Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 46: Pergi Sekarang


Ketukan di pintu menghentikan obrolan ayah dan anak di ruangan tersebut. Seorang pria masuk tanpa basa-basi setelah tidak lagi ada penjaga di luar. Karena Je sudah di sana, tentu saja Lary bisa kembali dan akan menjaga lagi jika Je memerintahkannya nanti. 


"Selamat sore, Tuan. Sepertinya Anda sudah sehat?" sapa seorang pria muda membuat Su Man To mengernyitkan dahi karena baru kali ini melihat pria selain Richard di sebelah putrinya.


"Mau apa kau kemari, Paman?" sentak Je pada Liam yang menghampiri mereka dengan sekeranjang buah di tangannya tanpa basa-basi. 


"Apa lagi yang bisa aku lakukan selain mengunjungi calon mertua," jawab Liam sambil menyeringai kecil pada Je yang seketika mencebik. Dia lantas mengubah ekspresi dan kembali tersenyum menatap Su Man To. "Perkenalkan nama saya William Scorpion, Tuan Su Man To. Anda bisa memanggil saya Liam. Ini saya bawakan buah dan semoga Anda lekas sembuh." 


"Terima kasih, Tuan Liam. Maaf tidak bisa menyambut Anda dengan baik." 


"Ah, jangan terlalu formal, Tuan. Anda bisa memanggil saya Liam saja. Atau menantu Liam juga boleh. Tidak perlu embel-embel, Tuan." 


"Baiklah, Nak Liam." Su Man To tidak mungkin bangkit meskipun hanya untuk sekedar duduk sendiri karena kondisinya saat ini. Namun, dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa putrinya mengenal seorang pria yang tampak berwibawa, tetapi juga mengerikan secara bersamaan. Walaupun tertutup oleh pakaiannya yang panjang, sayangnya tato kalajengking di leher Liam terlihat begitu jelas di mata tua Su Man To. Mungkin jika pakaian yang dikenakan lebih terbuka, akan lebih banyak lagi gambar lain di tubuh pria muda tersebut. 


"Daddyku tidak menerima anak angkat. Lagi pula kau lebih pantas jadi adiknya di bandingkan menantu. Jadi jangan bermimpi terlalu lama dan cepatlah bangun lalu pulang, Paman." Je menekankan panggilannya pada Liam sambil merebut buah tangan yang dibawanya. Namun, kalimat pedas Je tidak pernah menyakiti Liam dan malah menjadikannya daya tarik tersendiri bagi pria itu.


"Lihatlah, Paman! Putrimu itu sangat galak," ujar Liam berusaha bercanda dengan mengadu pada Su Man To demi mendekati keluarga Je. 


Mereka lantas kembali bercengkrama seperti layaknya orang yang baru mengenal. Cukup sulit bagi Liam untuk mendekati Su Man To karena dia tidak pernah bisa menjadi penjilat sebelumnya. Beruntung keduanya tidak berada di situasi canggung sebab Su Man To sendiri masih menyesuaikan diri meluapkan perhatiannya pada Je. 


Hingga malam harinya tiba, Liam seperti tidak berniat kembali hingga membuat Je sedikit kesal. "Paman, apa kau tidak mau pulang?" 


"Tidak," jawab Liam singkat sambil fokus mengupas apel.


"Kenapa?" 


"Kalau aku pulang. Siapa yang akan membantumu merawat Daddy? Aku akan menginap di sini." Liam memanggil Su Man To Daddy tanpa beban dan persetujuan sambil menaikkan salah satu alisnya.


Liam meletakkan pisau sejenak, lalu berdiri menarik lengan Je untuk berbicara agak jauh dari Su Man To. "Kalau aku pulang siapa yang akan membantumu merawat ayahmu, Girl?" 


"Aku bisa melakukannya sendiri."


"Termasuk buang air?" 


Je diam untuk sejenak, dia pun bingung jika harus membantu ayahnya ke kamar mandi, apalagi Su Man To tidak bisa bergerak. Untuk buang air kecil mungkin masih ada selang yang terpasang, tapi bagaimana dengan buang air besar. "Aku bisa memanggil perawat, Paman. Jangan banyak alasan! Lebih baik kau pulang saja sana!" 


"Tidak. Aku tetap akan menemanimu menjaga ayah mertua malam ini," kekeh Liam sambil bersedekap. 


"Baiklah. Terserah kau saja. Tapi, berikan kunci mobilmu padaku!" pinta Je sambil menengadahkan tangannya.


"Kau mau pergi?"


"Karena kau sudah bersedia menunggu ayahku malam ini. Aku akan tidur di rumah dengan nyenyak kalau bagitu," ucap Je beralasan.


Mau tak mau, Liam menyerahkan kuncinya pada Je. Meskipun dia tidak yakin Je akan pulang dengan sifatnya, tetapi setidaknya dia bisa mengawasi dari jauh. "Hati-hati."


Tanpa menjawab, Je langsung mendekat ke arah Su Man To dan menyelimuti kaki pria tersebut dengan lembut. "Aku pulang dulu, Daddy. Beristirahatlah dan jangan sungkan untuk merepotkannya! Besok aku akan kembali lagi."


Su Man To yang masih belum tidur hanya bisa mengangguk. "Hati-hati, Nak."


Je mengecup dahi Ayah untuk pertama kali dan tanpa berpamitan dengan Liam dia menyambar tasnya di kursi begitu saja lalu bergerak keluar ruangan. Dia tidak sendirian sejak tadi, tetapi jiwa Jenni sudah bergerak di sampingnya setelah mendapatkan informasi. "Kita pergi ke tempat itu sekarang!" batin Je pada Jenni tanpa membuang waktu.


To Be Continue