
"Benarkah tidak ada yang terjadi?" Raffael kembali memastikannya pada Rey.
"Ya, tak ada yang terjadi." Rey mengambil langkah kembali ke balik meja kerjanya. "Ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Ini ada beberapa laporan yang menurutku sedikit janggal. Dan aku rasa kau harus melihatnya." Raffael ikut duduk didedepan meja kerja Rey, lalu menyerahkan laporan itu.
Rey menerima laporan itu dan langsung memeriksanya. Dan benar seperti yang di katakan Raffael. Ada yang salah dengan laporan itu.
"Terimakasih, aku akan menanganinya." Imbuh Rey kemudian. Dengan tatapan yang masih tertuju ke arah laporan itu.
Ada seseorang yang memanipulasi anggaran. Dan sepertinya, maksud dari orang itu adalah untuk menjebak Rey. Untung Raffael cepat menemukan kejanggalan dari laporan dengan kejadian di lapangan langsung.
"Tidak! Kau fokus saja dengan project di Eropa nanti. Biar aku yang tangani ini." Ujar Raffael. "Aku hanya ingin kau tahu tentang ini dan lebih hati-hati lagi dengan orang-orang disekitarmu. Ingat, ada beberapa orang yang tidak suka dengan posisimu saat ini." Lanjut Raffael sambil kembali meraih laporan itu dari tangan Rey. Setelahnya, ia kembali meninggalkan ruang kerja Rey.
___Paris\, Perancis___
Hôtel Splendide Royal Paris.
Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh Anthony. Pria yang berusia 40 tahun dengan perawakan tegas itu, tak lain adalah si klien penting yang tempo hari baru saja menandatangani kontrak dengan Zillow Group.
Rey, membalas jabatan tangan Anthony. Dengan senyuman yang sedikit dipaksakannya. Jika bukan karena dia klien penting, mungkin Rey sudah membuat perhitungan dengan Anthony. Atas apa yang sudah dia lakukan pada Hanna.
"Selamat datang Nona Hanna." Imbuh Anthony juga berniat untuk menjabat tangan Hanna.
Rey yang menyadari Hanna tidak nyaman dan seakan gelisah langsung mengalihkan perhatian Anthony. Tentu saja, bayangan tentang malam itu terus terngiang-ngiang dalam ingatan Hanna. Karena yang dia tahu, malam itu ia telah menghabiskan malam dengan Anthony.
"Apa kami bisa langsung ke kamar? Sepertinya wanita-wanita ini butuh istirahat setelah melakukan perjalanan yang jauh." Sarkas Rey.
"Tentu! Saya akan tunjukan kamar kalian." Sahut Anthony, lalu mempersilahkan Rey, Hanna dan juga Myesa menuju kamar mereka yang sudah disiapkan.
*
Hanna, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menghela nafas dalam, lalu memejamkan matanya. Hingga dering ponselnya, mengharuskan ia untuk bangkit dan menerima panggilan telpon itu.
"Hallo, Raf." Imbuh Hanna, seiring menerima panggilan telpon itu.
"Kalian sudah sampai?" Tanya Raffael dari seberang telpon sana.
"Sudah, sekarang aku sedang di kamar hotel." Jawab Hanna, lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Ada apa? Kenapa suaramu agak sedikit berbeda?" Raffael langsung gelisah.
"Mungkin karena kelelahan." Jawab Hanna. Sambil kembali berfikir. Beberapa hari ini tubuhnya memang agak berbeda.
"Jangan sampai sakit, jaga kesehatanmu. Kau bahkan baru sampai dan belum memulai bekerja. Langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu." Raffael mengingatkan. Ya, ia memang selalu seperhatian itu pada Hanna.
"Baik, Pak Rafa. Terimakasih untuk perhatiannya." Ucap Hanna tulus.
"Yausudah, sebaiknya kau istirahat sekarang." Ujar Raffael kemudian.
"Emp, bye." Hanna menuruti.
"Bye..." Panggilan itu diakhiri.
Seperdetik kemudian, Hanna benar-benar terlelap. Entah berapa lama ia tertidur, hingga suara ketukan pintu membangunkannya dari lelapnya.
Hanna bangkit, sedangkan tubuhnya terasa semakin lemas dan kepalanya terasa sangat berat.
"Ada apa?" Tanyanya pada sosok yang mengetuk pintu kamarnya, yang tak lain adalah Rey.
"Sebentar." Hanna kembali berjalan masuk menuju kopernya berada.
"Apa kau sakit?" Tanya Rey akhirnya.
"Hanya butuh istirahat dan minum obat." Jawab Hanna santai. Sambil membongkar isi kopernya dan mencari keberadaan katalog yang dimaksud Rey.
