Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 57: Kau Mengenalnya?


Liam tiba di lokasi melihat dua pria hendak mendekati Je dengan segera keluar dari kendaraan dan melayangkan sebuah tembakan yang bersarang tepat di kepala salah satu pria. "Beraninya kalian mengganggu wanitaku!"


Seorang pria tumbang dan tewas tergeletak tidak berdaya, sedangkan seorang wanita lainnya bergegas lari dan segera masuk ke mobilnya. Liam langsung menembak salah satu pria lainnya dan mencoba mengejar wanita yang kabur itu dengan hujaman timah panas. Sayangnya, pelurunya hanya bisa mengenai bagian tubuh kendaraan musuh dan tidak melukai pengemudinya.


"Kejar dia!" Perintah Liam pada beberapa anak buah yang mengikutinya. 


"Baik, King."


Je yang seketika tumbang membuat Liam mengurungkan niat untuk ikut mengejar dan memilih mendekati sang gadis, membiarkan anak buahnya yang mengambil alih. "Baby, are you okay?" 


"Kenapa lama sekali!" teriak Je dengan napas yang terengah-engah. Hampir saja dia jantungan karena merasa nyawanya sudah di ambang batas. 


"Maafkan aku." Liam segera merengkuh tubuh Je yang terkulai lemas hampir pingsan dan penuh luka itu. "Sekarang sudah aman. Ayo pergi! Aku akan membawamu ke rumah sakit." Dia membopongnya ke dalam mobil dan bersiap untuk kembali. 


Sementara itu, Je merasa bersyukur sebab Tuhan masih melindungi dirinya saat ini dengan mendatangkan Liam. Dia menoleh sejenak. "Jangan bawa aku ke rumah sakit, Paman! Para wartawan pasti akan memburuku nanti dan dia masih bisa menemukanku. Bisakah kau menyembunyikan aku saja?" 


"Tapi, kau terluka parah, Baby?" Liam yang melihat tatapan sendu Je lantas menghela napas berat. "Baiklah, aku akan menyembunyikanmu. Biar dokter yang nanti datang ke rumah."


Je hanya mengangguk patuh. Gadis itu lantas membuang wajah ke arah lain karena merasa sangat lemah saat ini dan dia hanya ingin beristirahat sejenak. "Lihat saja bagaimana aku membalas kalian nanti!" batin Je yang memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangannya, sebelum membiarkan kesadarannya hilang karena merasa sudah aman. 


Setibanya di rumah, Liam segera meminta dokter yang sudah dihubungi sebelumnya agar segera merawat Je, sedangkan dirinya sendiri duduk di ruang tamu karena anak buahnya sudah kembali. 


"Kalian gagal mendapatkannya!" bentak Liam marah. Dia bahkan menendang kaki Kare dengan sangat kuat hingga pria itu sedikit meringis. 


"Maaf, King."


"Selidiki anak buah siapa mereka dan kali ini jangan sampai gagal!" Liam berbalik memijat pelipisnya. Namun, sesaat kemudian, dia kembali teringat wajah sang wanita. "Di mana aku pernah melihatnya?" gumam Liam seorang diri. 


Di saat sang anak buah sudah melangkah hendak sampai di ambang pintu, Liam pun teringat dan segera memanggilnya. "Kare."


"Iya, King."


"Cari tahu wanita dari CCTV bar di waktu saat kita melihat bandot tua itu!" 


"Maksudmu, King?" 


"Dia pernah berpura-pura jatuh di pangkuanku. Cari tahu apa yang dilakukan wanita itu di sana! Dia pasti tidak sendirian dan itu bukan kebetulan." 


"Baik, King." 


Kare kembali berbalik pergi, sedangkan Liam segera naik ke atas untuk melihat kondisi Je. "Bagaimana kondisinya?" tanyanya pada sang dokter. 


"Dia terluka cukup parah. Jangan biarkan dia banyak bergerak dulu! Untungnya hanya luka luar dan tidak ada masalah yang serius." Dokter lantas menggoreskan pena di sebuah kertas, menulis resep untuk membantu pemulihan Je. "Ini resepnya. Mungkin nanti malam dia akan demam, hal itu wajar. Tapi jika terlalu tinggi kau bisa membawanya ke rumah sakit." 


Liam hanya mengangguk mengambil selembar kertas yang diulur padanya itu. "Terima kasih."


"Aku pergi dulu," ujar sang dokter berpamitan sambil menepuk pundak Liam, karena memang keduanya cukup akrab selama ini. 


