
Suasana berubah hening setelah kepergian Jessica. Tiga orang yang masih duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu itu tidak ada yang membuka mulut lagi. Hingga seorang pelayan tiba meletakkan cangkir minuman di depan masing-masing orang.
"Minumlah," ucap Nich ramah.
Jantung William berdebar tidak tentu. Dalam hati, dia tengah menyusun kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksud pada kedua orang tua di depannya. Dia hanya mengangguk lantas mengambil cangkir tersebut untuk membasahi tenggorokan terlebih dahulu.
"Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu selama ini. Apa kau salah satu teman Jessica?" tanya Jesslyn tanpa basa-basi sambil mengambil cangkirnya juga.
Sebagai orang tua yang selalu mengamati perkembangan putra putrinya, tentu saja Nicholas dan Jesslyn tahu siapa saja yang berteman dengan mereka. Bahkan mantan pacar sekali pun. Namun, tidak dengan pria muda di hadapan keduanya saat ini.
Sifat Jesslyn yang keras terlihat begitu jelas dan cukup menakutkan bagi sebagian orang yang baru pertama kali menemuinya seperti Liam saat ini. Namun, bukan William Scorpion namanya jika dia menyerah begitu saja. Padahal sebelumnya Kare sudah memberitahu seberapa besar pengaruh keluarga Jessica di negara ini, tetapi tetap saja Liam dengan berani mengunjungi kediaman Light. Entah apa respons yang akan diterimanya, Liam akan siap. Tidak peduli jika dia mungkin akan mendapat respons terburuk sekali pun, setidaknya dia sudah berusaha mencoba.
Setelah mencoba menutupi kegugupannya, barulah mulut Liam bisa terbuka untuk berbicara. "Sebelumnya saya mohon maaf, Paman, Bibi. Karena saya datang kemari tanpa diundang. Perkenalkan nama saya William Scorpion." Dia berdiri dan membungkuk hormat pada dua orang tua di hadapannya, sebagai tanda menghormati mereka.
Nicholas mengangguk. "Duduklah! Tidak perlu seformal itu."
William pun merasa lega dengan respons Nicholas, tetapi belum sempat bokongnya menempel dengan kursi, lagi-lagi pertanyaan Jesslyn membuatnya terkejut.
"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanya Jesslyn sambil menyesap teh di tangannya.
Sejenak Liam berdeham, jantungnya seakan sudah bersiap melompat dari tempatnya saat ini juga. Dalam hatinya mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk dinyatakan, tetapi lidahnya seolah kelu mengeluarkan suara. Ternyata menghadapi dua orang tua demi meminta putrinya lebih menakutkan daripada berhadapan dengan seratus musuh sekali pun.
Bagaimana sambaran petir di pagi, Jesslyn sampai menyemburkan minumannya saking terkejut, sedangkan Nicholas langsung berubah ekspresi dan saling berpandangan pada sang istri di sampingnya.
"Kau tahu siapa kami?" tanya Jesslyn dingin.
Liam hanya mengangguk, meskipun belum mengenal secara pasti keluarga asli seorang Jessica Light, tetapi dia tidak bisa mundur semudah ini.
Jesslyn lantas memanggil salah satu pelayan dan tak butuh waktu lama sebuah berkas diberikan pada wanita itu. Dia membaca data demi data yang tertera di layar, lalu melirik Liam yang masih bergeming. Kini kegugupan tak mampu lagi Liam tutupi.
Suasana hening dan mencekam membuat pria itu semakin takut jika permintaannya akan ditolak. Namun, suara Jessica menuruni tangga memecah keheningan kala itu.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat tegang?" tanya Jessica langsung meraih sebuah camilan di meja dan memakannya sambil duduk di samping Liam.
"Kau! Ikuti aku!" perintah tegas Jesslyn pada Liam, sedangkan Jessica yang baru datang tentu saja bingung dengan apa yang terjadi.
Jessica hendak mengikuti Liam yang berdiri berdiri meninggalkan ruang tamu bersama sang ibu, tetapi suara bariton Nicholas menghentikan niatnya. "Je, tetap di sini. Ada yang ingin Daddy tanyakan."
To Be Continue