Namun rasa mual tiba-tiba melandanya. Hanna langsung berlari menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya disana.
Rey, dengan panik langsung mengikuti Hanna. "Hanna, apa kau baik-baik saja?" Tanya Rey sambil mengetuk pintu kamar mandi yang sudah ditutup Hanna.
Tak ada jawaban. Cukup lama, Hanna berada didalam sana. Walaupun ia sudah selesai dengan muntahnya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Sedangkan Rey, tak henti-hentinya mengetuk pintu, ia tambah panik ketika Hanna tak bersuara lagi didalam sana.
"Aku baik-baik saja, hanya masuk angin." Imbuh Hanna, saat kembali keluar dari kamar mandi.
"Syukurlah, kau istirahat saja. Kalaupun besok masih merasa kurang sehat, tak usah datang ke lokasi pemotretan. Biar aku yang handle." Ujar Rey memberi pendapat.
"Empp.." Jawab Hanna, lalu menyerahkan katalog yang sudah ditemukannya itu pada Rey.
"Langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu!" Rey memperingati dengan penuh penekanan.
"Emp!" Jawab Hanna singkat.
Rey dengan ragu keluar dari kamar Hanna. Meninggalkan gadis itu seorang diri disana. Setelah menutup pintu, rasa panik langsung melanda Hanna.
"Apa jangan-jangan?" Hanna menerka-nerka kemungkinan yang bisa saja terjadi. "Tidak! Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin bisa? Itu hanya terjadi satu malam!" Pungkas Hanna mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sedangkan ia, terus saja mondar mandir seorang diri didalam kamar yang luas itu.
"Tunggu! Apa aku benar-benar melakukannya dengan pria itu?" Hanna mulai kembali bertanya-tanya. Karena pasalnya ia sama sekali tak mengingat kejadian itu. Hanna mulai ragu-ragu, bagaimana jika salah menebak. Bagaimana jika seandainya bukan Anthony yang sudah merenggut keperawanannya. Ia tak boleh menuduh sembarang tampa bukti bukan? Sedangkan di bar itu, tak hanya ada Anthony. "Apa aku harus memastikannya?"
Hanna, langsung meraih sweaternya, lalu bergegas keluar dari kamarnya. Ia tidak boleh tinggal diam, ada hal yang benar-benar harus dipastikannya.
*
Ia berakhir dengan sebuah testpack di tangannya. Entah mengapa, nalurinya tiba-tiba saja memintanya untuk melakukan hal itu.
Tak perlu waktu lama, hingga dua garis merah itu muncul. Hanna, hanya bisa menganga dengan mata terbelalak.
Air mata mengalir hangat begitu saja dari pelupuk matanya. Hanna semakin gelisah dan panik. Hidupnya benar-benar akan berantakan! Tidak! Hidupnya sudah berantakan sejak semula. Tapi kini, hidupnya akan tambah berantakan. Seakan tak ada habisnya, Hanna kembali harus menelan pil pahit dalam hidup yang seakan terus saja mempermainkannya. Yang membuat Hanna tak habis pikir adalah, bisa-bisanya ia tak mengingat siapa laki-laki yang sudah membuat dirinya sampai hamil.
Tanggung jawab? Tidak! Hanna tak butuh itu. Paling tidak ia hanya perlu tahu, siapa Ayah dari bayinya.
Hanna menangis histeris, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Kariernya akan benar-benar berakhir! Padahal ia sudah berjuang mati-matian untuk menuju ke titik sekarang. Lalu, seperti apa ia harus menghadapi dunia ketika mereka tahu bahwa dirinya hamil tanpa suami.
*
"Sayang! Kenapa kau hanya melamun saja dari tadi." Keluh Myesa, yang merasa sekan diabaikan oleh Rey yang sedari tadi terus mendiaminya.
"Apa kau bisa tinggalkan aku sendiri? Aku ingin istirahat." Ucap Rey kemudian, masih dengan tatapan kosongnya yang tertuju ke arah depan.
"Boleh aku bermalam disini bersamamu?" Sambil merangkul manja lengan Rey.
"Mye, aku mohon!" Tegas Rey.
"Baiklah baiklah. Aku akan keluar sekarang." Dengan raut wajah kesalnya. Myesa bangkit dari duduknya. Padahal ia sudah dengan sengaja memakai pakaian seksi untuk merayu Rey. Namun, Rey sudah mengusirnya bahkan dari pertama dia masuk kedalam kamar itu.
Pikiran Rey benar-benar tertuju pada Hanna untuk saat ini. Setelah kejadian itu, Rey merasakan ada yang berbeda. "Apa aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?"
Next>>>