
"Bagaimana, apa kau akan pulang minggu depan?" Tanya Raffael pada Rey, melalu panggilan telpon.
"Belum bisa aku pastikan, nanti aku kabari lagi." Imbuh Rey.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus pulang." Raffael menekankan.
Rey terkekeh.
"Baiklah .. baiklah .. Kau tenang saja, aku akan pulang dan akan bawa kejutan yang luar biasa untukmu." Ucap Rey masih diiringi dengan kekehannya.
"Kejutan apa?" Raffael tampak penasaran.
"Jika aku beritahu sekarang, itu namanya bukan kejutan lagi." Sarkas Rey. sedikit ngegas.
"Baiklah, semoga kejutanmu kali ini tidak mengecekan." Tambah Raffael.
Rey menyeringai. "Akan aku pastikan, kejutanku tidak mengecewakan sama sekali." Ucap Rey penuh percaya diri.
*
Presentasi Rey berjalan dengan lancar. Kini, ia sudah bisa kembali menghela nafas lega. Dan kembali bersantai.
Rasanya ia ingin cepat cepat pulang dari kantor. Menemui mereka yang berada dirumah. Tiba tiba saja, ia merindukan Hanna dan Lucy dan ingin berkumpul dengan mereka.
"Aku akan pulang lebih cepat hari ini, tolong bereskan berkas yang berada di meja kerjaku." Imbuh Rey pada sekertarisnya.
"Baik, Pak." Lengakp dengan anggukannya.
Rey pun berlalu pergi, langsung menuju ke apartemennya.
Dengan semangatnya...
"Lucy.. Daddy's home." Imbuh Rey saat masuk ke dalam apartemen.
Tapi, apartemen itu justru tampak sangat sepi. Rey, memeriksa hingga ke kamar. Tapi, tetap tak menemukan Hanna atau pun Lucy disana.
Dengan cepat ia merogoh ponselnya, lalu menghubungi Hanna.
"Kau dimana?" Tanyanya pangsung ketika Hanna menerima 0anggilan telponnnya.
"Aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen." Jawab Hanna.
"Lucy..?"
"Aku sudah mengantarnya, Shasya dan Tante Enny akan liburan untuk beberapa hari. Sepertinya Shasya membutuhkan itu untuk sedikit menenangkan pikirannya."
"Hallo Rey, kau masih disana?" Ujar Hanna, ketika tak ada lagi suara dari seberang telpon sana.
"Empp iya.." Jawabnya tampak linglung.
Hanna terkekeh. "Yaudah, kalau begitu aku matikan telponnya. Aku sedang mengemudi sekarang."
"Baiklah.." Jawab Rey, yang tiba tiba menjadi tak semangat sama sekali.
"Ada apa dengannya, dasar aneh." Imbuh Hanna, lalu meletakkan ponselnya di jok samping.
*
Rey, merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Memandang langit langit kamarnya. Apartemen itu berubah kembali sunyi dalam seketika. Rasanya hampa sekali!
Rey menghela nafas dalam. Sepertinya ia benar benar sangat merindukan kehangatan dan suasana rumah yang dilengkapi dengan seorang istri dan anak didalamnya.
Rey, bangkit dari rebahannya. Lalu meraih kunci dan jas nya kembali. Setelahnya keluar dari apartemen.
Ting tong...
Hanna, yang baru saja selesai ganti pakaian dan bersiap untuk memasak, berlari kecil ke arah pintu.
"Sebentar." Imbuhnya, ketika si penekan bel tak henti henti nya menekan bel. "Kau!" Panjut Hanna dengan mata terbelalak. Ia heran, kenapa Rey bisa tahu apartemennya. Padahal menurut Hanna, ia tidak pernah memberitahukan alamat apartemennya pada Rey.
Rey langsung masuk tampa dipersilahkan.
"Aku bosan dirumah, rasanya sunyi sekali." Ucap Rey, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Bukankah selama ini memang selalu begitu." Hanna mengikuti Rey dan duduk di sofa.
"Empp..." Jawabnya begitu saja.
Hanna hanya terkekeh, melihat Rey yang sudah memejamkan matanya disana.
"Kau mau kemana?" Tanya Rey ketika mendengar suara langkah Hanna.
"Menyiapkan makan malam." Jawab Hanna yang terus berjalan menuju dapur.
"Biar aku bantu.." Rey langsung bangkit, lalu mengikuti Hanna ke dapur.
Next >>>