My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Pengakuan Raffael


Rapat yang hampir saja ditunda itu, akhirnya selesai juga.


*


"Rey, apa yang kau lakukan?" Pekik Hanna, sedikit kaget. Ketika Rey tiba-tiba menarik tangannya dan menyenderkan tubuhnya ke dinding. Lalu, langsung nyosor mengecup bibirnya.


"Aku merindukanmu!" Bisik Rey. Dan langsung membuat Hanna tersipu. Kini tangannya sudah melingkar dipinggang Hanna.


"Bagaimana kalau ada yang masuk kesini?" Khawatir Hanna, pasalnya mereka masih berada di ruang rapat. Dan orang orang baru saja meninggalkan ruangan itu. Bagaimana kalau kalau ada yang tiba tiba kembali masuk ke dalam ruangan itu dan melihat adegan yang pasti akan mengejutkan mereka.


"Tidak apa apa." Rey tampak santai menanggapi itu. Ia bahkan tambah mengeratkan pelukannya lalu mencium lembut leher jenjang Hanna. Membuat gadis itu menggeliat karena geli.


"Rey hentikan itu." Desah Hanna, sambil mendorong pelan dada Rey.


"Apa sebaiknya kita pulang sekarang?" Tawar Rey dengan ekspresi yang langsung membuat Hanna tersipu dan wajahnya langsung memerah.


"Kau bisa melakukannya nanti malam Pak Rey!" Imbuh Hanna, lalu langsung melepaskan diri dari pelukan Rey. Setelahnya bergegas kembali ke ruangan.


Hanna, tak dapat menyembunyikan raut wajah tersipunya. Membuat Rey terkekeh saat melihat sikap malu malunya itu.


*


Hubungan di antara keduanya terlihat semakin membaik dan sudah memiliki banyak kemajuan. Terlepas dari kesibukkan Rey yang sangat fokus dengan pengobatan Myesa. Hanna mencoba mengerti itu dan mencoba memahami.


"Butuh tumpangan?" Suara itu membuat Hanna yang sedang berjalan di parkiran langsung menoleh.


"Emm.. Sepertinya butuh." Imbuh Hanna, setelahnya memilih masuk kedalam mobil Raffael. Kalaupun ia katakan tidak, Raffael pasti juga akan memaksa untuk mengantarnya pulang.


"Rey masih di kantor?" Raffael memastikan.


"Tidak, dia sudah keluar. Ada meeting dengan klien di luar." Sahut Hanna sambil memasang safety beltnya.


Mobil itupun melaju.


"Kau tidak ikut?" Tanya Raffael lagi.


"Rey akan pulang larut, jadi dia tidak mengizinkan aku untuk ikut meeting itu."


"Hemm..." Raffael mengangguk anggukan kepalanya. Kali ini agak sedikit berbeda, Raffael lebih banyak terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang menggangunya.


"Pulang ke apartemen?" Tanya Raffael kembali.


Setelah Rey kembali dari Paris. Keduanya memang sudah mulai menempati Apartemen itu. Mungkin maka dari itu, hubungan keduanya pun semakin intens.


Raffael menghentikan mobil tepat di depan gedung Apartemen.


"Terimakasih, Raf." Ucap Hanna, lalu membuka safety belnya dan berniat turun dari mobil Raffael.


"Hanna..." Imbuh Raffael akhirnya, menghentikan Hanna yang akan turun dari mobil itu.


"Iya.." Hanna kembali menarik pintu mobil yang sudah sempat ia buka tadinya.


"Ada yang ingin aku katakan." Ucap Raffael, sedikit gugup.


Hanna kembali membenarkan posisi duduknya. Dan menyimak, apa yang akan dikatakan Raffael.


"Aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi sepertinya, aku harus memberitahumu."


"Tentang apa?" Tanya Hanna, sedikit penasaran.


Raffael mengeluarkan kotak cincin yang gagal ia berikan pada Hanna sewaktu di Paris. Membuka kotak itu, lalu meletakkannya di atas dasboard mobil.


"Awalnya Aku berencana melamarmu dengan cincin itu sewaktu di paris." Ucap Raffael sambil terkekeh.


Hanna langsung terbelalak mendengar kalimat itu, ia yang awalnya sedang melihat ke arah cincin itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Raffael dengan cepat. Sedangkan Raffael, hanya menatap kosong ke arah kotak itu.


"Aku langsung menyukaimu saat pertama kali melihatmu." Lanjut Raffael, lalu mulai menatap netra Hanna. "Seharusnya aku mengakui itu lebih cepat, jadi mungkin ceritanya akan berbeda."


Hanna masih saja terdiam. Ia masih terkejut mendapatkan pengakuan yang tak terduga ini.


"Awalnya aku ingin menyerah, tapi setelah tahu hubunganmu dengan Rey sedikit rumit. Akhirnya aku memilih untuk mengakui ini padamu. Aku tidak akan memaksa, semua pilihan ada padamu. Tapi yang perlu kau tahu, aku tidak akan membiarkanmu menjadi seperti sekarang ini, aku tidak akan membiarkanmu pulang seorang diri, dan aku tidak akan pernah memprioritaskan wanita lain selain kau, Hanna." Lirih Raffael.


"Tapi-" Ucap Hanna terputus.


"Kau tidak perlu memberi jawabannya sekarang, kau boleh memikirkannya terlebih dulu. Aku akan tetap menunggu seberapa lamanya itu. Saat ini, aku hanya ingin mengakuinya saja. Agar kau tahu isi hatiku yang sebenarnya."


Hanna, hanya bisa membalas tatapan itu tanpa bisa memberi jawaban yang pasti.


Next >>>