
Malam harinya, Jessica benar-benar datang kembali ke kasino milik William. Kedua saling berpandangan untuk sebuah pertempuran di meja judi. Suasana menegangkan berkerumun memenuhi tempat tersebut. Banyak pengunjung yang berdiri di sekitar demi menyaksikan adegan paling bersejarah antara ratu dan raja judi.
Keberuntungan dan kelihaian memainkan trik dipertaruhkan saat ini. Entah siapa yang akan kehilangan gelarnya, tetapi di kalahkan oleh lawan yang kuat, tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri.
"Katakan apa yang ingin kau pertaruhkan?" tanya Jessica tanpa basa-basi.
"Apa maumu?" jawab Liam datar.
Jessica mengerucutkan bibir untuk sejenak. Dia telah memiliki segalanya, bukan hal yang menyenangkan jika hanya meminta harta dan sebagainya. Lebih baik bertindak langsung pada tujuannya kali ini. Sebelah bibir gadis tersebut terangkat, mengeluarkan seringai iblis yang membuat para pengunjung berdebar karenanya. "Kau harus menikahiku jika gagal mengalahkan aku!"
Semua orang yang mendengarnya hampir saja pingsan atas permintaan Jessica, tak terkecuali Kare. Bagaimana tidak, sosok wanita di depan mereka saat ini memiliki identitas yang tidak biasa juga keluarga berpengaruh besar di negara ini. Bisa-bisa tuannya akan terjebak dengan permainannya sendiri dan tidak lagi menjelajah dunia jika harus menikah.
Namun, hal itu sangat berbeda dengan pemikiran Liam. Dalam hatinya tersenyum, dia kembali mengagumi sosok wanita yang selalu saja membuat otaknya berhenti untuk berpikir. Sebuah perasaan yang sama kembali dia rasakan setelah bertahun-tahun mencari pelabuhan. Tidak berubah, Je selalu to the point dengan apa yang diinginkan.
"Deal."
"King." Kare berusaha mengingatkan tuannya, tetapi pria itu melah memberi isyarat agar tidak ikut campur dalam hal ini.
"Mulai." Liam yang merasa di ambang kemenangan pun dengan riang meminta pekerja untuk memulai permainan. Namun, dengan segera Je menghentikannya.
Tanpa menjawab Liam memilih memberikan isyarat agar permainan di mulai. "Bukan sesuatu yang merugikanmu," ucapnya lirih.
Permainan pun dimulai. Kartu dibagi menjadi dua sesuai dengan porsinya. Namun, sepertinya kali ini keberuntungan tidak berpihak pada Jessica karena dua kali permainan, gadis tersebut selalu saja kalah. "Sial! Jika keberuntungan tidak berpihak padaku malam ini, bisa-bisa aku gagal mendapatkannya," batin Jessica mulai risau.
Kedua kaki wanita tersebut bergetar sejak tadi karena rasa gugup yang melanda. Dia bahkan sudah mengelabui Liam dengan mengatakan jika kemenangan mutlak haruslah mengalahkannya sebanyak tiga kali. Namun, lagi-lagi Liam menyeringai dan membuka kelima kartu miliknya yang bernilai lebih tinggi darinya.
"Kau kalah. Aku akan mengunjungi kediamanmu besok." Tanpa menunggu reaksi Jessica, Liam langsung beranjak posisinya dengan senyum penuh kemenangan.
Sementara itu, Jessica yang merasa kata-kata Liam terlalu ambigu baginya pun berteriak. "Hei! Kenapa kau harus mendatangi rumahku! Apa yang kau inginkan, hah?"
"Dia pasti menginginkan kasino Light, Nona," ujar salah satu penonton memprovokasi Jessica.
Mendengar hal itu, tentu saja dia membelalakkan mata. "Mampus aku! Bisa-bisa Mommy memecatku sebagai anak kalau sampai dia meminta kasino sebagai taruhan."
Ibarat jatuh tertimpa tangga. Sudah gagal memaksa Liam menikahinya, kini malah harus dibuat tidur dengan rasa penasaran yang membuncah malam ini. Kekesalan tampak jelas di wajah Je yang langsung menyambar jaket kulit miliknya. Dia memilih pulang dan mencari perlindungan Nicholas serta kakak-kakaknya sebelum nanti sang ibu murka.
To Be Continue...