My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Tidak Akan Lama


"Hi honey, how are you?" (Hai sayang, bagaimana kabarmu?) Tanya Hanna melalu panggilan Video dengan Lucy.


"Okay Mommy, I missed you." (Baik Mommy, aku merindukanmu."


"Mommy too, Mommy misses you so much." (Mommy juga, Mommy sangat merindukanmu.) Ujar Hanna.


"Apa itu Lucy?" Tanya Rey yang baru keluar dari kamar mandi.


"Emp..!" Hanna mengangguk.


Rey langsung ikut bergabung dengan Hanna. "Lucy..Don't you miss Daddy?" (Lucy.. Apa kau tidak merindukan Daddy.)


Melihat Rey, gadis kecil itu langsung terkekeh, lalu menjadi malu malu dan besembunyi di belakang Shasya.


Mendengar kata 'Daddy' Shasya terbelalak. "Daddy?" Tanyanya dengan ekspresi menahan tawa.


"Emp! Dia memaksa Lucy untuk memanggilnya Daddy." Imbuh Hanna sambil mengerling ke arah Rey.


Sedangkan Lucy, terus saja terkekeh malu malu di belakang Shasya.


"What is it? Why are you hiding?" (Ada apa? Kenapa kau bersembunyi?) Shasya ikut tertawa melihat tingkah malu malu Lucy. Ia mengintip dari pundaknya Shasya.


"Uncle, you were there too??" (Paman, kau juga berada disana?) Tanya Lucy yang tampak tersipu.


"Yes, do you want to come with Daddy here?" (Ya, apa kau mau ikut dengan paman kesini?) Tawar Rey.


Hanna langsung menoleh. "Apa yang kau lakukan? Bagaiman kalau Lucy benar benar minta ikut kesini."


"Kenapa memangnya."


"Well, I will. Can Daddy pick me up?" (Yah, aku mau. Bisa paman menjemputku?)


Benarkan..! Akhirnya Lucy benar benar minta dijemput.


Hanna langsung menjemput jidat.


"Try asking Mama, did she allow it?" (Coba tanya mama, apa dia mengizinkannya?)


Lucy berdagu di bahu Shasya. "Mama, will you let me come with uncle?" (Mama, apa kau mengizinkanku ikut dengan paman?)


"Hemmm ..." Imbuh Shasya sambil berfikir. Lalu mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponsel. "Apa kau benar benar akan menjemputnya?" Shasya memastikan pada Rey.


"Tapi.."


"Tenang saja, bukankah ada Hanna disini." Ujar Rey kembali.


"Baiklah kalau begitu." Shasya menganguk, lalu kembali menoleh ke arah Lucy. "All right, Mama allowed it." (Baiklah, Mama mengizinkannya.)


Lucy langsung tampak kegirangan, hingga jingkrak jingkrak.


"Kau benar benar akan menjemputnya?" Tanya Hanna setelah mematikan panggilan itu. Pasalnya, mereka sedang berada di negara yang berbeda sekarang.


"Tentu saja? Kau pikir aku bercanda?" Rey kembali bangkit dari samping Hanna. Lalu memilih baju yang akan di kenakannya.


"Ya, bukankah kau sangat suka bergurau!" Celetuk Hanna, masih dengan tatapan tertuju ke arah Rey.


"Itu hanya denganmu!" Sahut Rey santai. Setelahnya, mengenakan pakaiannya.


*


Keduanya pun langsung bersiap untuk menjemput Lucy. Menggunakan jet pribadi milik Om Surya, merekapun terbang untuk menjemput Lucy yang sudah menunggu disana. Tak perlu waktu lama, hanya dalam waktu 18 jam Lucy kini sudah berada di apartemen Rey.


Ia tampak begitu bahagia bertemu dengan Hanna dan juga Rey. Ia, tak henti hentinya berceloteh sepanjang penerbangan.


Pun begitu dengan Hanna, ia juga tampak bahagia. Dan sangat menikmati momen itu.


Seketika, Rey langsung di abaikannya.


*


"Kau akan pergi makan malam dengan keluarga Lara?" Tanya Hanna pada Rey yang sudah bersiap.


"Mama memaksa.." Imbuhnya.


"Lucy, Daddy will be out in a moment. What do you want to buy?" (Lucy, Daddy akan keluar sebentar. Kau ingin dibelikan apa?)


"Ice cream.." Jawab Lucy semangat.


"Okay.." Rey mengecup pipi Lucy, lalu bergegas dari sana. "Aku tidak akan lama." Imbuhnya pada Hanna.


Next >>>