My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Pilihan Yang Sulit


Rey terduduk lemas di kursi samping ranjang Myesa. Menatap sayu ke arah Myesa yang terbaring disana dalam keadaan tertidur karena masih dipengaruhi obat bius.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Rey sambil menyeka kasar wajahnya, lalu menunduk. Pikirannya benar-benar buntu, ia hanya ingin mengakhiri hubungannya dengan Myesa, dan memulai kehidupan baru dengan Hanna dan Anaknya kelak. Tapi sekarang, apa mungkin itu masih bisa ia lakukan, ketika Myesa bahkan tidak segan-segan untuk menyakiti dirinya seperti yang ia lakukan sekarang ini. Rey, jelas saja tidak ingin menjadi penyebab dari hal buruk yang mingkin saja akan dilakukan Myesa jika Rey bersikeras untuk tetap mengakhiri hubungan itu.


Tetapi disisi yang berbeda, Hanna dan Anaknya juga membutuhkan Rey. Dan Rey juga tidak ingin menjadi orang yang tidak bertanggung jawab setelah menghamili seorang gadis.


Otak Rey seakan ingin pecah rasanya. Memikirkan hal apa yang harus ia pilih, Myesa kah? Atau Hanna?


*


Kini Hanna seakan sudah memiliki Alarm dalam tubuhnya sendiri. Yaitu rasa mualnya! Rasa mual itu selalu memaksa Hanna untuk bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk muntah setiap paginya.


"Huftt .. Sangat melelahkan." Keluh Hanna, setelah memaksa memutahkan isi perutnya yang masih kosong. "Ini benar-benar tidak adil, mengapa hanya wanita yang harus merasakan ini semua. Mengapa laki laki tidak merasakan juga mual dan muntah-muntah!" Protes Hanna entah pada siapa.


Setelahnya, ia langsung mandi dan memilih untuk bersiap.


Hanna menjalani hari harinya tanpa Rey, perlahan mulai terbiasa dengan suasana dan orang orang yang berada dirumah itu. Sudah satu bulan lebih, Rey berada di Paris. Itu sudah melebihi waktu estimasi pengerjaan project tersebut. Bagaimana tidak, Project yang dijadwalkan akan rampung dalam waktu satu bulan itu memiliki begitu banyak kendala.


Hanna ikut sarapan bersama orang tua Rey, setelahnya berangkat ke kantor. Aktivitas yang sudah menjadi rutinitasnya dengan begitu teratur.


Banyak hal yang berubah dalam hidup Hanna semenjak hidup bersama orang tua Rey.


"Good morning my sweet heart." Ucap Raffael, sambil menyodorkan coffe latte kesukaan Hanna.


Hanna, yang sedang santai di balik meja kerjanya langsung menunjukkan senyuman terbaiknya. "Thank you." Sambil meneriman coffe latte pemberian Raffael.


Hanna menyeruput coffe lattenya. "Ada apa?" Tanyanya kemudian, pada Raffael yang tampak memperhatikannya sangat detail.


"Sepertinya kau agak gendutan!" Ucap Raffael, lalu terkekeh.


Hanna langsung memegang pipinya dengan sebelah tangannya.


"Emp!" Raffael mengangguk. "Tapi aku tetap suka kok." Lanjutnya, sambil meneguk coffe yang berada ditangannya.


"Kau ini!" Hanna terkekeh. Ya, Hanna selalu menganggap kalimat kalimat seperti itu hanya candaan dari seorang Raffael yang memang selalu tampak bercanda.


"Kau sibuk akhir minggu ini?" Tanya Raffael kemudian.


"Akhir minggu?" Imbuh Hanna sambil berfikir. "Sepertinya tidak. Kenapa?" Hanna balas bertanya.


"Ikut aku kesuatu tempat."


"Kemana?" Sambil mengernyitkan keningnya.


"Mmm jauh pokoknya, harus terbang."


Hanna semakin mengernyitkan keningnya.


Melihat kebingungan Hanna, Raffael justru semakin terkekeh. Ia sangat suka melihat ekspresi Hanna yang rada rada ngambek itu.


Saat Hanna bersikeras bertanya kemana tujuan ia akan mengajak Hanna minggu depan, dan semakin Raffael bersikeras untuk merahasiakannya.


"Cepat beritahu aku, Raf." Desak Hanna.


"Nanti kau juga akan tahu sendiri jika sudah sampai disana." Imbuh Raffael sambil bangkit dari duduknya. "Aku akan kembali bekerja, selamat bekerja Nona." Diiringi dengan kedipan matanya. Raffael berlalu pergi, ia tetap tidak memberitahukan kemana tujuan ia akan membawa Hanna minggu depan.


Yang jelas, ia sudah merencanakan sesuatu disana.


Next >>>