
Apa yang Je temukan membuat seseorang bergerak cepat. Dia bahkan langsung mengirimkan anak buahnya untuk mencari mobil yang ditumpangi Je setelah mendapatkan kabar dari mata-matanya. Entah apa isi dalam kotak tersebut, tetapi tampaknya orang itu cukup khawatir jika sampai hal ini diketahui orang lain.
Di sisi lain, Je yang berada di dalam mobil dengan Liam tanpa membuang waktu mencoba membuka brankas yang terkunci sesegera mungkin. Dia hanya ingin tahu apa yang sesungguhnya disembunyikan oleh Su Man To hingga pria tersebut harus mengalami nasib naas seperti itu.
Berulang kali dia mencoba memasukkan kata sandi, tetapi hasilnya kosong. Je sama sekali tak bisa membukanya. "Sialan! Kenapa kotak ini susah sekali dibukanya," gerutu Jessica sambil terus mencobanya.
Namun, sesaat kemudian Liam tiba-tiba saja menginjak rem sehingga membuat Je yang tak siap akan hal itu seketika perutnya terbentur kotak besi tersebut. “Apa kau gila, hah?” teriaknya sambil meringis kesakitan memegangi perut.
“Maaf, maaf. Tapi sepertinya mereka sudah bergerak cepat untuk mencarimu,” ujar Liam sambil menatap mobil hitam yang menghadang jalan di depannya. Sesaat kemudian, keluarlah banyak pria berpakaian serba hitam dari sana.
"Apa kau mengenal mereka?" tanya Je menatap pria-pria yang mulai mendekat itu.
"Mereka tampak seperti pembunuh bayaran dan anggota para mafia di sini," ujar Liam. Dia pun hendak memundurkan kendaraannya, tetapi ternyata dari arah belakang pun sama halnya. "Sialan! Kau tunggu di sini!" Tanpa membuang waktu, Liam memilih melepaskan seal belt dan bergerak keluar seorang diri untuk melawan mereka.
"Apa dia mau mengantarkan nyawa melawan orang sebanyak itu?" ujar Je pada diri sendiri melihat banyaknya orang yang mulai menyerang Liam. "Sialan! Sepertinya aku harus bertindak sebelum tambang emasku hilang."
Je lantas menyembunyikan brankas tersebut di bagian belakang bawah kursi. Dia pun mencari-cari adakah benda tajam atau senjata api yang disembunyikan Liam di mobil. Sayangnya tidak ada apapun di sana kecuali, sebuah tongkat bisbol yang tampaknya digunakan Liam untuk berolahraga.
Tanpa membuang waktu, Je pun ikut melangkah keluar dengan menyeret tongkat bisbol tersebut dan memukulkannya pada bagian mobil lawan. Hingga kendaraan itu ringsek serta pandangan mereka pun teralihkan padanya.
Sebuah seringai iblis tercetak jelas di wajah Je. "Kau belum tahu julukanku adalah iblis kecil? Jangan lupa menunduk hormat pada keturunan Raja Yama," ucap Je dengan nada bercanda khasnya ketika hendak berbuat ulah dan langsung menaiki bagian atas mobil tersebut serta memukul dengan membabi buta.
Hal tersebut sontak membuat sebagian lawan membelalakan mata karena mobil mereka hancur atas tindakan Je. Satu per satu mulai berlari ke arahnya, tetapi dengan tega Je memukul mereka tepat di kepala layaknya itu adalah bola bisbol bermain sungguhan. Para lawan pun mulai waspada melihat ayunan tongkat Je yang selalu tepat dan sangat kuat. Bahkan orang yang terkena langsung tergeletak tak berdaya. Beruntung kepalanya tak langsung pecah dan hanya bersimbah darah, lalu tidak sadarkan diri.
"Nona, sebaiknya Anda serahkan benda itu dan kami tidak akan melukai kalian," ucap seorang pria dengan was-was sambil menjaga jarak dari Je.
"Bermimpilah di alam baka!" Je langsung turun dari posisinya dengan bersalto ria dari atas mobil, hingga membuat mereka terkesima untuk sesaat melihat gadis itu dengan mudahnya bergerak di atas kepala mereka. Akan tetapi, ketika pandangannya mulai terfokus kembali, dengan cepat Je mengayunkan tongkat bisbol di tangannya dan korban pun kembali berjatuhan.
"Cih, jangan remehkan gadis kecil sepertiku, Paman!" ujar Je sambil menendang salah satu pria yang sudah tergeletak tak berdaya di aspal dan mengusap ibu jarinya di hidung dengan pandangan melihat Liam yang masih sibuk berkelahi.
Melihat Je yang tampak tangguh saat berkelahi membuat Liam semakin kagum dan tak lagi khawatir akan terjadi sesuatu pada gadis itu. Dia malah mengkhawatirkan mereka yang salah mencari lawan. Hingga salah seorang pria tampak hendak membuka mobilnya untuk mengambil benda yang tadinya ditemukan Je.
Namun, dengan cepat Je melemparkan tongkat bisbol itu tepat mengenai kepala pria tersebut. "Berani menyentuh barangku, jangan salahkan aku mengambil nyawamu, Paman!"
To Be Continue...