
"Hei!" teriak Je cukup keras hingga membuat perawat itu terkejut seketika. "Apa yang kau lakukan, hah?"
Bukannya berhenti, perawat tersebut malah mendorong kursi roda dengan cepat dan tanpa membuang waktu dia memilih menggendong Su Man To melewati tangga darurat. Namun, Je juga tak kalah gesit, secepat kilat gadis itu berlari mengikuti dari belakang. Kakinya yang pendek tak membuat wanita tersebut kesulitan melewati beberapa anak tangga sekaligus. Akan tetapi, tampaknya perawat di depannya juga sudah sangat terlatih karena meskipun dalam kondisi menggendong tubuh Su Man To, dia tampak tak kesulitan bergerak sama sekali. Bahkan kini mereka sudah turun sampai di lantai basement tempat parkir mobil. “Hei! Berhenti!”
Sementara itu, Liam yang tadinya berhenti di basement parkiran karena panggilan telepon mendadak dari Kare mengernyitkan dahi ketika melihat gadisnya berlari dengan tergesa-gesa sambil menunjuk seseorang di depannya. “Hei! Berhenti!” teriak gadis itu cukup sangat kuat.
Tanpa membuang waktu Liam pun segera menyusul mereka dan secepat kilat melemparkan belati lipat miliknya yang langsung menancap tepat di kaki perawat tersebut dari kejauhan, sebelum dia sempat masuk ke mobil. Mau tak mau perawat itu pun, segera meninggalkan Su Man To dan melarikan diri dengan kendaraan secara ugal-ugalan. Dia bahkan tak segan menabrak Je yang menghalangi jalannya. Namun, beruntungnya dengan sigap Liam meraih tubuh Je.
“Apa kau gila?” teriak Liam dengan jantung yang berdetak cepat karena tak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi pada Je.
Je menghiraukan teriakan Liam saat itu, dan menepis tangan pria tersebut dari tubuhnya. Dia segera berlari menuju Su Man To yang tampak tergeletak tak berdaya di lantai parkiran. “Ayah! Ayah! Cepat bawa dia kembali ke kamarnya!” ucap Je dengan nada sendu ke arah Liam dan pria tersebut langsung membawa Su Man To kembali ke kamarnya.
Di sisi lain, perawat yang terluka hanya bisa mendengus sebal ketika darah terus mengalir di tubuhnya. Dia bahkan langsung menghentikan laju kendaraan setelah merasa mereka tidak mengikutinya. “Sialan!” kesal wanita tersebut karena gagal dalam menjalankan tugasnya kali ini.
Darah segar yang mengalir di kakinya tak membuat perawat gadungan tersebut merasa jera. Dia bahkan hanya merobek pakaian yang dikenakan dan membalut luka tersebut sambil sesekali meringis kesakitan. Hingga beberapa saat kemudian, dering panggilan di ponselnya seketika membuatnya semakin kesal. “Sila! Kenapa dia cepat sekali menghubungiku?”
Mau tak mau dengan malasnya dia mengangkat panggilan tersebut dan terdengarlah suara bariton di seberang sana. “Kenapa kau lama sekali, hah?” bentak pria itu hingga membuatnya sedikit melengos menjauhkan ponsel dari telinganya.
Sejenak dia pun memilih terdiam membiarkan sang pemanggil meluapkan segala celotehannya. Sesaat kemudian barulah perawat gadungan tersebut mulai berbicara. “MAaf, Tuan. Saya gagal!”
Kalimat singkat berhasil keluar dari mulutnya. Namun, langsung membuat pria itu seketika murka karena dia sangat membenci yang namanya kegagalan. “Apa saja yang kau lakukan? Kenapa membawa pria sekarat saja tidak bisa?”
“Putrinya tidak sebodoh informasi yang kita dapatkan, Tuan.” Dia mencoba untuk membela diri mengingat bagaimana Je berusaha mengejarnya tadi. Bahkan bisa mendapatkan bantuan orang lain. Namun, dia tidak mungkin melaporkan hal itu sekarang karena belum tahu siapa orang yang bersama putri Su Man To tersebut. Bisa-bisa pria itu semakin murka jika mengetahuinya.
To Be Continue