Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 26: Mendapatkan Keadilan


 Setibanya Je di rumah sewa, dia lantas melemparkan tas ke arah Jenni yang hanya tiduran di atas ranjang. Meskipun ibarat angin karena gadis itu sama sekali tak merasakan sakitnya. Akan tetapi, Je tetap menganggapnya ada mereka berdua tinggal satu atap layaknya sebuah keluarga. Jenni bahkan bisa makan atau melakukan apa pun asalkan diberikan oleh Je dan atas izin wanita tersebut. 


"Menyebalkan!" Jessica mendengus kesal sambil merebahkan tubuh di samping Jenni yang hanya berdiam diri di rumah seharian ini. Keseharian Jenni kini di jalani oleh Jessica, sedangkan sang pemilik tubuh bebas melakukan apapun yang dia suka.


"Kau kenapa?" tanya Jenni yang kini juga kurus seiras dengan tubuhnya di diri Je. 


"Kenapa penggemarmu banyak sekali? Menyebalkan! Mereka seperti lalat tak tahu diri yang menyebabkan banyak bakteri." 


Mendengar keluhan Je, Jenni hanya bisa mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa dia memiliki penggemar, jika sebelumnya teman  saja tidak ada. "Penggemarmu kali." Jenni lantas berdiri dari posisinya dan mengulurkan tangan kepada Je. "Je, ayo ke taman bermain? Aku belum pernah ke tempat seperti itu?" 


"Tidak mau! Itu tempat anak-anak dan kau bukanlah mereka," ujar Je sambil memiringkan tubuh dan memejamkan mata. 


Namun, Jenni yang sekarang bukanlah gadis polos seperti dulu. Dia kini memiliki kepercayaan diri yang cukup ketika bersama Je karena menganggapnya sebagai saudara. Je merupakan panutan bagi Jenni, meskipun sangat sulit untuk menjadi berani, tetapi berkat bantuan Jessica dia mampu melakukan itu. 


"Ayolah, Je! Bukankah kau juga tak pernah ke taman bermain?" Jenni terus mengusik ketenangan Je yang berpura-pura tidur. Dia bahkan berulang kali menarik tangan gadis itu agar terbangun dan beranjak dari posisinya. 


Sementara itu, Je hanya mencebikkan bibir mendengar tuduhan Jenni. "Siapa bilang aku tidak pernah ke taman bermain?" 


"Ya, taman bermainmu adalah perjudian. Bukan seperti anak-anak pada umumnya." Jenni terus menerus berbicara untuk membujuk Je agar menuruti keinginannya. Mau tak mau gadis itu pun segera beranjak dengan mendengus sebal. 


"Ya sudah ayo! Tunggu di sini aku mau ganti baju dulu!" Tanpa membuang waktu Je segera beranjak mengganti pakaian sambil berulang kali menggerutu tak ada hentinya. "Mimpi apa aku semalam, kenapa hari ini aku sial sekali?" 


"Ayo." Tanpa membuang waktu, keduanya pun bergerak keluar, untuk menuju taman hiburan bermain yang tak pernah mereka kunjungi sebelumnya. 


Sepanjang jalan Je hanya terlihat berjalan seorang diri karena memang Jenni hanya berupa jiwa tak terlihat yang tak diketahui orang lain. Namun, ketika hendak menyeberang gadis itu melihat seorang nenek tua yang kesusahan dan berniat membantunya. "Kau tunggu di sini sebentar!" ujar Je pada Jenni di sampingnya.


Tanpa banyak kata, Je langsung melangkah ke tepi jalan dan meraih lengan tua wanita tersebut, serta membantunya menyeberang jalan dengan perlahan, sambil melihat lalu lalang kendaraan karena mereka tidak berada tepat di zebra cross. 


"Terima kasih, Nak," ucap wanita tua bertongkat tersebut sambil menatap ke arah Je. 


"Sama-sama, Nek. Lain kali ajaklah cucumu jangan bepergian sendirian!" Je berpesan kepada Sang Nenek yang sudah tampak sangat tua dan renta. Di usia seperti itu seharusnya dia berdiam diri di rumah dan bukan berkeliaran di jalan sendirian seperti ini. 


Namun, ketika Je hendak berbalik karena Jenni masih berada di seberang, tangan wanita tua itu tiba-tiba saja meraih pergelangannya dan menghentikan niat Je untuk melangkah. "Ada apa, Nek? Apa Nenek masih membutuhkan sesuatu?" tanya Je keheranan melihat sang nenek yang menatap lekat dirinya. 


"Kau harus membantunya mendapatkan keadilan juga rasa percaya diri jika ingin kembali ke kehidupanmu sendiri." Nenek itu lantas melepaskan tangannya dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Je yang masih mematung di tempatnya karena terkejut akan kalimat wanita tua tersebut.


To Be Continue...


Jennifer Now