
Tanpa siapa pun sadari, apa yang terjadi di villa tersebut di lihat oleh seorang pria di tempat lain. Dia sudah menempatkan mata-mata di setiap tempat tanpa dicurigai oleh penghuni rumah itu sendiri.
Dia duduk sambil melihat apa yang terjadi dengan sebuah sorot tajam mengerikan. Tangannya semakin kuat mencengkram sebuah gelas di tangannya dan di saat melihat Je yang keluar villa, dia akhirnya mengentakkan gelas ke atas meja hingga benda tersebut pecah karenanya.
Seorang wanita lantas masuk dengan raut wajah khawatir mendengar sedikit kekacauan itu. “Apa terjadi sesuatu, Tuan?”
Untuk sesaat pria itu hanya terdiam dan tak menanggapinya. “Gadis itu terlalu liar jika dibiarkan berkeliaran,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari video di depannya.
“Maksud Anda Nona Jennifer, Tuan?” tanya sang wanita memastikan.
Hanya sebuah anggukan kecil yang bisa pria itu berikan sebagai jawaban. Dia mengambil napas sejenak sambil memejamkan mata dan meremas pecahan beling di tangannya semakin kuat. “Jangan biarkan seekor kucing liar menghancurkan semua rencanaku! Kita mulai semua sekarang dan jangan biarkan satu orang pun lolos!”
“Baik, Tuan.”
_________________
Di sisi lain, Je yang sudah selesai dengan urusannya langsung bergerak menuju apartemen tempat tinggal Liam. Bukan Je namanya jika tidak tahu selama ini dirinya di awas dari kejauhan. Apa lagi Liam terlalu terang-terangan dalam mendekatinya.
Tiba di sana, Je langsung membunyikan bell apartemen tersebut tanpa ragu dan tak butuh waktu lama seorang pria yang dimaksud membuka pintu dengan wajah semringah. “Baby, bagaimana kau tahu tempat tinggalku? Apa kau begitu merindukanku hingga datang ke sini?”
Je menghiraukan pertanyaan Liam dan menerobos masuk begitu saja. Dia langsung melangkah ke dalam dan mengedarkan pandangan ke segala arah. “Ternyata tempatmu cukup bersih untuk ukuran pria semenyebalkan dirimu, Paman.”
Entah hinaan atau pujian yang tenga Je lontarkan saat ini, tetapi Liam hanya bisa menanggapinya dengan bangga. Lagi pula baru kali ini Je berinisiatif mendatanginya terlebih dahulu. Biasanya dia yang selalu mengejar wanita itu tanpa henti.
“Aku akan membelikanmu tempat tinggal yang lebih layak nanti kalau kau mau, Baby,” tawar Liam sambil menyerahkan sekaleng minuman soda pada gadis itu.
“Paman, bisakah kau membantuku lagi?” ujar Je beralih posisi hingga keduanya saling berhadapan. “Cari tahu nomor telepon istrinya Mon Nyong!”
“Tunggu sebentar!” Tidak perlu waktu lama. Apa yang Je inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah.
Senyum mengembang di wajahnya saat itu juga. Dia lantas menekan nomor yang diberikan Liam dan menghubungi seseorang di seberang agar segera datang ke villa dengan niat ingin memberikan kejutan.
Liam hanya diam dan menyibakkan anak rambut Je kebelakang di saat gadis itu tengah asyik menghubungi sang istri sah. Setelah semuanya selesai Je menutup ponselnya dan kembali menatap Liam.
"Apa kau sesenang itu bisa membas mereka, Baby?" tanya Liam lembut.
"Aku bukannya senang. Hanya ingin menambahkan sedikit kejutan pada mereka, anggap saja sebagai makanan penutup hari ini," jawab Je santai.
Mon Nyong memang memiliki istri yang terkenal pencemburu, jelek, tetapi cukup kaya. Karena itulah dia bersedia menikahi wanita tersebut. Hanya saja yang namanya manusia serakah memang tidak akan puas dengan satu hal. Sebab itulah dia masih memiliki Ju Min Ten sebagai simpanan dan juga berbuat ilegal demi keuntungan pribadi tanpa sepengatahuan istrinya.
Setelah selesai dengan urusan terakhirnya, Je meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap sungguh-sungguh ke arah Liam. "Paman, apa kau benar-benar menyukaiku?"
"Jadi memang Jenni yang kau suka," batin Je sedikit nyeri mengetahui Liam menyukai sejak dulu. Di mana artinya dia memang sudah mengincar gadis ini, dengan atau tidak adanya dirinya dalam diri Jenni. "Baiklah aku percaya padamu. Sekarang aku akan lebih tenang mengatakan semuanya."
