Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 73: Cinta Pertama dan Terakhir


Hal tersulit bagi seorang ayah adalah melepaskan buah hatinya yang telah dirawat dengan sepenuh hati, kepada orang yang tak lain merupakan calon suami pilihannya. Dia adalah sosok yang pertama kali menyambut sang anak ketika pertama kali terlahir ke dunia, tetapi harus ikhlas menerima jika mereka pun akan memiliki kehidupan baru bersama orang pilihannya.


Nicholas menatap Jessica dan Williams secara bergantian. Tidak ada tanda-tanda paksaan dari keduanya, dan perasaan jatuh cinta itu pun samar-samar masih terlihat oleh mata tuanya. Meskipun keduanya berusaha untuk menutupi sebaik mungkin.


"Je, kau benar-benar menyukainya?" tanya Nicholas lembut pada sang putri.


Hanya anggukan malu yang bisa Jessica tunjukkan. Tanpa sadar pipinya bersemu merah berubah semerah buah apel, layaknya anak remaja jatuh cinta pada umumnya. Hal pertama yang Nicholas lihat dari gadis itu selama ini karena Jessica belum pernah menjalin hubungan asmara hingga sekarang.


"William, karena istriku sudah mengizinkanmu meminang putriku dan Jessica juga menyetujuinya. Maka aku sebagai seorang ayah juga hanya bisa merestui kalian." Sejenak Nicholas membelai lembut rambut Jessica. "Tahukah kamu akulah yang pertama kali memeluk dan menciumnya, ketika dia lahir ke dunia ini?" 


Semua orang di ruangan tersebut terdiam, mereka membiarkan Nicholas mengeluarkan perasaannya saat ini. "Dengan tanganku yang kini sudah rapuh, aku menggendongnya untuk pertama kali, bahkan sebelum kuberikan pada istriku untuk disusui." 


Lagi-lagi Nicholas terdiam, bayangan perjuangan melihat sang istri melahirkan ketiga buah hatinya kembali terngiang dalam benak pria itu. "Kami merawatnya sepenuh hati, dengan segala hal terbaik yang kami miliki. Setiap perkembangan kehidupannya selalu kami nantikan. Saat di mana dia mulai tersenyum, tertawa, merangkak, berjalan, bahkan menangis, dan bersedih akulah orang yang selalu ada untuknya." 


Nicholas beralih pandangan, dia menatap lekat pria muda di hadapannya saat ini. "Sekarang kau datang setelah lebih dari dua puluh tahun kebersamaan kami, dan dia pun memilihmu sebagai pendamping hidupnya." Dia pun menundukkan kepala, kedua jarinya menghapus setitik air yang berada di sudut matanya. Berat sekali perasaan seorang ayah melepaskan putri tercintanya terhadap orang lain. 


"Tidak ada yang bisa aku lakukan sebagai orang tua selain mendoakan kebahagiaan kalian. Aku harus ikhlas melepaskannya padamu yang akan menjadi pendamping seumur hidup kalian. Tapi, jika kelak kau tidak sanggup memenuhi janji itu, dan kau tidak mencintainya lagi, atau kau menemukan orang baru yang menurutmu lebih mempesona dibandingkan dia. Maka katakanlah padaku saat itu juga. Jangan sakiti dia! Kami masih berada di sini setiap saat. Bersedia menerimanya kembali untuk menjemputnya dan memberikan seluruh cinta yang kami miliki padanya." 


Rasa haru seketika memenuhi ruangan tersebut akibat kalimat Nicholas. Jesslyn bahkan tak mampu berkata-kata lagi, seandainya orang tuanya masih ada. Mungkin dia juga akan mengalami hal serupa sebelum melangkah ke jenjang pernikahan dulu, sedangkan Jessica langsung menangis dan memeluk erat tubuh sang ayah. 


"Tidak pernah Daddy kira. Kini putri kecilku ternyata telah beranjak dewasa. Haruskah Daddy menggendongmu lagi di saat kau menangis seperti ini?" ujar Nicholas mengusap punggung putrinya.


William menarik napas dalam-dalam mendengar betapa dalam kalimat-kalimat yang disampaikan Nicholas. Meskipun seorang pria, tetapi ingin sekali dia mengeluarkan air mata haru saat ini juga. Namun, sekuat tenaga pria tersebut mencoba menahannya. Beruntung sekali sosok Jessica memiliki kehidupan yang sangat baik dan berada di antara kedua orang tua yang bijak.


"Willams, kemarilah!" pinta Nicholas.


William lantas duduk di samping Nicholas. Pria tersebut menyatukan tangan putri dan calon menantunya di atas telapak tangannya. "Sekarang aku percayakan tugas menjaganya padamu, Nak. Mungkin dia bukanlah wanita yang sempurna dan terlalu banyak kekurangan. Tapi aku harap kau mau menerimanya dengan setulus hatimu."


Sejenak Liam terdiam dan menatap Jessica yang matanya merah, penuh dengan air. Dia lantas mengalihkan pandangan pada Jesslyn yang sudah membuang wajah karena tidak ingin kesedihannya terlihat. Liam lantas kembali menatap sosok pria yang tak lagi muda di hadapannya itu.


"Paman, terima kasih sudah memercayakan putri tercintamu padaku. Kalian begitu luar biasa hingga Jessica tumbuh menjadi perempuan yang juga luar biasa mempesona di mataku, sejak awal aku melihatnya. Mungkin kasih sayang yang berikan padanya tidak cukup untuk mengimbangi cinta yang telah kalian curahkan selama ini. Aku tidak akan menjanjikan kata-kata manis yang tidak bisa kutepati. Tapi, aku berjanji akan menjadikannya satu-satunya pendamping seumur hidupku ini. Dan apa pun yang terjadi, aku akan selalu menjaganya dengan tulus, meskipun harus mengobarkan segala hal yang kumiliki. Termasuk jiwa dan ragaku. Kehadiranku di sini bukanlah untuk menggantikanmu menjadi cinta pertama Jessica, Paman Nicholas. Tapi, izinkan aku yang tak sempurna ini, menjadi penyempurna hidupnya dengan cinta kasih yang kumiliki. Begitu pun sebaliknya."


Kalimat tulus yang diucapkan William berhasil menyentuh hati Nicholas. Tidak ada kata-kata yang menunjukkan kesombongan. Dia pun puas akan jawaban calon menantunya.


"Aku merestui kalian." Mereka pun berpelukan bersama dalam suasana haru hari itu. Dan kisah ini akan tamat dua episode lagi.


To Be Continue..