
Di rumah sakit, Su Man To tampak mulai menggerakkan tangannya secara perlahan, hingga Je yang sebelumnya sibuk dengan benda-benda di depannya seketika berlari mendekatinya. "Daddy, Daddy."
Tanpa membuang waktu, Je menekan tombol interkom dengan perasaan tidak menentu. Padahal Su Man To bukanlah ayah aslinya, tetapi tetap saja rasa haru seketika menghantam dirinya melihat pria itu perlahan membuka matanya.
"Daddy, kau sudah sadar?" tanya Je dengan buliran bening yang berkumpul di pelupuk mata. Dia tidak lagi mampu membendung rasa bahagia melihat mata pria yang sejak kemarin membuatnya khawatir setengah mati. Begitulah yang namanya perempuan, lain di mulut lain di hati. Apa yang keluar dari bibirnya hanya kalimat menyakitkan, tetapi dalam hatinya rapuh dan berharap Su Man To selamat.
Su Man To hanya terdiam, pria itu menatap Je yang sekarang dengan tatapan sendu. Putrinya benar-benar sudah berubah seperti laporan yang diterimanya selama ini. Entah berapa lama keduanya tidak berjumpa setelah dia mengusir buah hatinya itu dan hanya mendengar kabar dari orang lain. Namun, dalam hatinya sungguh sangat merindukan Jenni.
Hingga sesaat kemudian, pintu ruangan terbuka dan masuklah tim medis untuk memeriksa kondisi Su Man To saat ini. "Tuan, apa yang Anda rasakan sekarang?" tanya sang dokter pada Su Man To.
"Entahlah. Tapi aku merasa sangat lemah." Suara lesu dan tidak bertenaga terdengar begitu jelas dari mulut pria paruh baya tersebut.
Dokter pun, memintanya untuk menggerakkan seluruh anggota tubuh dengan perlahan. Namun, sayangnya sepertinya Su Man To tidak bisa mengontrol bagian kakinya, hingga membuat Je seketika terkejut.
"Dokter, apa yang terjadi dengan Daddy?" tanya Je sedikit keras.
Su Man To hanya tersenyum melihat kekhawatiran sang putri dan mendengarnya memanggil Daddy setelah sekian lama, sementara dokter terus mencoba menekan kakinya. Namun, sayang dia tidak merasakan apa pun saat ini.
"Sepertinya kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kecelakaan yang dialami Tuan Su Man To cukup parah. Bisa jadi hal itu berpengaruh pada bagian tulang belakangnya yang menyebabkan Tuan mati rasa pada bagian kaki," jelas dokter mencoba menjelaskan sehalus mungkin.
"Maksud, Anda Daddy lumpuh?" tanya Je dengan sorot tajam memaksakan kepastian atas apa yang baru saja dia dengar.
Sejenak dokter menghela napas panjang. "Bisa jadi seperti itu, Nona. Tapi tenang saja, kita belum tahu bagaimana kondisi pasti Tuan Su Man To. Bisa jadi semua itu hanya bersifat sementara akibat trauma dan cara menangani selanjutnya tergantung bagaimana hasilnya nanti. Lagi pula pengobatan saat ini sudah cukup canggih. Jadi, Anda tidak perlu terlalu khawatir, Nona," lanjutnya di akhiri dengan senyuman.
Je hanya bisa bernapas sedikit lega. Benar apa yang dikatakan dokter. Pengobatan saat ini sudah canggih, lagi pula mereka bukanlah orang yang kekurangan uang jika akhirnya harus mengeluarkan biaya besar. "Lakukan yang terbaik untuk, Daddy!" ujar Je pada dokter, tetapi sorotnya menatap Su Man To yang tampak tenang sejak tadi.
Su Man To menggenggam tangan Je setelah pemeriksaan selesai. Baru kali ini keduanya bisa bersama setelah sekian lama layaknya sebuah keluarga. "Daddy akan baik-baik saja, Jenni. Mungkin ini semua karma karena Daddy sudah terlalu banyak menyakitimu. Daddy minta maaf."
"Jangan banyak bicara dan cepatlah sembuh! Bagaimana kelak kau akan menemaniku ke altar kalau sampai dirimu lumpuh?" ujar Je ketus.
Meskipun cara bicara Je sangatlah menyakitkan. Semua itu dia lakukan hanya untuk menutupi rasa khawatir yang hinggap dalam dirinya. Beruntung Su Man To melihat hal itu di sinar matanya.
"Putriku sepertinya sudah dewasa. Maafkan Daddy," ucap Su Man To tulus. Kecelakaan membuatnya sadar jika jarak hidup dan mati hanya sebatas helaan napas. Mungkin kali ini dia masih selamat, tetapi entah bagaimana ke depannya.
"Apa sekarang kau sudah lelah berpura-pura jahat padaku?" tanya Je pedas pada Ayahnya dengan sorot tajam seperti biasa.
Su Man To hanya bisa mengangguk. Sudah cukup baginya membuang waktu dengan menyakiti sang putri. Meskipun berkedok melindungi, nyatanya semua itu hanya menyiksa keduanya. "Maafkan, Daddy?"
"Bodoh!" Je langsung memeluk tubuh yang masih berbaring di atas ranjang tersebut dengan segera. Dia tidak peduli meski mereka bukanlah keluarga asli. Nyatanya Je hanya ingin melakukan apa yang ingin dilakukan Jenni. "Jangan lagi berjuang sendirian! Mari kita kita selesaikan ini semua bersama-sama. Aku bukan lagi anak kecil yang harus kau lindungi dengan sandiwara payahmu itu."
"Baiklah. Kita hadapi mereka sama-sama."
"Lagi pula mereka hanya segerombolan cacing tanah bagiku. Jangan terlalu menganggapnya tinggi!" Je melepas rengkuhan dan mengusap buliran hangat yang jatuh tanpa sengaja di pipi, sedangkan Su Man To hanya bisa tersenyum melihat perubahan dalam diri putrinya.
"Putriku benar-benar sudah dewasa. Sepertinya Daddy terlalu banyak melewatkan perkembanganmu."
To Be Continue...