Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 36: Menemukan Sesuatu


Setelah meninggalkan Su Man To bersama dengan Lary dan Jeni di rumah sakit, Je pun bergegas mencari tahu apa yang seharusnya dan memilih mencari bukti dengan pulang ke kediaman To terlebih dahulu. “Kau tunggu di sini. Aku akan mengabarimu jika terjadi sesuatu,” ujar Je pada Liam ambil melepaskan Seat Belt di tubuhnya.  


“Tunggu! Berikan ponselmu!” Liam menengadahkan tangannya dengan santai kepada Je. 


Sementara itu, Je yang sedang tidak ingin berdebat memilih memberikan ponselnya. Ternyata Liam menggunakan benda tersebut untuk menghubungi dirinya sendiri. “Biarkan tetap tersambung! Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu.”


“Kau pikir aku wanita lemah?” Tanpa menanggapi lebih jauh, Je lebih memilih bergegas keluar dari mobil dan melangkah menuju kediaman tersebut. Entah kedua setan itu ada di rumah atau tidak, tetapi dia hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk atas semua itu.


Nyatanya sesampainya di dalam hanya ada para pelayan yang berada di rumah, sedangkan Rose dan Min Ten, entahlah tak terlihat bulu hidungnya. “Di mana ruangan kerja Ayahku," tanya Je tanpa basa basi pada seorang pelayan di sana.


“No–nona kedua.” Mereka tampak terkejut melihat penampilan Je yang sungguh berbeda setelah berbulan-bulan lamanya meninggalkan kediaman To. Je yang dulunya gendut dan jelek, kini tampak sangat memesona serta cantik. Apalagi rambut kucelnya yang hampir gimbal berubah menjadi pendek. Sangat cocok untuk gadis seusianya.


Sejak kejadian terakhir kali di mana dia diusir, gadis itu memang tak pernah lagi kembali ke tempat ini. Bahkan jika bukan karena harus mencari keadilan untuk Je agar dia bisa kembali ke tubuhnya sendiri. Gadis tersebut sudah malas melihat iblis berwujud manusia di kediaman yang mereka sebut rumah. 


"Di–di sana, Nona," tunjuk pelayan itu pada sebuah ruangan. 


Tanpa membuang waktu, Je bergegas pergi ke ruangan tersebut yang nyatanya tak dikunci. Namun, dia sejenak mengernyitkan dahi di saat melihat beberapa tumpukan berkas yang tampak berantakan, seperti sudah ada orang lain yang lebih dulu mencari sesuatu di sini. 


Dia terpaksa harus melakukan hal ini karena kecurigaan semakin kuat saat di mana Su Man To hampir diculik, tiba-tiba saja bertepatan dengan CCTV rumah sakit tengah mati karena perbaikan. Hingga mereka tidak tahu siapa orang yang hampir membawa pria itu, terlebih lagi Jenni hanya melihatnya tanpa ingat siapa perawat tersebut. 


Hal itu tentu saja membuat Je semakin yakin, jika ada seseorang yang sengaja berniat mencelakai Su Man To. Entah apa yang sudah ayah Jenni itu lakukan sampai-sampai bisa meninggalkan teka teki menyebalkan bagi Jessica. 


"Apa biasanya yang jadi masalah seorang pengusaha?" ujar Je bermonolog. 


Sejenak gadis tersebut mengedarkan pandangan ke segala arah. Selama ini memang dia tak pernah mengurus urusan orang tua, apalagi masalah perusahaan. Kedua orang tuanya di Amerika cukup duduk manis dan kakak-kakaknya juga bisa menggantikan, sedangkan Je cukup bermain dan menghabiskan uang. 


Pandangan mata gadis itu terhenti di saat memikirkan sesuatu, dia menoleh ke bagian bawah kolong meja. Sayangnya tidak ada tempat penyimpanan rahasia di sana. "Sialan! Kenapa sulit sekali?" 


Sesaat kemudian, dia kembali mengedarkan pandangan sambil berjalan mencari-cari mana tahu ada brankas berkas di sana. Akan tetapi, ternyata juga tak ada, hingga saking kesalnya Je mengentakkan kaki di atas lantai yang ditutupi sebuah karpet dan terdengar suara kosong di sana.


Je mencoba beralih posisi, tetapi lantai lainnya terasa penuh. Dia pun menggulung karpet tersebut dan berulang kali mengetuk-ketuk lantai. "Dapat!" ucapnya dengan sebuah senyum merekah indah di wajahnya. Namun, setelah menemukan hal itu, dia masih bingung jika Su Man To memiliki penyimpanan di bawah lantai, bagaimana cara membukanya. 


Tak ingin terlalu banyak berpikir lagipula waktu mereka tak banyak, Je memilih melangkah ke mendekati pelayan lagi. "Berikan aku palu yang besar!"


"Tapi, untuk apa, Nona?" tanya pelayan tersebut dengan tubuh sedikit gemetar karena takut Min Ten segera tiba. 


"Berikan secepatnya atau aku akan membunuhmu!" ujar Je santai sambil memainkan sebuah pisau buah di depannya dan berulang kali menusuk apel seolah-olah itu adalah targetnya. 


Sang pelayan hanya bisa menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Sungguh nona kedua sekarang bukanlah orang yang mudah ditindas, bahkan dibantah pun enggan. 


Mau tak mau pelayan segera mengambilkan palu besar di ruangan perkakas dan memberikan ke pada Je. "Ini, Nona." 


Je menarik palu godam tersebut dengan santai, layaknya seorang psychopath yang hendak menghancurkan targetnya menggunakan benda tersebut. Akan tetapi, bukan hal itu yang akan dilakukan gadis tersebut karena dengan kekuatan penuh dia memukulkan godam ke lantai marmer hitam tersebut tanpa ragu. 


Suara hantaman keras antara godam dan marmer yang pecat membuat beberapa pelayan di kediaman itu penasaran dengan apa yang dilakukan Je. Mereka pun mengintip sedikit di pintu dan melihat apa yang gadis itu lakukan. Entah berapa kali Je memukulnya benda berat tersebut ke lantai hingga akhirnya pecah dan tampaklah apa yang ada di dalamnya. 


Dengan senyuman indah Je mengambil brankas besi tersebut. Cukup berat, tetapi dia berhasil membawanya dengan susah payah. "Mau saya bantu bawakan, Nona?" Seorang pelayan mencoba menawarkan diri. 


"Tidak perlu." Tanpa membuang waktu, Je langsung membawa kotak itu ke mobil Liam dengan susah payah. "Ayo cepat pergi!" 


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Liam. 


"Entahlah, mungkin bom." 


Liam hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Je dan langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan kediaman To. Selama mendengarkan apa yang dilakukan gadis itu melalui ponsel, dia cukup terkesan dengan cara berpikir Je yang bisa dibilang cerdas. Hal itu membuatnya semakin yakin untuk mengambil hati Je.


Sementara itu, setelah kepergian Je, seorang pelayan yang menjadi mata-mata di rumah tersebut seketika menghubungi seseorang yang membayarnya lebih. "Putrinya mendapatkan sesuatu di ruang kerjanya," lapornya pada seseorang di ujung panggilan. 


To Be Continue..