Dengan telaten Liam menyelimuti Je yang tengah terlelap. Lalu melangkah pergi meminta pelayan untuk menebus obatnya. Setelah itu, pria tersebut kembali ke kamar dan membuka flashdisk yang diberikan Je sebelumnya. 


Awalnya, Liam hanya mengira Je bercanda. Karena itulah, dia sama sekali tidak membuka benda tersebut, dengan harapan Je lah yang akan menjelaskan semuanya. Namun, melihat kekasihnya yang berjuang sendirian, Liam tidak akan lagi berdiam diri dan memilih ikut campur di dalamnya. 


Flashdisk itu berisikan bukti-bukti kejahatan telak yang dilakukan oleh anak buah Su Man To. Lengkap dengan foto barang bukti di sebuah gudang yang pastinya tidak akan ditemukan oleh pihak penyidik saat ini. Liam membaca dengan seksama sambil mengusap dagunya yang halus tanpa bulu sedikit pun. 


"Iya." Suara bariton seorang pria terdengar begitu lelah di seberang telepon. 


"Datanglah ke tempatku besok! Aku membutuhkan bantuanmu. Darurat!" perintah Liam tanpa basa-basi.


"Hei! Aku masih di luar negeri!" 


"Aku bayar tiga kali lipat kali ini." 


"Deal." Seolah mendapatkan durian jatuh pria itu langsung menyetujuinya begitu saja. 


Liam pun kembali mematikan sambungan telepon dan mendengar sebuah igauan oleh sang gadis yang berbaring di atas ranjang. 


"Daddy." Panggilan Je terdengar begitu lirih. Dia tampak berkeringat dingin serta menoleh ke kanan dan kiri. Padahal matanya jelas-jelas terpejam. 


Dengan telaten Liam mengkompres dan mengusap buliran keringat sang gadis secara lembut. "Maafkan aku yang datang terlambat, Baby," gumam Liam menyesali apa yang terjadi sebelumnya. 


"Daddy Nich, aku rindu." Meskipun suaranya tidak begitu jelas dalam igauan Je. Namun, Liam yang mendengar nama seorang pria itu lantas mengerutkan dahi hingga berlapis. 


"Bukankah Daddymu Su Man To?" batin Liam sedikit bingung. 


"Daddy." Tanpa di duga Je dalam ketidak sadarannya lekas meraih lengan Liam begitu saja memeluknya erat-erat seolah dia adalah sosok sang ayah yang dirindukan Je. 


Liam terhenyak, tetapi membiarkannya dan melupakan kegundahan begitu saja. Baginya yang terpenting Je tetap di sampingnya dan bersamanya selamanya. "Aku ada di sini." 


Mendengar jawaban Liam, Je tampak sedikit tenang dari kegusarannya dan kembali bernapas teratur di tidurnya. Sementara itu, Liam hanya bisa mengusap lembut pucuk kepala Je layaknya seorang ayah yang menidurkan putrinya, hingga dia pun terlelap di samping gadis itu dalam posisi duduk. 


Pagi harinya Liam menyuapi Je yang sudah siuman dengan semangkuk bubur hangat. Pria itu melayani Je dengan penuh kasih sayang dan sangat lembut. Hingga sesaat kemudian, seorang pelayan menghentikan aktivitasnya untuk sejenak.


"Tuan," sapa pelayan itu setelah diizinkan masuk.


"Ada apa?" tanya Liam meletakkan mangkok di tangannya ke atas meja.


"Di bawah ada Tuan Pengacara datang."


"Suruh dia kemari!"


"Baik, Tuan." Pelayan itu pun pergi, sedangkan Liam kembali meraih mangkuk dan meniup bubur panas untuk Je.


"Siapa yang datang?" tanya Je penasaran.


"Seorang pengacara yang terpercaya. Kita tidak bisa membiarkan pengacara ayahmu mengambil kasus itu jika ingin menang. Nanti kau bisa mengajukan pergantian pengacara di sidang selanjutnya. Setidaknya pria itu lebih bisa di percaya di bandingkan mereka," jawab Liam menjelaskan maksudnya.


Je hanya bisa mengangguk patuh, dan kembali menerima suapan bubur dari Liam. Hingga sedetik kemudian, pintu kamarnya kembali terbuka dan masuklah seorang pria muda dengan setelan jas yang membuatnya semakin berwibawa.


"Kak Rey!" Saking girangnya, tanpa sadar Je malah menyapa terlebih dulu pria itu begitu saja dan seketika mendapatkan tatapan tajam dari Liam di sampingnya.


"Kau mengenalnya?"


To Be Continue..