Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 22: Kecurangan Liam


Kemenangan malam ini, membuat Liam tertawa cukup keras, tetapi hal itu berhasil memanjing Je untuk mengerutkan dahi cukup lama. Entah mengapa dia merasa ada sesuatuyang aneh dengan priadi depannya.


Perlahan gadis itu melirik sinis ke arah Liam yang masih berbangga dan memindai setiap bagian tubuh pria itu. Hingga sesaat kemudian, pandangan Je berhenti di wajah Liam cukup lama.


"Tunggu!"  Dia berdiri dari posisinya dan perlahan melangkah mendekat ke arah Liam yang masih duduk di kursi dan melihat kepadanya.


 


Je meletakkan satu tangannya di meja hijau sambil membungkuk sedikit ke depan, sedangkan Liam memutar tubuh sehingga mereka saling berpandangan. Cukup lama dan lekat Je menatap Liam, hingga mengakibatkan para pengunjung lain saling berbisik apa yang ingin dilakukan gadis itu pada King Casino. 


Cukup dekat keduanya saling melihat, jika orang lain tidak mengerti mungkin akan mengira kalau Je hendak mencium Liam. Namun bukan itu yang terjadi karena secepat kilat Je meraih sesuatu di mata sebelah kanan pria itu dan membuat semua orang termasuk Liam terkejut akan apa yang dilakukan Je.


"Apa ini? Kau curang, Paman!" teriak Je sambil memerlihatkan sebuah softlens di jarinya.


Bagaimana Je tidak marah, itu bukanlah sebuah lensa kontak biasa, melainkan alat yang biasa dipakai para penjudi kelas kakap untuk mengetahui kartu lawannya, sehingga bisa memainkan berbagai trik dalam memprovokasi lawan ketika bermain.


Bukannya menyanggah apa yang dituduhkan Je, Liam malah mengeluarkan suara tepukan tangan cukup keras dan semakin kagum dalam hatinya kepada Je. Selama ini tak banyak orang yang tahu tentang hal tersebut karena kontak mata pejudi itu sendiri cukup mahal harganya, sehingga hanya mereka dari kalangan atas yang tahu ada alat seperti itu dalam perjudian. 


Hanya sederet kalimat dari mulut Liam berhasil membuat Je berang hingga mengepalkan kedua tangan dan tanpa aba-aba ketika pria itu hendak melangkah pergi Je berteriak dengan sangat keras. "Hei!" 


Mendengar teriakan Je Liam menghentikan langkah sambil memutar tubuhnya dan seketika Je mengayunkan kakinya dari bawah, mendarat tepat di kejantanan pria tersebut dengan sangat keras hingga membuatnya meringis kesakitan.


 "Jangan kira aku masih gadis dan kau bisa berbuat seenaknya saja. Paman sialan!" Tanpa perasaan Je melepaskan sebelah sepatunya dan menjejalkan di mulut Liam yang masih ternganga akibat tindakan. "Makan tuh sepatu! Gadis kecil sepertiku hanya punya sepatu yang ku anggap sebagai barang berharga!"


Tanpa memerhatikan respons dari para pelanggan lain, Je melangkah pergi meninggalkan Liam yang masih terduduk di lantai dengan kesal. "Ayo kita pergi!" ajak Je pada teman-temannya yang masih syok dengan tindakannya. 


Sementara itu, Kare di atas segera turun ke bawah untuk membantu tuannya yang masih meringis kesakitan dengan sebuah sepatu di mulutnya. "King."


Setelah meletakkan sepatu Je, Liam bukannya marah, tetapi malah tersenyum sambil terus melihat Je yang semakin menjauh dari jangkauannya. "Bukankah gadis kecilku sangat manis, Kare?"


Sang asisten hanya bisa menepuk dahinya sendiri melihat King yang terlihat seperti sudah terlanjur jatuh cinta akut pada Je. Bahkan kejadian memalukan baru saja tampaknya bukanlah apa-apa bagi pria itu.


TO be Continue....