
Myesa dengan kesal langsung menarik paksa kopernya dan berjalan keluar dari bandara.
Sepertinya ia masih belum tahu, kalau Rey sedang tidak berada di ibukota sekarang.
Myesa langsung menuju ke Zillow Group. Setelah hampir setengah tahun tidak berjumpa dengan Rey, ia ingin langsung menemui pria itu setelah kembali dari luar negri.
Sekaligus, ia ingin protes karna Rey mematikan panggilan telpon dari nya begitu saja tadi.
*
"Apa katamu?" Myesa meminta resepsionis Zillow Group untuk mengulang sekali lagi, apa yang baru saja ia katakan.
"Pak Rey sedang di London sekarang, dan akan menetap di sana untuk sementara waktu." Resepsionis itu mengulang kembali kalimatnya.
Myesa hanya bisa menganga.
"Berikan aku alamatnya." Pungkas Myesa akhirnya.
"Maaf Nona, untuk itu-"
"Myesa..." Imbuh Raffael yang tampa sengaja melihat sedikit kegaduhan yang ditimbulkan Myesa.
"Raf.. Kebetulan sekali. Bisa kau beritahu aku alamat Rey di London." Ucap Myesa bergebu-gebu.
Raffael langsung terkekeh. "Apa kau akan menyusulnya?" Raffael memastikan sambil melirik ke arah koper yang berada disamping Myesa.
"Emp...!" Jawab Myesa sekenanya.
"Baiklah, nanti akan aku kirimkan padamu." Imbuh Raffael.
"Thanks, Raf. Kau memang yang terbaik." Ekspresi Myesa langsung berubah, ia tampak langsung sumbringah. Lalu meninggalkan tempat itu sambil kembali menarik kopernya.
"Dia ...?" Tanya gadis yang sedari tadi sudah berada disamping Raffael.
"Mantan kekasih Rey." Imbuh Raffael, sambil mengetik alamat Rey yang di London, lalu mengirimkannya pada Myesa.
Setelah mengirim pesan pada Myesa. Raffael juga mengirimkan pesan pada Rey. "Bersiaplah, Myesa akan segera menyusul mu!"
*
Hanna, tampak sedang menikmati makan siangnya seorang diri di kantin perusahaan. Ya, ia memilih untuk menutup diri dari orang orang yang ingin berteman dengannya diperusahaan. Sepertinya, apa yang dilakukan Lora, membuat dia sedikit trauma. Terkadang, orang yang sudah kau anggap sahabatpun masih belum bisa di percaya dan mempercayaimu seratus persen.
Hanna, begitu menikmati kesendiriannya.
Ditengah tengah suapannya, pandangannya menangkap sesuatu yang sedikit janggal. Bram! tampak seperti sedang bertengkar dengan seorang gadis. Salah satu karyawan di perusahaan. Hanna, terus saja memperhatikan gerak gerik keduanya yang tampak semakin mencurigakan.
Hingga akhirnya, ia memilih untuk mengikuti mereka, ketika mereka tampak akan beranjak dari sana.
*
"Bukankah dari pertama kau sudah setuju dan tahu kondisiku." Ucap Bram, seakan sedang memohon pada gadis itu.
"Iya, tapi lama lama aku juga lelah jika begini terus. Sampai kapan kita harus terus menyembunyikan hubungan kita?" Protes gadis itu. Dan langsung membuat Hanna yang sedang diam diam menguping pembicaraan mereka, menganga lebar.
Jadi selama ini...!
"Beri aku waktu sebentar lagi, bersabarlah sebentar lagi, oke!" Pinta Bram sambil menggenggam lembut tangan gadis itu.
*
Apa yang dilihatnya, benar benar membuat Hanna terganggu. Didalam ruang kerjanya, ia menjadi melamun dan bimbang memikirkan antara apa ia harus memberitahu Shasya atau tidak tentang perselingkuhan Bram.
Seketika, Hanna menjadi sangat geram pada Bram. Bisa bisanya ia berselingkuh di belakang Shasya. Yang sudah memberikannya segalanya, kehidupan yang layak dan jabatan yang tinggi.
Lalu, apa yang akan terjadi pada Lucy. Jika sampai hubungan rumah tangga Shasya dan Bram bermasalah nantinya.
Hanna, benar benar di pusingkan oleh masalah rumah tangga orang lain. Pasalnya, ia sudah mengangap keluarga itu seperti keluarganya sendiri, yang sudah sangat banyak membantunya. Terlebih Shasya!
Next >>>