
"Kau harus membantunya mendapatkan keadilan juga rasa percaya diri jika ingin kembali ke kehidupanmu sendiri." Nenek itu lantas melepaskan tangannya dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Je yang masih mematung di tempatnya.
'Apa dia baru saja mengetahui kondisiku?' batin Je. Sesaat kemudian, gadis itu pun tersadar akan keterkejutannya dan mengedarkan pandangan ke segala arah, tetapi nenek yang tadi dia bantu sudah tidak ada bahkan jejaknya pun tak lagi ditemukan.
Je mencoba mencari ke sana kemari, hingga suara teriakan Jenni dan lambaian tangan gadis itu di seberang membuatnya mengurungkan niat untuk mencari tahu lebih jauh. "Apa aku baru saja bermimpi?" gumamnya sambil kembali melangkah menyeberangi jalan. Sesekali dia masih menoleh ke belakang dan berulang kali menggelengkan kepala.
"Apa kau melihat wanita tua tadi?" tanya Je pada Jenni.
"Wanita tua apa? Dari tadi kita hanya berdua." Tanpa banyak kata. Jenni kembali melingkarkan tangannya di lengan Je, sedangkan gadis tersebut tetap sesekali menoleh ke arah hilangnya sang nenek tua tadi.
'Apa aku baru saja berhalusinasi,' batin Je.
"Mungkin kau lapar. Ayo beli tteokbokki!" Jenni menarik tangan Je ke arah sebuah kedai yang menjual makanan di pinggir jalan. Meskipun Je hanya membatin, tetapi Jenni bisa mendengarnya dengan jelas.
Mau tak mau Je pun membeli seporsi tteokbokki untuk mereka dan memakan dengan perasaan was-was. Dia tetap tidak bisa menghilangkan bayangan akan peringatan nenek tua tadi. Keadilan apa yang dimaksud wanita itu? Bukankah Je sudah membawa Jenni hidup bahagia.
Tanpa membuang waktu, setelah mengisi perut keduanya pun kembali melanjutkan langkah menuju taman hiburan. Meskipun Je adalah putri dari orang kaya, tetapi benar apa yang diucapkan Jenni jika dia lebih suka bermain di kasino dibandingkan dengan tempat rekreasi. Mungkin sekarang adalah waktu terbaik baginya agar bisa rileks juga melupakan sedikit kerinduan akan keluarganya.
Keduanya bersenang-senang di taman tersebut, hingga tak lama kemudian, ponsel di saku Je berdering. Gadis itu mengernyitkan dahi di kala melihat nama pemanggil yang tertera di layar benda pipih tersebut.
"Jenni, Ayahmu kecelakaan! Cepatlah kemari!" Suara bariton Dokter Richard terdengar begitu jelas di telinga Je, hingga membuat es krim di tangannya seketika terjatuh begitu saja.
"Je, ada apa?" tanya Jenni di sampingnya.
"Di mana dia sekarang?" Tanpa menjawab pertanyaan Jenni, Je kembali bertanya pada Richard di sambungan dan pria tersebut lantas menyebutkan nama sebuah rumah sakit di pusat kota.
Tanpa banyak waktu, Je pun berlari keluar dari taman bermain tersebut dengan panik dan diikuti oleh jiwa Jenni yang bingung akan sikap Je. "Je, ada apa?" tanya Jenni di di saat duduk di kursi samping Je yang sudah memasuki taksi.
"Jalan, Pak! Rumah Sakit," ucap Je pada sang supir taksi. 'Ayahmu kecelakaan,' batin Je menjawab Jenni di sampingnya dengan perasaan tak menentu.
Meskipun tubuhnya saat ini bukanlah miliknya dan dia pun bukan putri pria itu, tetapi ada rasa nyeri juga panik yang seketika menyeruak menyebar di seluruh tubuhnya. Sama halnya seperti dia merasakan jika semua kejadian tersebut terjadi pada ayah kandungnya sendiri.
Entah mengapa Je merasa sesuatu yang besar akan terjadi. Apalagi cukup lama dia meninggalkan rumah itu, hanya Jenni yang sesekali pergi untuk menemui ayahnya tanpa diketahui oleh siapa pun karena hanya berupa jiwa yang bergentayangan ke sana kemari.
To Be Continue