
Jessica Light, hidup di bawah didikan sang ibu bertahun-tahun membuatnya memiliki sikap yang kurang lebih sama. Mereka bukanlah sosok yang dengan mudah melepaskan mangsanya begitu saja. Apalagi hukuman penjara terlalu ringan bagi pendosa yang berani mengusik keluarganya.
Dunianya terlatih keras sejak kecil. Meskipun dia sendiri tak tega melihat semut mati terinjak, tetapi beda halnya dengan manusia yang jelas-jelas bisa memikirkan mana yang salah mana yang benar. Namun, mereka lebih memilih jalur salah hanya demi menggapai ambisi yang tak pasti.
Keputusan peradilan kini berbalik setelah melalui proses yang panjang. Hanya saja hukuman apa yang akan dijatuhkan pada para kriminal belum ditentukan. Bahkan Su Man To kini sudah resmi dibebaskan dari tuduhan.
Je melangkah dengan yakin menyusuri lapas tempat penahanan. Dia berencana untuk mengunjungi Ahn Jae terlebih dahulu sebelum sidang terakhir diputuskan. Gadis tersebut duduk dengan puas sambil menunggu di sebuah ruangan. Hingga tak lama kemudian seorang pria dengan tangan yang diborgol dan salah satu kaki diseret melangkah ke arahnya dengan penampilan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Pria itu tampak menyembunyikan rasa sakit yang membuat Je menyeringai yakin jika rencananya sudah berjalan lancar.
“Lama tidak bertemu, Tuan Ahn Jay,” sapa Je lengkap dengan sebuah senyum mengejek.
“Apa maumu?” tanya Ahn tanpa basa-basi langsung duduk di depan Je dengan segera karena tubuh sebenernya sudah tak karuan terasa, tetapi harus dia tutupi di depan gadis itu. Dia tidak ingin terlihat lemah hanya karena sebuah luka yang tak kunjung sembuh.
“Menurutmu apa yang bisa kulakukan di saat kau sendiri sudah berada di posisi seperti ini?” jawab Je santai.
“Jangan mengira dengan di penjara aku akan kalah begitu saja gadis kecil. Kau hanyalah anak kemarin sore yang tidak tahu dunia bisnis,” sindir Ahn Jay seolah dipenjara bukanlah hal yang menyulitkannya dalam bergerak. "Bahkan dari sini pun aku masih bisa mengontrol segalanya."
Je meletakkan kedua sikunya ke atas meja dan menautkan kedua telapak tangan hingga membentuk sebuah kepalan. “Aku datang bukan untuk mendengar anganmu yang panjang itu, Paman. Tapi untuk menyapa sebelum ajal benar-benar menjemputmu,” ujar Je dengan yakinnya hingga pria di depannya cukup tercengang akan aura intimidasi yang dikeluarkan gadis itu.
“Kau—"
“Waktu berkunjung sudah habis,” ucap seorang sipir yang menunggu.
“Ah, sayang sekali kita belum banyak bertukar cerita. Lain kali aku akan mengunjungimu lagi, Paman.” Je berdiri dari posisinya dan mendekat pada Ahn Jay yang kini berdiri dikawal sang sipir. “Tapi sayang aku hanya akan bercerita pada abu yang tak lagi bisa mendengarku.”
“Kau! Hei, gadis sialan!” Ahn Jay marah dan meronta-ronta, tetapi dengan sigap sipir menahannya dan memaksa agar Ahn Jay kembali ke dalam sel. Meskipun pria itu murka dan terus melawan, tetapi Je tak henti-hentinya mengejek di kejauhan.
Benar saja, sehari setelah kedatangan Je, Ahn Jay dikabarkan memiliki kondisi yang memburuk. Luka tembaknya semakin membusuk dan tak kunjung sembuh karena memang sebelum ditangkap Je sudah membayar beberapa narapidana di sana untuk membantunya memperburuk kondisi luka.
Hingga akhirnya pria tersebut tewas karena proses hukum yang lama dan gangrene yang dialaminya atau kondisi serius yang bisa mengarah ke amputasi. Di mana matinya jaringan tubuh akibat tidak mendapat pasokan darah yang cukup, terjadi mulai dari kaki hingga menjalar pada otot serta organ dalam tubuh, hingga berakhir dengan kematian karena tidak segera mendapatkan penanganan.
Tak hanya Ahn Jay, tetapi Mon Nyong dan Mar Jan yang juga mengalami nasib sama sebab dicampur dengan narapidana berbahaya yang selalu menyiksa. Sementara itu, keduanya terlalu congkak hingga membuat mereka murka dan berakhir dengan keributan fatal yang menyebabkan keduanya terluka parah.
__________________
"Apa kau puas?" tanya seorang pria mendekati kekasihnya yang baru saja mematikan siaran televisi setelah berita tersebut ditayangkan.
"Entahlah. Aku hanya merasa semua ini belum selesai," ujar Je gusar.
"Sudah. Jangan terlalu banyak berpikir! Ayo kita cari makan di luar. Kau belum makan sejak pagi, Baby," ajak Liam langsung memaksa Je beranjak dari posisinya.
Dengan malas Je mengikuti langkah Liam. Keduanya bergerak menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari kediaman Liam. Selama bersama Je, Liam memang tidak pernah lagi tinggal di apartemen dan memilih membawa Je ke kediamannya yang lain.
Setelah keduanya tiba di sebuah restoran dan hendak turun tiba-tiba saja ponsel Je berdering. "Daddy menghubungiku. Kau duluan saja, Paman. Pesankan aku carbonara. Aku mau mengangkat ini sebentar," ucap Je lantas menggeser bulatan hijau di layar ponselnya dan lebih dulu melangkah menjauh, sedangkan Liam menuruti permintaan Je dan masuk ke restoran.
Namun, belum banyak kata yang Je ucapkan pada ayahnya. Sebuah mobil box pengiriman tiba-tiba saja melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya yang sedang memunggungi jalan.
"Je, awas!" Teriak Liam dari dalam, tetapi sayangnya dia terlambat karena mobil tersebut langsung menabrak Je bahkan sampai menembus kaca pembatas restoran.
TO be Continue..