
Grrttt ....
Hanna, dengan cepat langsung meraih ponselnya, lalu menerima panggilan itu. Agar getaran ponselnya tidak sampai membangunkan Lucy.
"Hallo.." Ucap Hanna dengan suara yang sangat pelan.
"Apa kau memang selalu terlambat ke kantor?" Tanya seseorang yang suaranya sangat di hafal oleh Hanna.
"Kau.. Bagaimana bisa kau tahu nomor kontak ku?" Hanna bangkit dari tidurnya, lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Ch! Apa itu penting?" Decak Rey.
"Mommy..." Panggil Lucy yang terbangun dari tidurnya.
"Sayang kau sudah bangun." Imbuh Hanna, lalu langsung mematikan panggilan dari Rey.
Jangan tanya seberapa kagetnya Rey mendengar itu. "Mommy?" Gumamnya sambil mengernyitkan keningnya. "Apa dia membohongiku?" Tebak Rey.
*
"Pagi Tante.." Sapa Hanna, saat menghampiri Tante Enny diteras rumah yang sedang memantau tukang kebun untuk menanam tanaman yang baru di belinya dari luar negri.
"Hei, sayang.." Balas Tante Enny yang langsung menoleh ke arah Hanna. "Lucy memintamu untuk tidur bersamanya lagi semalam?" Tante Enny memsatikan.
Hanna hanya terkekeh sambil mengangguk.
"Dasar gadis kecil itu, dia akan langsung mengabaikan Mamanya kalau ada kau disini." Imbuh Tante Enny sambil terkekeh lalu menepuk pelan lengan Hanna. "Kau akan ke kantor sekarang?" Lanjut Tante Enny.
"Emp, iya Tante. Yaudah kalau gitu aku duluan ya, Tan."
"Hati hati, sering sering main ke sini. Lucy selalu nanyain kamu."
"Baik Tante." Hanna mengecup pipi Tante Enny, Setelahnya beranjak dari sana menuju ke mobilnya.
Sebelum berangkat ke kantor, Hanna terlebih dulu pulang ke apartemen untuk ganti pakaian dan bersiap. Setelah selesai, baru ia menuju ke perusahaan.
"Bu, ada tamu di ruangan Anda." Ucap Resepsionis saat melihat Hanna melewati meja mereka.
"Emp.." Hanna mengangguk. Kali ini, ia sudah bisa langsung menebak, siapa tamu yang dimaksud.
Saat masuk kedalam ruangannya. Ia langsung di hadang, oleh Rey yang sudah menunggu dirinya sedari tadi dengan gelisah.
"Apa yang aku dengar tadi!" Imbuh Rey, langsung ke intinya. Rey langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Hanna yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
"Memangnya apa yang kau dengar?" Hanna tampak menanggapinya dengan santai. Ia mendorong pelan tubuh Rey agar menyamping karna ia ingin lewat menuju ke meja kerjanya.
Hanna justru terkekeh. "Lantas?" Tanyanya nyeleneh.
"Dia anakku?"
"Bukan!"
"Aku tidak percaya!"
Hanna menghela nafas lalu memutar bola matanya malas. "Rey, aku tidak mungkin bercanda dengan hal seserius itu." Pungkasnya.
Rey menyeringai. "Jadi kau memilih untuk tetap bermain main seperti ini?"
"Siapa yang ingin bermain main denganmu?"
"Baiklah, jika sampai kau ketahuan berbohong padaku. Kau akan terima akibatnya."
Hanna hanya terdiam, tak ada jawaban. Ia hanya membalas tatapan tajam Rey dengan senyuman dan anggukkan.
Rey berdengus kesal. "Mulai besok, kau harus mulai bekerja di Zillow group!" Setelah mengucapkan kalimat itu, ia beranjak dari hadapan Hanna.
"Bukankah katamu minggu depan!" Protes Hanna, pada Rey yang sudah menghilang di balik pintu ruangan itu.
*
Entah mengapa, sangat sulit bagi Rey untuk mempercayai perkataan Hanna tentang Anak mereka yang sudah meninggal.
Rey masuk kedalam mobilnya dengan kesal. Bahkan sampai memukul setir mobil saking geramnya.
Grrttt ....
Rey merogoh ponselnya dari saku celananya dengan kesal.
Lalu langsung mematikan panggilan itu saat melihat siapa yang memanggilnya.
Myesa!
Gadis itu masih saja belum menyerah.
Sedangkan disana, Myesa langsung di buat kesal dengan penolakan panggilan itu.
"Rey...! Berani sekali kau menolak panggilan dariku." Murka Myesa.
Next>>>