Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 72: Pertukaran Adil


Jesslyn dan William berdiri di sebuah taman belakang. Tempat di mana para kucing kesayangannya bermain dan bebas berkeliaran. Keduanya hanya terdiam untuk waktu yang lama. Tentu saja hal tersebut menambah kegugupan dalam diri pria muda di samping Jessi itu.


Dengan santai Jesslyn duduk di anak tangga, menatap para kucing yang kini sudah beranjak dewasa, sedangkan induknya mulai melemah karena usia. Bahkan ada juga yang mati setelah cukup lama menjadi bagian dari keluarga Light. "Duduklah!" perintah Jessi pada Liam.


Pria tersebut duduk tepat di samping calon ibu mertuanya. Namun, siulan Jesslyn tiba-tiba membuat beberapa harimau berlari ke arah mereka dan langsung mendekati Liam tanpa di minta.


Liam yang terkejut seketika terjengkang ke belakang, tetapi hewan-hewan tersebut malah menjilat pipinya layaknya kucing jinak. Jangan tanya perasaannya saat ini, jika di alam liar Liam pasti sudah menarik pelatuknya ketika mereka mendekat. Akan tetapi, para hewan tersebut tinggal di kediaman ini. Di mana artinya ibu dari sang pujaan hati bisa mengujinya kapan saja.


"Cukup, Light! Pergilah bermain!" Hanya dengan sebuah kalimat dari mulut Jesslyn. Para hewan tersebut kembali berlarian ke taman yang luas. Jessi mengulurkan sebuah sapu tangan untuk menghapus noda-noda di tubuh menantunya tersebut tanpa mengatakan apa pun.


Sesaat setelah Liam siap dan duduk dengan tenang, Jesslyn memberikan data yang dia dapatkan pada pria muda di sampingnya. "Semudah itu kami mendapatkan informasi yang bahkan orang lain mungkin tidak tahu. Tentu saja itu hanya data, sedangkan perasaan kau lebih memahami hal itu."


Liam hanya mengangguk, nyatanya keluarga gadis pujaannya memang memiliki kemampuan yang tak bisa dianggap remeh jika niatnya jahat sejak awal.


"Katakan tujuanmu meminta putriku menjadi pendamping hidupmu?" tanya Jesslyn dengan nada rendah setelah cukup puas terhadap sikap Liam.


Ditanya dengan pertanyaan seperti itu untuk pertama kali adalah suatu hal yang baru bagi Liam. Sebelumnya dia sudah berlatih kemungkinan-kemungkinan yang akan orang tua bicarakan padanya. Akan tetapi, ketika menghadapi secara langsung ternyata bibirnya kelu, seolah tertutup rapat di waktu yang tidak tepat.


Dia menatap lurus ke depan, sebuah senyum melengkung di wajah tatkala mengingat kembali bagaimana Liam jatuh hati untuk pertama kali pada Je. Konyol memang. "Bibi, jika ku katakan padamu aku jatuh hati pada Jessica sejak pertama kali melihatnya, apa kau akan percaya?"


"Cih, lagi-lagi kau seperti mengingatkan aku pada masa muda. Bukan mustahil mencintai seseorang dalam waktu dekat. Tapi, apa kau pikir itu hanya sebuah candaan? Bagaimana jika ternyata cintamu hanyalah sebuah rasa penasaran dan berakhir dengan perceraian setelah kau mendapatkan cinta yang baru?" Masa lalu tentu saja mengajarkan Jesslyn untuk lebih berhati-hati. Dia tidak ingin putrinya harus mengalami nasib yang sama dengannya dulu. Sudah cukup baginya jodoh singgah pada orang yang salah. Jangan sampai Jessica merasakannya juga.


Liam tersenyum kecil sambil menunduk. "Aku pernah berpikir seperti itu, apakah cinta hanya sebuah rasa penasaran." Dia lantas menggeleng kecil. "Bibi, mungkin apa yang aku ceritakan berada di luar nalar. Tapi, aku harap Anda memercayainya."


Hal terbaik yang bisa Liam lakukan saat ini adalah bercerita dengan jujur tentangnya selama ini pada Jesslyn. Wanita tersebut mendengar ceritanya dengan seksama sambil sesekali bertanya. Banyak hal yang memang bisa terjadi di luar akal sehat manusia, tetapi Liam yakin jika Jesslyn akan mengerti kejujurannya saat ini.


Lagi-lagi Liam mengangguk.


"Baiklah, ceritamu mungkin di luar akal sehat dan aku adalah orang yang berakal sehat. Hal apa yang bisa kau buktikan jika memang kau serius pada putriku?"


"Apa yang Anda inginkan sebagai bukti, Bibi? Aku tidak bisa menjanjikan bahagia seumur hidupnya karena hidup ini tentu akan banyak ujian yang kami hadapi. Tapi, aku berjanji untuk melakukan yang terbaik baginya dan setia hanya padanya selama sisa hidupku ini."


Jesslyn lantas memanggil salah satu pelayan. Sebuah berkas kembali diserahkan padanya dan dia berikan pada Liam. "Nak, kau tahu aku adalah seorang wanita yang realistis? Janji? Kau bisa mengingkarinya kapan saja. Tapi, kau seorang pebisnis yang handal. Pasti tahu apa jaminan untuk semua itu."


Liam terdiam untuk waktu yang lama, dia lantas mengambil pena dan menggoreskan tinta di setiap lembar demi lembar kertas di depannya. Tanpa ragu, pria tersebut memberikan seluruh hartanya sebagai jaminan akan ketulusan. Di mana setelah sebelum pernikahan semua itu akan berubah menjadi atas nama Jessica Light.


Sebuah senyum merekah di wajah Jesslyn. Ekspresi menyeramkan berubah dalam sekejap mata, menjadi sosok wanita yang bahkan memiliki watak sama dengan Jessica dulu. "Baiklah, dengan senang hati aku mengizinkan kau menikahi putriku. Hei! Kalau kau akan seroyal ini. Harusnya kau datang sejak dia masih bayi. Sangat merepotkan menghidupinya dari dulu. Selalu saja menguras habis kesabaran juga kantongku."


Ekspresi yang diberikan Jesslyn tentu saja membuat Liam tercengang. Namun, tiba-tiba saja suara seorang gadis di belakang mereka dengan wajah merajuk menghentikan obrolan keduanya. "Mommy, kau menjualku?"


"Tentu saja. Ini harga yang sepadan dengan bayaran merawatmu selama ini. Dasar tidak sopan! Sukanya menguping pembicaraan orang lain." Dengan hati yang berbunga dan berkas di tangannya Jesslyn melangkah ke dalam rumah, sedangkan Jessica mengerucutkan bibir mengikuti dari belakang.


"Mommy!" Jessica bersikap merajuk. Namun, tak digubris oleh sang ibu dan berakhir dengan mengentakkan kaki karena kesal. Dia langsung menggandeng tangan sang ayah dengan sikapnya yang manja. "Daddy, lihat istrimu! Tega-teganya dia menjual putrinya sendiri dan menukarku dengan uang."


"Sudahlah, Nak. Ayo kita masuk!" Ajak Nicholas pada sang putri dan calon menantunya.


To Be Continue...