
Pagi harinya Liam kembali menunggu Je di tepi jalan tempat di mana bangunan tempat tinggal Je berada. Dia bahkan menunggu sejak pagi buta karena heran kemana perginya gadis itu.
Hingga beberapa saat kemudian, sebuah mobil putih tampak berhenti di seberangnya yang membuat pria tersebut seketika membelalakkan mata di saat melihat Je keluar dari sana. Tanpa membuang waktu Liam pun segera melangkah keluar dengan amarah yang membuncah di wajahnya. “Je, dari mana saja kau?” teriak Liam dengan tampak geram melihat Je yang baru pulang pagi itu bersama pria yang mengganggunya kemarin.
“Paman, kenapa kau ada di sini?” tanya Je heran melihat Liam yang sudah ada di depan bangunan rumahnya pagi-pagi sekali.
“Tak penting kenapa aku di sini. Tapi bagaimana bisa kau tak pulang semalaman dan malah bersama pria tengik ini, hah?” teriak Liam dengan emosi yang tak terkontrol karena merasa cemburu.
“Kau menguntitku, ya? Bagaimana bisa, Paman tahu aku tak pulang sejak semalam?" teriak Jetak kalah kerasnya.
“Ti—tidak!” Liam hanya bisa nyengir kuda mendengar tuduhan Je langsung padanya. “Aku hanya khawatir melihatmu pulang sendirian kemarin. Jadi, aku ke sini dan menunggumu sampai pagi ini,” ucap Liam beralaskan, tetapi malah mendapatkan lirikan tajam dari Je.
“Alasan,” gumam Richard lirih, sayangnya masih bisa didengar oleh telinga tajam Liam.
“Hei, kau! Ke mana kau membawa gadisku pergi semalam?” Liam mencengkeram kuat kerah kemeja yang dikenakan Richard, membuat Je hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah kedua pria itu sejak kemarin.
“Sepertinya kau sangat mengkhawatirkannya, Paman? Baiklah, terima kasih atas tumpangannya. Sepertinya kau harus menjelaskan banyak hal pada kekasihmu ini supaya dia tidak melabrakku lagi nantinya,” ujar Je yang langsung melangkah pergi meninggalkan keduanya karena dia kelelahan menjaga sang ayah selama masa kritis malam tadi.
“Jangan ganggu dia! Biarkan Je tidur karena dia sudah cukup lelah semalam.’”
Kalimat ambigu yang keluar dari mulut Richard sontak membuat Liam membelalakkan mata dan langsung memukul pria tersebut tanpa aba-aba. “Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?” bentak LIam dengan wajah merah padam. Bahkan pukulannya berhasil membuat Richard terjerembab dan berdarah di sudut bibirnya.
“Seharusnya aku yang bertanya apa yang ada di pikiran kotormu itu?” Richard berbicara tak kalah kerasnya dari Liam sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah tersebut.
“Apa yang bisa dilakukan pria dan wanita setelah semalaman tidak pulang?” Dengan deru napas yang tak beraturan dan emosi yang berapi-api, Liam masih berusaha menuduh keduanya dengan hal yang bukan-bukan. “Jangan bilang kalian—”
“Menjaga ayahnya yang kecelakaan semalam.” Richard dengan cepat memotong tuduhan Liam karena dari atas Je tampak memerhatikan obrolan keduanya. Dia pun memberikan kode para Liam agar melihat ke arah di mana Je berada karena tak ingin gadis itu kecewa karena dianggap sebelah mata.
Liam pun hanya bisa membeku seketika di saat melihat Je di atas tampak menggeleng kecil mendengarkan obrolan keduanya saat ini. Dasar pria kolot," ucap Je lirih dan langsung melangkah pergi ke dalam rumah dan tak lagi melihat perdebatan kedua pria itu.
“Dasar bodoh! Kenapa tak bilang dari tadi, hah?” teriak Liam pada Richard sambil melangkah ke atas tempat di mana tempat tinggal Je berada.
“Kau yang bodoh tak bertanya sejak tadi!” dengus Richard sambil berdiri dari posisinya dan kembali menuju mobil karena dia sendiri juga belum pulang sejak semalam.
To Be Continue...