Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 65: Berhak Bahagia


Dua orang saling terdiam mengakui perasaan masing-masing. Tidak adanya cinta di antara keduanya membuat Liam dan Jenni tidak tahu harus bagaimana. Secara tidak langsung keduanya juga terluka dalam belenggu hubungan tanpa perasaan ini. Namun, rasa enggan keduanya dalam membuka mulut menjadikan mereka tetap bertahan selama ini.


Perlahan Jenni meletakkan tangan ke atas tangan Liam. Pria itu lantas mengangkat kepala menatap gadis yang tersenyum padanya. "Aku tahu perasaanmu padaku berbeda, Kak. Mungkin bukan aku yang kau cintai, tapi dia." Jenni tersenyum kecil. "Kalimatku mungkin terdengar konyol, hanya saja aku yakin bukan diriku yang kau cintai, tapi gadis lain. Maaf, tapi itu jugalah yang aku rasakan saat ini."


"Maksudmu?" Liam mengerutkan dahi bingung.


"Setelah tersadar dari kecelakaan. Aku menyadari banyak yang berubah dari hidupku. Aku memang amnesia, tapi aku tidak menyangka jika ternyata terluka karena kecelakaan. Padahal seingatku aku lompat dari gedung sekolah saat itu." Jenni terdiam, kini dia sedikit menunduk, tetapi sedetik kemudian mengembuskan napas kasar dan kembali tersenyum pada Liam. "Entah apa yang terjadi padaku setelah itu. Tapi aku cukup bersyukur karena Daddy kini menyayangiku dan banyak lagi orang di sekitarku yang selalu mendukungku. Bahkan semua masalah yang menimpa Daddy benar-benar telah selesai berkat bantuanmu. Kau berhak bahagia, Kak. Kita tidak perlu meneruskan hubungan ini jika memang terlalu berat bagimu. Karena ini juga berat bagiku. Aku seolah tidak pernah merasakan apa pun di saat di dekatmu. Maaf," ucap Jenni akhirnya mengakui perasaannya.


"Aku." Lidah Liam kelu. Dia tak mampu menjawab Jenni lebih jauh. Memang benar hubungan ini sangat berat baginya. Namun, penjelasan apa yang harus mereka yakini saat ini. Semua yang terjadi sungguh di luar logika. "Jika bukan kamu gadis yang kucintai. Lalu siapa?" ucap Liam pada akhirnya.


Jenni tidak mampu menjawab. Dia sendiri tak mengerti bagaimana situasi sebenarnya. Namun, sebuah ide terlintas di benaknya begitu saja. "Bagaimana caramu jatuh cinta padaku dulu?"


"Entah."


"Apa karena aku cantik?"


Liam menggeleng. "Aku bahkan mengamati sejak kau masih sebesar ini," ujar Liam mengembangkan kedua tangan memerlihatkan seberapa gemuknya Jenni terdahulu.


Kebisuan kembali terjadi. Liam berusaha mengingat dengan jelas apa yang menarik perhatiannya pada gadis di depannya pertama kali. "Ya, aku terpesona ketika kau bermain judi."


"Nah, itu." Jenni sangat antusias hingga menggebrak meja dan membuat beberapa pengunjung lain terkejut karenanya. "Aku mungkin tidak bisa membantumu mencarinya. Tapi yang pasti kau akan kembali jatuh hati dengan cara yang sama."


"Maksudmu meja perjudian?"


"Tentu saja. Sama seperti wanita yang ada di mimpiku. Sayangnya aku tidak tahu nama, tempat tinggal atau klu lainnya tentangnya. Tapi aku yakin, Kak. Jika kalian berjodoh pasti kau akan menemukannya."


Senyum semringah seketika terukir di wajah Liam. Dia lantas menghubungi Richard agar menjemput Jenni saat ini. "Terima kasih sudah menyadarkanku. Aku pasti akan menganggapmu adikku selamanya. Richard akan segera datang," pamit Liam senang sambil mengecup dahi Jenni untuk pertama dan terakhir kali setelah gadis itu membuka mata akibat kecelakaan.


Dia pun segera pergi meninggalkan Jenni seorang diri. Namun, Jenni tidak keberatan. Senyum di wajah Liam benar-benar sangat berbeda dengan sebelumnya. "Kau berhak bahagia, Kak," gumam Jenni menatap mobil Liam yang semakin menjauh.


To Be Continue