
Di suatu ruangan, seorang pria tengah berdiri di depan dinding kaca sebuah gedung pencakar langit. Dia memandang jauh bangunan-bangunan yang lebih rendah di hadapannya dengan secangkir kopi di tangan. Kemebul asap panas menyebarkan aroma espresso yang menggugah selera. Perlahan pria tersebut menyesap bibir cangkir keramik dengan puas, sesaat kemudian dia duduk di sebuah kursi kebesaran berwarna hitam bukan miliknya di ruangan tersebut dengan senyum puas di wajah, sambil sesekali memutar kursi layaknya anak kecil yang mendapat mainan.
Dia menghela napas puas panjang sejenak. “Seharusnya ini sudah jadi milikku sejak dulu,” ucapnya pada diri sendiri lengkap dengan senyum yang tak pudar sejak tadi.
Hingga sedetik kemudian, dering ponsel di sakunya membuyarkan lamunan pria tersebut. Dia mengangkat panggilan dengan bangga karena merasa mereka pasti akan memberikan kabar baik kali ini. “Ya."
“Apa kau gila, hah?” teriak suara bariton seorang pria di ujung panggilan terdengar cukup memekakkan telinga.
“Apanya yang gila?” tanya pria tersebut dengan santai.
“Empat anak buahku mati sia-sia hanya dalam hitungan jam dan beberapa yang selamat kini terluka parah. Iblis macam apa yang kau kirimkan padaku? Apa kau sengaja berniat mengambil alih semuanya sendiri?” Meskipun hanya terdengar suaranya saja, tetapi tampak jelas jika pria di seberang sana tengah murka akan sesuatu dan dia tak tahu apa yang membuatnya seperti itu.
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura tidak tahu! Putri Su Man To yang kau bilang hanya sampah nyatanya adalah iblis kecil yang bahkan lebih kejam dari ayahnya!”
Kemurkaan pria di seberang sontak membuatnya berdiri dari kursi dengan rasa terkejut yang luar biasa. “Maksudmu, Jenni mampu membunuh anak buahmu?”
"Iya, dia bahkan bisa tak meninggalkan jejak pembunuhan sama sekali layaknya sebuah kecelakaan!" Untuk beberapa waktu keduanya saling diam dengan deru napas memburu. "Dan dia bahkan bekerja sama dengan William Scorpion."
"Apa?" Belum terjawab sudah pernyataan sebelumnya, pria tersebut kembali dikejutkan dengan kenyataan kedua. Tangan pria tersebut terkepal kuat seiring sorot tajam di matanya yang memicing. William Scorpion adalah target keduanya setelah Su Man To. Akan tetapi bagaimana bisa putrinya sudah mengenal pria itu terlebih dahulu. "Nanti aku kabari lagi! Usahakan untuk mendapatkan benda itu sebelum pihak lain mengetahuinya!"
Tanpa menunggu jawaban pria di seberang, dia langsung memutuskan sambungan telepon sambil meninju meja di depannya sangat kuat. "Su Man To, apa ini semua rencana cadanganmu? Menyembunyikan iblis kecil di balik bayangan," ucapnya dengan geram hingga kedua bola mata tampak memerah dengan urat yang hampir saja keluar.
_____________
Di sisi lain, Je yang mendapatkan benda tersebut langsung menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan. Karena dia tidak bisa membuka kotak tersebut dengan apapun, terpaksa Je meminta Sam Sul dan yang lainnya membawakan gergaji besi.
"Je, apa dirimu jelmaan Musa? Kenapa kau bahkan sanggup membelah kotak besi ini menjadi dua?" tanya Sam sambil bertepuk tangan kecil mengagumi aksi Je.
"Apa kau bodoh? Aku hanya membelah besi bukan membelah lautan! Jangan samakan aku dengan utusan Tuhan! Atau aku sumpahin nanti kau dibelah dua sama pacarmu itu!" Ketus Je dengan nada seperti biasanya.
Namun, keketusan Je sudah seperti hal biasa bagi mereka. Bahkan tak memasukkan setiap kalimat pedasnya ke dalam hati. "Mau dong dibelah," kata Han dengan nada menggoda.
"Kalian menjijikkan! Cepat pesan makanan! Aku lapar." Tanpa melihat kembali ketika temannya, Je tampak fokus mengambil satu persatu isi kertas dalam dokumen tersebut.
"Apa ini?" Sam hendak meraih sebuah kertas, sayangnya tangan Je dengan cepat menampiknya.
"Jangan pegang! Atau aku sunat barangmu nanti!" Ancam Je dengan tegas.
Semua ini merupakan barang bukti yang cukup penting, Je tidak ingin selembar kertas pun terselip apalagi menghilang sebelum dia mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Hingga tak lama kemudian, sebuah pesan di ponsel Je dari Lary yang mengatakan jika Ju Min Ten datang menjenguk ayahnya, membuat gadis itu mendengus kesal seketika. "Sialan! Kenapa tak ada habisnya masalah hari ini?"
Je buru-buru memasukkan semua dokumen ke dalam tas punggungnya dan beranjak. "Antarkan aku ke rumah sakit!"
"Apa terjadi sesuatu dengan Ayahmu?" tanya Lu.
"Sepertinya ada wanita yang sudah tak sabar menjadi janda. Cepat kemasi barang-barang kalian!"
Mereka pun segera membereskan kembali kekacauan itu dan bergerak menuju rumah sakit tempat di mana Su Man To dirawat.
TO be Continue...