My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Bagaimana Bisa Kau Rebut Yang Digariskan Tuhan Untuk Ku


Ting Tong ...


Bel yang berbunyi itu membuat Rey dan Tante Lalita saling menatap, lalu sepersekian detik kemudian Rey beranjak dari balik Kitchen Set, membuka cilemeknya, lalu berjalan menuju pintu depan. Sedangkan Mbak Ati, langsung mengambil alih tugas Rey.


Rey sudah menduga, yang datang itu pasti Raffael.


"Kita bicara diruang kerja ku saja." Imbuh Rey, mempersilahkan Raffael masuk.


Keduanya berjalan menuju lantai dua, dimana ruang kerja pribadi Rey berada.


"Bagaimana?" Tanya Rey tanpa ingin berbasa - basi lagi.


"Proses hukum akan segera dilakukan, apabila terbukti dia melakukan perencanaan penyerangan itu, maka hukumannya akan lama." Imbuh Raffael.


Rey mengangguk - anggukan kepalanya pelan, tanda ia paham apa yang harus ia lakukan setelah ini.


"Bagaimana.." Kalimat Raffael menggantung.


"Hanna baik - baik saja." Sela Rey, tampaknya ia sudah tahu apa yang akan di tanyakan Raffael.


"Syukurlah." Raffael menghela lega.


Rey melirik ke arah Raffael, memperhatikan ekspresi wajahnya yang tampak masih khawatir.


"Bagaimana dengan Yayank, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rey akhirnya.


Raffael lagi - lagi menghela nafas, lalu bersandar di sandaran kursi, dengan tatapan menunduk. "Aku, dan Yayank akan rujuk." Sahut Raffael.


"Baguslah, memang tidak seharusnya kalian bercerai." Ucap Rey penuh makna.


*


Tok!Tok!


Setelah kejadian yang menimpa Hanna, tampaknya kembali menyadarkan Mama Lalita, betapa ia begitu menyayangi menantunya itu jauh di dalam lubuk hatinya.


Hanna yang sedari tadi hanya duduk melamun di atas ranjangnya, membenarkan posisi duduknya saat melihat Mama Lalita masuk ke kamarnya. "Rey.."


"Dia sedang bersama Raffael diruang kerjanya." Sahut Mama Lalita sebelum sempat Hanna melanjutkan pertanyaannya.


Mama Lalita meletakkan nampan di atas nakas, lalu duduk di pinggir tempat duduk. Menatap Hanna dengan tatapan yang sulit Hanna artikan.


"Ma.. Ada apa?" Tanya Hanna kemudian. Ketika dari sudut mata mertuanya mengalir air mata.


Mama Lalita memegang lembut pipi kanan Hanna. "Maafkan Mama sayang..." Lirih Mama Lalita, yang membuat Hanna semakin bingung. Untuk apa kata maaf itu!


"Mama tak melakukan kesalahan apapun, mengapa justru minta maaf." Hanna memegangi punggung tangan mertuanya, matanya pun ikut berkaca - kaca. Memang hubungan mereka untuk beberapa saat terakhir ini agak berbeda. Namun bukan berarti Mama Lalita melakukan kesalahan besar, menurut Hanna wajar saja. Bahkan di antara ibu dan anak kandung saja pun terkadang ada kesalah pahaman.


Ceklekkkk ...


Suara pintu yang terbuka membuat Hanna dan Mama Lalita dengan cepat menyeka air mata mereka masing - masing.


Rey berjalan menedekati, setelah menangkap gelagat yang sedikit mencurigakan.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Rey, lalu berjongkok di pinggir tempat tidur, tepat di hadapan Mama Lalita.


"Tidak ada.. Cepat makan buburnya sebelum dingin." Imbuh Mama Lalita pada Hanna. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rey. "Mama akan siapkan makan malam." Lanjut Mama Lalita, setelahnya bangkit dari duduknya.


Rey ikut bangkit, meraih pergelangan Mama Lalita, lalu memeluknya. "Semuanya akan berakhir, Ma. Rey pastikan Mama dan Hanna tidak akan bersedih lagi." Ucap Rey penuh keyakinan. Dengan tatapan lekat menatap Hanna, sebelah tangannya mengusap lembut puncak kepala Hanna. Membuat wanita itu tersenyum penuh arti. Dan berharap Rey mepati kata - katanya kali ini.


"Ya, Mama juga akan melakukan yang terbaik untuk kalian." Imbuh Mama Lalita, lalu melepaskan pelukan itu, mengalihkan pandangannya ke belakang, menatap Hanna.. "Kita akan menjadi keluarga paling bahagia." Ujar Mama Lalita, dengan senyuman merekah di wajahnya.


Next ✔️