Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 33: Carilah Wanita Matang


Hari itu, Je yang kelelahan menjaga Su Man To melewati masa kritis, setelah pulang ke rumah memilih untuk tidur seharian. Beruntungnya Liam dan Richard tak lagi mengganggu waktu istirahatnya, hingga dia bisa terlelap cukup lama tanpa harus mengkhawatirkan apapun.


Akan tetapi ketika beberapa saat kemudian setelah dia terlelap dalam mimpi tiba-tiba saja sayu suara Jenni terdengar lirih di indra pendengarannya. 'Je, cepatlah kembali aku mohon!' 


Bisik-bisik gaib dalam mimpi membuat gadis itu berulang kali menggerakkan kepalanya. 'Je, cepatlah!' Suara itu semakin jelas terdengar seiring isakan tangis dan semburat wajah Jenni di mimpinya membuat Je seketika terbagun. 


“Ayah.” Entah mengapa panggilan itu langsung lolos begitu saja dari bibir Je setelah dia tersadar dari mimpinya. Dia pun segera bangkit dari tidur dan meraih sebuah jaket dan dengan buru-buru melangkah keluar rumah. Firasatnya berkata buruk kali ini, sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk dengan Suu Man To.


Namun, betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu tampak Liam yang duduk bersandar di lantai langsung terjengkang menghalangi jalannya. “Paman, apa yang kau lakukan di sini?” Tanpa membuang waktu, Je langsung menyikirkan tubuh pria tersebut lalu mengunci pintu.         


  


“Menunggumu, apalagi yang bisa aku lakukan?” jawab Liam tanpa rasa bersalah dan langsung mengikuti langkah Je yang tampak tergesa-gesa. “Ke mana kau ingin pergi?” 


“Rumah sakit.”


“Biar aku antar!” ujar Liam berjalan mendahului Je dan membukakan pintu mobil bagian samping kemudi.  


Je sejenak berpikir atas tawaran Liam, tetapi sepertinya tak ada solusi lain kecuali itu. Meskipun dia belum terlalu mengenalnya, tetapi apa salahnya menyetujui tawaran pria itu. Lagipula sepertinya Liam tak berniat buruk. “Baiklah, sebaiknya kau cepat mengemudinya arena aku sedang buru-buru.” Je pun segera masuk ke mobil tersebut, sedangkan Liam memutar langkahnya dan segera menjalankan kendaraan menuju rumah sakit. 


Semburat raut bahagia terlihat jelas di wajah Liam, berbeda dengan Je yang tampak biasa saja. Keduanya saling terdiam untuk beberapa saat, hingga sedetik kemudian barulah Je mulai mengeluarkan suara dari mulut kecilnya. “Paman, kenapa kau selalu mengikutiku? Jangan bilang kau ingin menjualku ke rumah bordil?”


“Lalu? Tak mungkin ‘kan kau mau bilang jatuh cinta pada gadis kecil sepertiku?” ucap Je dengan nada bercanda dan tak tahu malu. 


“Benar.” Pengakuan singkat dari Liam sontak mendapatkan pukulan keras dari Je yang membuatnya meringis seketika dan hampir saja kehilangan kendali mobil. “Hei! Gadis kecil! Apa kau ingin mati sebelum aku menikahimu, hah?” 


Kalimat Liam sontak membuat Je membelalakkan mata karenanya. ”Apa kau pedofil?” tuduhnya sambil menyilangkan kedua tangan tepat di dadanya.


“Haruskah?” Liam menggoda tampang panik Je dengan mengedipkan sebelah matanya. Meskipun tampak mempesona, tetapi nyatanya tak membuat Je terkesima. 


"Bodoh! Paling kau hanya ingin bermain-main dengan gadis kecil sepertiku," ucap Je dengan percaya diri sambil mencebikkan bibir. Pria seperti Liam pasti hanya suka bermain-main dengan wanita. Sama halnya dengan kakak keduanya di belahan dunia lain yang suka bergonta-ganti pasangan. "Aku bahkan tidak mengenalmu, seharusnya kau mencarilah wanita matang yang jago bermain ranjang! Bukan menghabiskan waktu menunggu di depan rumah gadis kecil seperti pengemis saja." 


Liam hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Je. "Liam, William Scorpion," ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan ke arah Je. 


Namun, gadis tersebut tak menyahut dan langsung membuka seat belt di tubuhnya karena mereka sudah tiba di rumah sakit. "Aku tak perlu mengenalmu, Paman!" Tanpa menunggu jawaban Liam, Je segera berlari menuju ruangan Su Man To karena perasaannya sudah tak karuan sejak tadi. Hingga setibanya di sana, tampak seorang perawat baru saja keluar membawa Su Man To dengan kursi roda. 


"Hei!" teriak Je cukup keras hingga membuat perawat itu terkejut seketika. "Apa yang kau lakukan, hah?" 


To Be Continue...