
Malam itu di suatu ruangan VIP seorang pria tengah asyik memainkan kartu di tangannya, dengan beberapa orang lain duduk melingkar di sebuah meja bundar. Mereka yang merupakan relasi bisnis pria tersebut.
Tak lama kemudian, seorang wanita berpakaian seksi lengkap dengan parfum aroma vanilla di tubuhnya, membuat siapapun merasa terbang ketika bersamanya. Dia melangkah mendatangi sang pria dan bergelayut manja melingkarkan tangannya di leher pria tersebut dengan menggoda.
Dia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. "Tuan, rencana pertama kita berjalan lancar." Wanita tersebut berbisik dengan manja seolah perempuan penggoda.
Sebuah senyum miring terukir tipis di bibir pria itu, dia meraih gelas minuman di sampingnya dan menyesap perlahan lalu berbicara lirih. "Jalankan rencana kedua!"
"Baik, Tuan." Wanita itu pun mengecup pipi pria tersebut dengan santai seolah mereka memanglah pasangan pria brengsek dan wanita penggoda. Namun, keduanya jelas tahu, itu hanyalah kedok untuk menutupi identitas keduanya.
Sang wanita pun bergegas pergi keluar dari ruangan dan melangkah menuju lantai club, sambil mengedarkan pandangan mencari target keduanya yang akan menjadi sasaran selanjutnya atas rencana mereka. Sebuah senyum miring tersungging di wajahnya di saat melihat sosok incaran sudah ada dalam tangkapan matanya.
"Berikan aku segelas sampanye!" ujar wanita tersebut pada salah satu pelayan di sana.
Dia terus mengawasi pria tersebut dari atas, tanpa beralih walau sedikitpun. "Apa yang dia cari?" gumamnya memerhatikan pria itu yang melangkah ke sana kemari.
Sesaat kemudian, seorang pelayan mengantarkan minuman yang dia pesan dan wanita itu pun meminumnya tanpa membuang waktu. Dia mengamati sambil menyesap minuman di tangan dan setelah habis barulah wanita tersebut bergegas melangkah mendekati sang target dan terhuyung seolah-olah tengah mabuk. "Aw, maaf sepertinya aku terlalu mabun," ujarnya sembari menatap sayu ke arah pria yang duduk tersebut.
"Awh," rintih wanita itu lagi ketika Liam langsung menepis tangannya.
"Singkirkan perempuan ini dariku!" ucap Liam pada asistennya tanpa melihat ke arah wanita tersebut. Padahal jika dia menatap sedikit saja ke bawah, akan terlihat jelas dua gundukan kenyal tanpa segitiga renda milik wanita itu.
Tak ingin taktiknya terbaca, wanita tersebut pun tetap bergerak terhuyung ke dengan tubuh tak seimbang. "Maaf, Tuan." Dia sedikit membungkuk seakan meminta maaf, sayangnya Liam bahkan tak melirik sedikipun.
Dalam hati wanita mengumpat kesal terhadap tingkah Liam yang ternyata sulit untuk didekati. Namun, seakan tak habis cara dia pun hendak melangkah dan heels yang dikenakan langsung membuatnya terkilir, sehingga tubuhnya seketika terhuyung jatuh di pangkuan Liam.
"Bukankah sudah kubilang untuk menjauh dariku, hah?" Liam membentak dan langsung berdiri dari posisinya dengan sorot tajam dan tangan yang terkepal kuat.
Sementara itu, sang wanita kembali harus terjerembab karena Liam tanpa basa-basi mendorong tubuhnya ke lantai dengan kasar. 'Sialan,' batinnya kesal.
Tanpa membuang waktu, Liam yang tampak murka memilih melangkah pergi keluar dari tempat tersebut, meninggalkan asisten dan sang wanita yang berusaha menggodanya. Lagipula apa yang dia cari jelas tidak ada di sana. "Sialan! Siapa dia berani mengotori tubuhku dengan tangannya?"
Sepanjang langkah Liam terus menggerutu tak karuan. Dia layaknya manusia yang baru saja terkena air liur anjing—najis. Pria itu bahkan tak segan untuk membuang jas yang dikenakan ke tong sampah karena bersentuhan dengan wanita asing itu.
Seperti itulah Liam, dia enggan untuk di dekati wanita manapun selama ini, kecuali Je. Sepanjang hidupnya tampak muak dengan wanita murahan berkedok ketidaksengajaan. Bukan karena trauma pada wanita masa lalu. Hanya saja dia memang enggan mengotori tubuhnya dengan tangan-tangan wanita seperti itu.
Dia pun memilih pergi melajukan mobil kembali menuju apartemen. Sudah cukup hatinya terasa kesal hari ini karena tidak bertemu dengan sang pujaan hati, tetapi malah ditambah kekesalan lainnya. "Di mana kamu gadis kecilku?" gumam Liam sambil mengemudikan mobilnya. Padahal belum ada dua puluh empat jam mereka bertemu.
To Be Continue ...