My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Mengiris Hati


Saat berjalan di parkiran perusahaan, keduanya. Rey dan Hanna! Tampa sengaja berpas pasan dengan Raffael.


"Raf.." Panggil Rey, dan membuat Raffael langsung menoleh ke belakang. Ia tersenyum, tapi agak canggung. Ketika juga mendapati Hanna disana.


"Bagaimana pendapatmu tentang rencana yang aku katakan tempo hari." Tanya Rey, sambil berjalan menyeimbangi langkah Raffael. Pun begitu dengan Hanna, yang hanya terdiam dan terus mengikuti langkah keduanya.


"Aku sih setuju setuju saja. Apa kau sudah tanyakan pada Om Surya?" Raffael, balik bertanya.


"Belum, aku ingin dengar pendapatmu terlebih dulu. Kalau kau setuju, baru aku beritahu Papa." Imbuh Rey. Lalu melangkah masuk kedalam lift. Sedangkan Hanna, langsung mengambil posisi paling belakang.


"Baiklah kalau begitu, kau pastikan saja dulu dengan Om Surya. Nanti beritahu aku lagi apa jawabannya." Ucap Raffael. "Aku duluan." Lanjutnya, ketika pintu lift terbuka di lantai 12.


"Oke!" Rey mengangguk.


Pintu lift kembali tertutup, setelahnya Rey baru teringat dengan Hanna. Rey hampir saja lupa, bahwa Hanna juga berada didalam lift itu bersama mereka. Rey menoleh ke belakang, sedangkan Hanna berdiri di pojok lift sambil memainkan ponselnya.


"Mengapa berdiri sangat jauh." Sambil menarik Hanna ke sampingnya.


Ting ...


Pintu lift kembali terbuka.


Keduanya melangkah, Hanna langsung menuju ke balik meja kerjanya. Sedangkan Rey, berjalan masuk kedalam ruangannya.


"Myesa..." Imbuh Rey, ketika membuka pintu ruangannya, dan melihat Myesa sudah berada disana.


Spontan Hanna langsung menoleh dengan cepat ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Rey.


"Kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu sedari tadi." Rengek Myesa, lalu berdiri menyambut kedatangan Rey.


Rey terkekeh. "Untuk apa kau datang sangat cepat? Kau kan tahu aku memang selalu datang jam segini." Imbuh Rey, setelah itu duduk di sofa. Pun dengan Myesa yang melangkah lalu duduk disamping Rey.


"Untuk apa kau datang kesini?" Tanya Rey, memastikan.


"Ada berkas yang harus kau tandatangani." Imbuh Myesa, sambil meraih dokumen yang sudah diletakkan di atas meja.


"Berkas?" Rey tampak bingung.


"Emp! Ada beberapa yang lupa kau tandatangani saat di paris. Anthony memintaku untuk menyuruhmu menandatanganinya." Myesa menyerahkan dokumen itu pada Rey.


"Bukankah semua berkas sudah di tandatangani saat di paris? Lagi pula untuk apa dia memintamu? Mengapa tidak suruh sekretarisnya saja?" Rey membuka dokumen itu lalu mulai membacanya.


"Sudah tandatangani saja, cepat. Setelah ini aku ingin mengajakmu kesuatu tempat." Myesa langsung menyerahkan bolpen ke tangan Rey, membuka halaman dokumen itu dan meminta Rey untuk segera tanda tangan di atas berkas itu.


Setelahnya, dengan cepat ia langsung kembali meraih dokumen itu dan memasukkannya kedalam tas slempangnya. "Ayo.." Imbuhnya, sambil berdiri.


"Kemana? Aku harus bekerja sekarang!" Ucap Rey, dan masih duduk ditempat semula tanpa bergeming.


"Sebentar saja!" Paksa Myesa, sambil meraih dan menarik tangan Rey.


Akhirnya, Rey menurut saja. Keduanya keluar dari ruangan itu bersama.


"Hanna.. Aku akan keluar sebentar, jika ada dokumen yang harus aku tandatangani langsung letakkan saja di meja kerjaku." Imbuh Rey, sambil terus berjalan melewati meja kerja Hanna.


Tak ada jawaban, Hanna hanya melihat ke arah Rey dan Myesa yang berjalan beriringan, lalu masuk kedalam lift.


Jantung Hanna langsung berdegup kencang. Pemandangan itu sedikit mengiris hatinya.


Next >>>