
Dua kapal berlayar menuju lautan lepas, tanpa lawan sadar jika mereka tengah mengarah pada kematian. Anak buah Ahn Jay tidak menyadari kalau singa tidur yang sebelumnya terlelap kini bangkit dengan amarah yang menggebu dalam dirinya.
Mereka semakin jauh menyusuri lautan lepas. Liam berdiri menatap nyalang kapal lawan di kejauhan dengan sebuah teropong pengintai. "Pastikan tidak ada kapal lain di sekitar kita dan persiapkan misil sekarang juga," perintah Liam pada anak buahnya.
"Baik, King." Kare segera melangkah pergi untuk menginstruksikan pada yang lainnya.
Dalam kapal mereka memang sudah dipersiapkan beberapa alat kemiliteran yang tersembunyi. Sebagai seorang bandar perjudian dan usaha berbahaya lainnya, tentu saja sangat mudah bagi William untuk memastikan keamanan diri dengan transportasi apapun dia pergi.
Hanya saja, jika langsung membeli kapal militer, tentu saja akan membuat curiga negara lain yang dikunjungi. Apa lagi jika mereka datang tanpa pemberitahuan. Lagi pula alat-alat berbahaya di dalamnya hanya digunakan untuk kondisi darurat dan hanya atas izin William seorang.
Cukup lama mereka mengarungi lautan. Menurut pemantauan radar, kapal lawan telah memasuki jarak tembak dan lokasi pun sudah bersih dari kapal-kapal yang tidak bersangkutan.
Sejumlah anggota telah menyiapkan rencana pengaturan untuk menenggelamkan kapal musuh jika misil atau rudal pertama tidak berhasil mengenai mereka, maka rudal lainnya akan segera menyusul.
"Semuanya sudah siap, King," lapor Kare di kala hari sudah menjelang sore.
"Lepaskan sekarang!" ujar Liam tanpa ragu.
Tak berselang lama, dari jarak tembak 185 kilometer rudal pertama dilayangkan. Benda tersebut melesat dengan cepat mengeluarkan asap putih dan mendarat tepat di buritan kapal lawan. Kemelut asap hitam, putih, dan merah tebal memenuhi langit senja kala itu, membakar dengan hebat sebuah kapal sasaran di tengah lautan yang kini gagal melarikan diri.
Tak perlu waktu lama, bagian belakang kapal tersebut mulai bergerak turun. Kerusakan akibat hantaman rudal itu, menyebabkan haluan kapal terangkat tegak lurus dari permukaan laut. Hingga akhirnya kapal yang ditumpangi seluruh anak buah Ahn Jay yang tersisa tenggelam sepenuhnya.
Sayangnya, sorak sorai kebanggaan anak buah mereka tak membuat senyum di wajah Liam merekah. Pria itu masih menatap lautan tempat di mana mereka tewas seketika dengan tatapan dingin.
"Pastikan tidak ada satu semut pun yang lolos dari sana," ucap Liam sebelum akhirnya melangkah pergi.
"Baik, King."
______________
Enam bulan berlalu semenjak kejadian itu, tetapi Je seolah tak berniat membuka matanya. Liam, Richard, serta Su Man To dan teman-teman yang lainnya tetap setia menanti kembalinya gadis tersebut dengan sabar.
Sikap Liam yang dulu agak konyol kini berubah dingin. Bukan karena tak lagi mencintai gadisnya, tetapi lebih dikarenakan takut jika gadis itu pergi selama-lamanya dan tak mau kembali lagi.
Dia selalu menjaganya siang dan malam, menggenggam erat tangannya serta memastikan jika denyut nadi Je masih ada. Hingga tak lama kemudian, di saat hari menjelang pagi, gadis tersebut mulai menggerakkan salah satu jarinya yang seketika membangunkan Liam di samping ranjangnya.
"Je, kau sudah sadar?" ujar Liam bahagia dan seluruh anggota keluarga yang menjaganya pun terjaga.
"Di mana aku?" tanya Je dengan suara lirih dan serak juga bingung. "Awh!" Gadis tersebut mengaduh memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
To Be Continue..