi mantan ibu tiri,” lanjutnya membenarkan kalimat.
“Tidak usah basa-basi bocah sialan! Kau pasti memiliki tujuan lain ‘kan sampai berani jauh-jauh datang kemari,” geram Ju Min ten tak sabar meluapkan emosinya seperti biasa.
Je langsung berdiri dari posisinya. Dia melangkah mendekati Ju Min Ten yang masih berdiri di sisi lain. “Tentu saja aku datang untuk memberimu sedikit pelajaran,” bisik Je di telinga wanita itu.
“Kau!” Ju Min Ten mulai melayangkan tangannya hendak menampar Je, sayangnya dengan cepat gadis itu beralih hingga sang mantan ibu tiri hanya bisa memukul angin di depannya.
Tanpa banyak kata, Je merobohkan sebuah guci besar yang terpajang di ruangan itu. “Oops sorry. Sepertinya tanganku sudah mulai gatal membalas perbuatan wanitamu yang awalnya ingin menamparku, Tuan Asisten,” ujar Je sinis menatap Mon Nyong yang membelalakkan mata saat itu juga.
“Kau benar-benar kelewatan, Nona! Jangan salahkan aku bertindak tegas hingga membuatmu terluka. Kau sendiri yang menyulut masalah di sini!” Mon Nyong lantas mengambil sebuah pistol dari sakunya tanpa ragu. Dia menodongkan senjata api tersebut pada Je guna mengancamnya. “Jika ingin mencari keributan. Bukan di sini tempatnya, Nona. Tapi, maaf sepertinya aku tidak bisa berbaik hati membiarkanmu keluar dari sini kali ini.0” Dia semakin melangkah mendekat dan berharap Je akan takut.
Ju Min Ten semakin merasa di awan melihat Je tak berkutik. Sayangnya hanya dalam hitungan detik senyumnya hilang karena Je dengan mudah meraih tangan Mon Nyong dan mengambil alih senjata api tersebut dari genggaman pria itu, serta membanting tubuh pria tersebut di lantai dalam sekejap mata.
“Sayangnya bukan aku yang bermain-main kali ini, Tuan asisten. Tapi kalian yang sudah berani bermain-main denganku hingga membuatku naik darah.” Je langsung menarik pelatuk dengan jemarinya. Satu tembakan dilayangkan ke bagian atas samping tanpa melihat posisinya. Sebuah lampu gantung seketika terjatuh dan hancur berantakan menyebabkan suasana tampak semakin menegangkan.
"Akh!" teriak setiap orang yang terkejut akan keberanian Je menembak sembarangan di rumah orang lain. Bukan hanya Mon Nyong yang hampir jantungan, tetapi Ju Min Ten seketika terduduk di lantai dan para pelayan hanya bisa bersembunyi sambil mengintip situasi menegangkan yang terjadi saat itu, serta penasaran dengan apa yang selanjutnya terjadi.
Je beralih melangkah mendekati Ju Min Ten yang terduduk saat itu. "Kembalikan apa yang seharusnya tak kau sentuh!"
"Ap–apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" Ju Min Ten berkilah di tengah kegugupannya. Dia tidak menyangka jika gadis yang dulunya hanya bisa menangis kini bahkan dengan mudahnya memegang senjata api. Sungguh, saat ini dia merasa terlalu meremehkan Jennifer. Bagaimana bisa seorang gadis berubah semakin mengerikan hanya selang beberapa setelah waktu jauh dari pengawasannya.
"Ambil benda itu sekarang atau aku pecahkan kepalamu saat ini juga!" Ujung pistol seketika menempel di pelipis kiri Ju Min Ten tanpa jarak.
Dia bahkan hampir saja buang air di celana karena baru pertama kalinya ditodongkan sebuah senjata tajam. Ju Min Ten pun berusaha berdiri dengan susah payah dan perlahan mulai melangkah dengan tubuh bergetar hebat menuju kamarnya. Sementara itu, Je tetap mengiringi langkah wanita tersebut membiarkan Mon Nyong yang masih mematung di tempatnya.
Setibanya di kamar, jiwa Jenni sudah menanti sambil menunjuk sebuah lemari. Je mengangguk tanda paham maksudnya dan tidak mengendurkan ancamannya pada Ju Min Ten.
"Di sana." Tunjuk Ju Min Ten pada lemari di depannya
"Ambil!"
Dengan terpaksa Ju Min Ten membuka lemari tersebut. Dia meraih kotaknya dengan rasa takut yang luar biasa. Siapa yang bisa tenang ketika sebuah pistol ditodongkan tanpa aba-aba seperti itu.
"Ini." Mau tidak mau Ju Min Ten pun menyerahkan kembali kalung milik ibu kandung Jenni.
Je menerima benda tersebut sambil melirik sekilas ke arah Jenni yang membenarkan benda itulah yang mereka cari. "Lain kali jangan pernah menyentuh barang milik orang lain, apa lagi sampai mengambilnya! Mungkin hari ini aku bisa memaafkanmu. Tapi lain kali kau harus membayarnya dengan nyawamu."
Sebuah tembakan kembali Je lontarkan tepat ke lampu tidur di dekat ranjang, hingga membuat Ju Min Ten menutup kedua telinga dan berteriak ketakutan seketika. Sementara itu, Je melangkah mengambil sebuah kunci mobil yang ditunjuk Jenni dan keluar dari kamar tersebut meninggalkan Ju Min Ten yang masih terguncang seorang diri.
Ketika Je melangkah keluar kamar, dia melihat di mana Mon Nyong hendak melarikan diri. Dengan cepat Je kembali menembak sebuah benda di villa itu dan membuatnya menghentikan langkah. "Jangan bergerak sejengkal pun atau aku akan mendonorkan peti mati padamu hari ini juga!"
Mon Nyong yang mendengar ancaman Je hanya bisa terdiam mematung sambil mengangkat kedua tangannya. Hingga sesaat kemudian, Je tiba di lantai bawah dan menghabiskan peluru dengan merusak banyak barang di sana.
"Senang bisa mengunjungi tempat Anda, Tuan Asisten. Jangan lupa titipkan salamku pada atasanmu nanti!" ucap Je lalu melemparkan pistol yang sudah kosong tersebut dengan santai pada Mon Nyong dan melangkah menuju garasi mereka guna mengambil mobil mewah yang sebelumnya di bawa Ju Min Ten serta meninggalkan kendaraan ringsek miliknya sebagai hadiah.
To Be Continue...