"Maksudmu, Baby?" Liam yang keheranan dengan sikap Je hanya bisa mengernyitkan dahi.
Namun, dengan cepat Je mangambil sebuah USB dan menyerahkannya pada Liam. "Mari bekerja sama, Paman! Kau harus berjanji padaku, jika terjadi sesuatu kau harus tetap berada di pihakku dan membantu ayahku menyelesaikan semuanya," ucap Je bersungguh-sungguh sambil menatap mata Liam.
"Apa maksudmu ini, Baby? Memangnya kau akan ke mana? Tentu saja aku akan membantumu dan selalu berada di pihakmu. Hanya saja, jangan memberiku teka teki yang tak bisa aku pahami!"
Je hanya tersenyum menanggapinya. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi kali ini dan dia hanya ingin mengantisipasi dengan memercayai Liam. Semoga kali ini pilihannya tidaklah salah.
"Sudah jangan banyak tanya, Paman! Bukankah tadi kau mengajakku makan malam? Bagaimana kalau sekarang? Aku sudah lapar." Je mengubah topik pembicaraan kali ini. Setidaknya dia berharap memiliki satu kenangan indah bersama Liam, mumpung jiwa Jenni tidak bersama saat ini.
"Kau lapar? Apa yang kamu inginkan, Baby? Biar aku yang membuatnya untukmu." Benar saja, dengan mudah Liam mengalihkan topik juga. Bukan karena dia tidak khawatir akan maksud Je. Namun, lebih ke ingin memberikan gadis itu kenyamanan. Baginya yang terpenting saat ini, sang kekasih sudah bersedia percaya padanya dan mau berbagi kesulitan bersama. Urusan masalah, dia bisa mencari tahu lebih dalam nanti.
"Apa kau bisa memasak, Paman?"
"Tentu saja. Bisa berkurang daftar kesempurnaanku jika hal seperti itu saja tidak bisa." Tanpa banyak membuang waktu, Liam melangkah menuju dapurnya di mana sebagai seorang pria memang bisa dibilang tempat tersebut cukup hidup sebab banyak bahan makanan sehat di sana.
Hal itu memang biasa bagi Liam sebagai keturunan asia campuran. Dia terbiasa mandiri dan hidup di luar, sehingga memaksanya untuk memiliki kemampuan memasak. Dia tidak mungkin terus memesan makanan setiap waktu yang terasa membosankan dan menjadikannya tidak sehat tentunya jika terlalu sering.
"Kalau begitu aku ingin makanan rumahan, Paman." Je melangkah mendekati Liam di dapur yang mulai menyiapkan bahan. "Aku merindukan ibuku. Bisakah kau memberiku masakan ala ibu-ibu?"
"Duduklah di sini sambil makan buah dan jangan ke mana-mana! Aku akan menyiapkan semuanya untukmu, Baby," ujar Liam sambil menyerahkan sepiring buah potong pada Je dan mengecup dahi gadis itu sejenak.
Je hanya bisa tersenyum dan menurut. Entah kapan rasa itu muncul, tetapi dia harus siap berakhir kapan saja di saat jiwanya kembali ke raga yang seharusnya.
"Apa kau sudah terpesona karena melihatku di dapur, Baby?" tanya Liam membuyarkan lamunan Je.
Gadis itu hanya mencebikkan bibirnya sejenak dan mengambil satu potong apel. "Kau tahu aku ini cantik, Paman? Jadi, jangan harap aku mudah termakan rayuanmu yang klasik! Aku terlalu berharga untuk mendapatkan pria biasa yang hanya bermodalkan mulut saja."
Liam tersenyum mendengar jawaban Je. "Lalu, pria seperti apa yang pantas bersanding dengan gadis cantik sepertimu."
"Yang pasti, baik, tinggi, tampan, kaya, dan penyayang seperti Daddy—" Belum sempat Je memanggil nama Nicholas. Dia sudah terdiam karena kerinduan. Sang ayah, pasti sangat khawatir saat ini dan bagaimana pula kondisinya sendiri sekarang di seberang sana. Apakah sudah mati, atau di masukin jiwa lain yang menikmati kesenangan menjadi dirinya.
Entahlah, hanya Tuhan yang tahu semua itu dan Je berharap semuanya segera berakhir agar dia sendiri juga bisa kembali. Je terdiam menatap Liam yang sedang memotong sayur. "Ya aku akan kembali ke kehidupanku sendiri dan meninggalkan Paman yang menyebalkan itu bersama Jenni," batin Je sedikit perih hanya dengan membayangkannya.
To Be Continue...