
Hanna masuk kedalam apartemen, lalu terduduk termenung ditengah tengah ruangan itu. Kembali memikirkan pengakuan Raffael.
*Flashback*
"Raf, maaf. Sepertinya kita cukup berteman saja. Mungkin menurutmu, hubunganku dengan Rey terlihat konyol. Tapi aku sedang mengandung anaknya sekarang. Walaupun itu terjadi tampa disengaja, tapi anakku butuh orang tua yang utuh. Dan aku akan perjuangkan itu demi anakku." Dengan sangat berat hati, Hanna harus menolak pengakuan Raffael dengan jelas. Ia tidak ingin memberi harapan yang tidak pasti dan menggantungkan hubungan mereka.
"Bukankah sudah aku katakan, kau pikirkan saja dulu. Kau tidak perlu memberiku jawabannya sekarang." Raffael bersikeras.
"Tidak Raf. Aku tidak perlu memikirkannya lebih lama. Sekarang atau nanti, jawabanku tetap sama." Hanna menunduk dalam. Ia merasa sangat tidak enak. Mengingat kebaikan yang sudah diberikan oleh Raffael selama ini. Hanna tidak menyangka, ada maksud lain dari kebaikan Raffael selama ini terhadapnya.
"Tapi Rey dan Myesa-"
"Aku tidak perduli. Itu urusannya dengan Myesa." Sela Hanna cepat.
"Kau mencintainya?" Tanya Raffael akhirnya. Setelah sempat terdiam beberapa saat, dan terus memperhatikan Hanna yang terus saja menunduk tampa berani menatapnya.
Hanna terkekeh. "Aku tidak butuh itu, Raf."
"Tapi kau hanya akan menderita, jika terus saja berada ditengah tengah mereka, Hanna. Sampai kapan? Sampai kapan kau akan terus menjadi bayangan didalam hubungan itu, hanya demi mempertahankan sosok Ayah untuk Anakmu?" Suara Raffael sedikit meninggi. Ia geram, dan merasa Hanna sangat bodoh. Mempertahankan pernikahan yang jelas jelas hanya akan menyakitinya.
"Tolong hargai keputusanku, Raf. Terimakasih sudah mengantarku." Hanna turun dari mobil Raffael. Bergegas masuk kedalam gedung apartemen. Meninggalkan Raffael seorang diri disana, yang masih tak percaya Hanna bisa menolaknya secara tegas seperti itu.
*Flashback off*
Grttt ...
Hanna tersadar dari lamunannya, ketika ponselnya bergetar.
"Kau sudah sampai apartemen?" Tanya Rey, dari seberang telpon sana.
"Emp, sudah." Hanna bangkit dari duduknya, lalu masuk kedalam kamar.
"Jangan tunggu aku, langsung tidur saja. Aku akan pulang sangat larut." Ujar Rey. Dan terdengar sangat bising disana, entah dia sedang berada dimana.
"Emp!" Jawab Hanna lagi. Setelah itu, panggilan itu langsung dimatikan.
Hanna menghela nafas dalam. Sebagai istri Rey, ia bahkan tak berani bertanya dimana Rey sedang berada sekarang, dengan siapa, dan apa yang ia lakukan disana.
*
Hanna tak tahu, jam berapa Rey kembali. Disaat ia terbangun di pagi hari, Rey sudah terbaring disampingnya.
Hanna perlahan bangkit dari tempat tidur. Mandi, lalu menyiapkan sarapan untuk Rey. Setelah hidup berdua dan menjadi ibu rumah tangga, tentu saja ia tidak boleh lagi bangun kesiangan. Dan ia sudah memiliki rutinitas paginya sendiri kini.
"Selamat pagi." Sapa Rey, lengkap dengan sebuah pelukan dari belakang.
"Pagi.." Jawab Hanna, diiringi senyumannya. Tanpa menoleh, ia sedang fokus dengan omlette yang sedang ia masak kini.
Rey berdagu di pundak Hanna, sambil terus mengelus perut Hanna yang mulai agak mengeras.
"Apa dia sudah mulai bergerak?" Tanya Rey kemudian.
"Hemm sepertinya belum. Aku belum merasakan apa apa." Jawab Hanna, sambil memindahkan omelete dari teflon ke piring. Sedangkan Rey, masih saja terus memeluknya walalupun Hanna bergerak kesana kemari.
"Rey, bisakah kau lepaskan pelukanmu? Aku harus membawa ini ke meja makan." Imbuh Hanna, dengan dua piring omelette di tangannya.
Rey terkekeh. Lalu mengecup leher Hanna. "Biar aku saja." Ia mengambil alih, membawakan piring omelette itu ke meja makan.
Hanna mengikuti langkah Rey dan setelah itu ikut duduk di meja makan, setelah menuangkan susu ke dalam gelas Rey.
"Bagaimana dengan pengobatan Myesa?" Tanya Hanna akhirnya, di sela sela sarapan mereka.
"Cukup bagus, banyak perkembangan dan perubahan pada sikapnya sekarang." Jawab Rey, sambil terus melahap sarapannya.
"Baguslah.." Diiringi dengan helaan nafasnya.
"Aku akan bersiap sekarang." Rey bangkit dari duduknya, setelah menghabiskan sarapannya.
"Emp.." Hanna mengangguk, lalu menatap punggung Rey yang berlalu pergi.
"Ya, seperti ini saja sudah cukup!" Batin Hanna.
Next >>>