
Kedatangan Je ke sekolah bersama William membuat para siswa dan guru lain yang menyaksikannya cukup terkejut. Termasuk kakak tirinya–Rose To–dan dokter sementara di sekolah itu–Richard. Tanpa memedulikan ekspresi mereka Je segera melangkah pergi meninggalkan Liam yang terus mengeluarkan isi perutnya karena ulah Je.
Di sisi lain, Rose yang melihat Je diantar oleh pria tampan dan tampak mapan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dua teman di sampingnya pun heran menyaksikan perubahan Jenni beberapa bulan terakhir ini. "Rose, bukankah itu adik tirimu? Bagaimana bisa dia menggaet pria tampan seperti itu," ucap teman Rose.
"Entahlah, dia sudah bukan bagian dari keluarga kami lagi karena Daddy mengusirnya malam itu." Rose menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Liam. Meskipun pria itu sedang melakukan hal menjijikkan, tetapi tampak tak memudarkan ketampanannya.
"Di usir? Kenapa?" tanya teman Rose dengan antusias.
"Terakhir kali dia pulang pagi. Daddy yang mengetahui hal itu langsung murka dan mengusirnya," jawab Rose dengan santai.
"Dia pasti habis menjual diri. Lihat saja penampilannya sekarang! Dapat uang dari mana coba bisa menguruskan tubuh sampai sekecil itu kalau bukan dari menjadi simpanan Om-om." Dalam hati teman-temannya Rose merasa iri akan perubahan Je yang tampak semakin menarik saat ini. Tak hanya cantik, tetapi gadis itu tampak lebih menawan bahkan bagi sesama wanita.
"Iya, dia pasti mencari sugar daddy demi semua itu," sahut teman yang lainnya.
"Tapi, kalau sugar daddynya setampan itu aku sih mau."
Rose hanya bisa memicingkan mata mendengar antusias teman-temannya. Dalam dirinya juga merasa iri dengan perubahan Je saat ini. Awalnya dia mengira wanita itu akan jadi gelandangan setelah keluar dari kediaman To. Namun, nyatanya Jenni malah tampak semakin mempesona bahkan sekarang menjadi pusat perhatian siswa dan guru di sekolah.
"Tunggu sebentar! Aku akan membantunya." Sejenak Rose meninggalkan teman-temannya untuk berusaha mendekati Liam yang masih membungkuk di tepi jalan. Gadis itu menyibakkan rambutnya yang tergerai ke samping terlebih dahulu ketika langkahnya semakin dekat. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rose kepada Liam dengan sangat lembut.
Liam hanya melirik sekilas ke arah Rose tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Dia masih melanjutkan aktivitasnya untuk beberapa saat, hingga tak lama kemudian pria tersebut beranjak pergi dan tak mengindahkan kehadiran Rose. Seolah gadis tersebut tak pernah ada sebelumnya.
Dia bergegas kembali ke dalam mobil dan melajukan kendaraan tersebut meninggalkan kawasan sekolahan itu. Sementar itu, Rose yang diabaikan kehadirannya hanya bisa mendengus kesal sambil mengentakkan kaki ke tanah. "Sialan! Lihat saja nanti!"
"Rose, bagaimana? Apa kau tahu siapa namanya?" Kedua temannya tampak antusias mendekati Rose, tetapi dengan kesal gadis itu malah melenggang pergi meninggalkan keduanya.
Rose dan Jenni tidaklah berada dalam satu kelas. Kejadian pagi itu sungguh membuatnya malu karena pengabaian pria yang bersama Je. Seakan tak kehabisan cara, Rose malah memprovokasi teman-temannya agar menyebarkan berita tentang Je yang menjual diri.
Berita begitu cepat menyebar, hanya dalam hitungan jam para siswa wanita tampak melirik sinis di kala Je berjalan melewati mereka. Beruntungnya Je adalah sosok yang acuh dan setelah jam istirahat tiba, dia pun segera pergi ke kantin untuk mengisi perut.
"Je, apa kau sudah dengar?" tanya Sam sambil meletakkan makanan di meja.
"Kau belum bicara apa yang bisa aku dengar?" ujar Je dengan santai sambil menyuapkan potongan sayur mayur mentah di depannya ke dalam mulut. Dia memang menjaga pola makan sehat, meskipun tak makan nasi, tetapi buah dan susu sudah cukup untuk memberinya nustrisi karena Je hanya ingin diet alami tanpa operasi.
"Anak-anak lain membicarakanmu."
"Mereka bilang kau adalah simpanan Om-om."
"Ada juga yang bilang kau menjual diri dan jadi Sugar Baby."
Secara bergantian dan tampak panik, Sam, Han, dan Lu tampak melaporkan apa yang dia dengar sepanjang jalan tadi. Mereka sendiri tak mengerti dari mana gosip itu bisa menyebar, tetapi yang lebih membuat ketiga pria itu heran adalah ekspresi Je yang tak ubah dari sebelumnya. Dia tetap memakan makanannya ke dalam mulut, hingga membuat Sam kesal dibuatnya.
"Je, apa kau tak mendengarkan kami, hah?" teriak Sam kepada Je hingga membuat para siswa lainnya di tempat itu kembali saling berbisik-bisik tetangga.
"Aku dengar. Kau pikir aku tuli mendengar suaramu yang memekakkan telinga itu," jawab Je santai sambil meminum susu kotaknya.
"Lalu?"
"Lalu apa? Kalian tahu sendiri aku memang tiap malam menjadi sugar baby yang menguras kantong para bandot tua itu di meja judi. Jadi, untuk apa aku tersinggung. Siapa yang tahu jika salah satu ayah mereka adalah korbanku selanjutnya." Kalimat santai Je berhasil membuat Sam dan teman-temannya menepuk jidatnya sendiri.
Bagaimana bisa seorang gadis malah bangga ketika banyak orang yang mencemooh dirinya dan menganggapnya jual diri. Sungguh perubahan sifat yang cukup signifikan dibandingkan dahulu ketika gadis itu masih gemuk dan polos yang hanya bisa menangis ketika dirundung.
To Be Continue...