My Boss, Is My Husband

My Boss, Is My Husband
Tidak Perlu Terkejut


Setelah panggilan telpon dari Mamanya dimatikan, Rey tahu siapa yang harus ia hubungi. Raffael! Ya, dia pasti tahu kemana Hanna.


"Ya .. ya .. ya! Aku sudah kirimkan pesananmu." Ucap Raffael saat mengangkat panggilan telpon Rey. Dengan suara beratnya, ia sedikit kesal karena panggilan telpon itu mengganggu tidurnya yang nyenyak.


"Kau tahu Hanna dimana?" Sarkas Rey.


"Tentu saja dirumahnya! Kau menolponku hanya untuk bertanya itu?" Kesal Raffael, dengan mata yang masih terpejam.


"Kau yakin dia berada dirumahnya?" Rey memastikan.


"Tentu saja! Aku yang mengantarnya pulang tadi."


Rey menghela nafas lega.


"Sudah? Kau hanya ingin bertanya tentang itu saja? Jika sudah aku akan kembali tidur sekarang!" Ujar Raffael, dan bersiap untuk mematikan panggilan itu.


"Selama tidak ada aku, tolong pastikan Hanna aman disana!" Sarkas Rey akhirnya.


"Apa kau ayahnya? Memintaku untuk melakukan itu! Lagi pula tanpa kau minta, aku juga akan melakukannya. Sudah, aku matikan. Aku mau tidur!" Raffael mematikan panggilan telpon itu dan meletakkan ponselnya ke sembarang tempat. Setelahnya ia kembali melanjutkan tidurnya.


Sedangkan Rey, mencoba untuk sekali lagi menghubungi nomor kontak Hanna, tapi panggilan itu tetap saja tidak dapat disambungkan.


Dan sebelum ia melanjutkan rapatnya, ia sempatkan diri untuk memberitahukan Mamanya dimana Hanna saat ini. Agar Tante Lalita tidak khawatir.


*


Untuk pagi ini, Hanna sedikit bermalas-malasan. Lagi pula Rey tak berada di kantor. Jadi menurutnya, tidak masalah jika ia datang terlambat.


Setelah mandi, membereskan tempat tidur dan sarapan. Hanna meraih ponselnya, lalu menghubungkannya ke penambah daya. Karena ponsel itu sudah dibiarkan mati tanpa daya semalaman.


Baru saja dihidupkan, panggilan dari Rey langsung masuk.


Hanna mengernyitkan keningnya.


"Ha-"


"Kenapa tidak pulang kerumah dan kenapa ponselmu kau biarkan mati." Sarkas Rey menyela Hanna.


Sedangkan Hanna, masih dengan mulut menganga. Langsung menghela nafas.


"Apa ada kerjaan penting yang harus aku kerjakan?" Tanya Hanna, tanpa menjawab pertanyaan dari Rey.


"Kau ingin buat aku marah!"


Hanna justru terkekeh. "Ada apa sebenarnya denganmu?" Tanya Hanna bingung.


"Mama khawatir pada mu sepanjang malam. Jika kau tidak pulang, paling tidak beritahu dia!"


Mendengar itu Hanna jadi terdiam dan menunduk. Semalam dia sedang sangat emosional, jadi itu tidak terfikirkan olehnya. Dia tidak teringat jika Tante Lalita mungkin saja menunggu kepulangan Hanna.


"Maaf.." Ucap Hanna menyesal.


"Kau dimana sekarang?"


"Aku masih dirumah."


"Tak usah masuk kerja! Pulang kerumah dan temani Mama saja dirumah." Pinta Rey.


"Tapi.."


"Kau keberatan, jika aku memintamu untuk menemani Mamaku dirumah?"


"Tidak, bukan itu."


"Rey, aku sudah siap. Ayo kita pergi sekarang." Samar-samar terdengar suara Myesa di indera pendengaran Hanna.


"Yasudah kalau begitu. Terserah kau mau melakukan apa hari ini!"


Tut!Tut!Tut!


Panggilan itu di akhiri begitu saja oleh Rey. Hanna hanya bisa melongo menatap layar ponselnya itu.


"Kenapa justru dia yang marah? Seharusnya yang marah itu aku!" Gerutu Hanna kesal. "Kau pikir aku akan menuruti perkataanmu? Ch, tidak akan!" Lanjut Hanna sambil melempar ponselnya ke atas tempat tidur.


Setelahnya ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Dengan kesal dan mulut yang tak hentinya merepet.


"Siapa lagi ini, pagi pagi sudah datang bertamu!" Cerocos Hanna. Dengan kesal, kembali bangkit dari tempat duduknya, dan berlenggang untuk membukakan pintu.


"Kau tidak masuk kantor?" Pertanyaan yang langsung di lontarkan oleh Raffael ketika melihat Hanna yang masih menggunakan Tshirtnya.


"Kau! Ada apa pagi pagi datang kesisini?" Hanna balik bertanya pada Raffel.


"Tentu saja untuk menjemputmu!" Ucap Raffael sambil terkekeh.


"Aku baru saja berniat untuk tidak masuk kerja." Sarkas Hanna.


"Mana mungkin bisa." Raffael, memegang kedua pundak Hanna, lalu meminggirkan tubuh itu kesamping. Karena ia menghalangi jalan masuk. Setelahnya, Raffael berlenggang masuk dan duduk di sofa ruang tamu yang berada tak jauh dari pintu masuk.


"Kenapa? Lagi pula Rey juga tidak ada. Dan aku juga tidak punya pekerjaan penting. Lagi pun Rey sudah memberi izin untukku libur hari ini." Ucap Hanna sambil mengikuti langkah Raffael.


"Kau lupa? Hari ini akan di adakan rapat! Atas penemuan besarmu kemarin." Dengan tatapan seriusnya.


"Benarkah?" Hanna terbelalak.


"Tentu saja! Ayo cepat bersiap. Aku akan menunggumu." Pungkas Raffael sambil mengganti chanel televisi.


"Emp, baiklah. Tunggu sebentar."


Raffael mengangguk, lalu merogoh ponselnya dari saku jas nya karena baru saja ponsel itu berdering.


"Iya, Rey." Jawab Raffael lalu mengecilkan volume televisi.


"Aku dengar akan di adakan rapat di kantor atas pemalsuan data keuangan kemarin?" Tanya Rey langsung.


"Iya. Hanna menemukan dokumen aslinya. Dan kau pasti akan terkejut jika tahu siapa dalang dibalik itu semua." Ucap Raffael sambil menyeringai.


"Apa! Hanna?"


"Yap, kau tidak salah dengar. Hanna! Ternyata selama beberapa hari ini berusaha keras untuk membuktikan kau tidak bersalah."


Mendengar itu, Rey hanya terdiam.


"Halloo.." Imbuh Raffael, karena Rey tak bersuara lagi.


"Jadi kau di kantor sekarang? Apa rapatnya akan segera dimulai?" Tanya Rey penasaran.


"Tidak, aku sedang menunggu Hanna bersiap."


"Apa katamu? Kau sedang dirumah Hanna sekarang?"


"Kenapa kau sangat terkejut seperti itu?" Raffael kembali terkekeh.


"Tidak, siapa yang terkejut? Biasa saja!"


"Baiklah kalau begitu, nanti aku hubungi lagi dan memberimu kabar terbaru tentang rapat itu."


"Baiklah.."


Panggilan itu berakhir.


Dan sekarang, Rey sedang dibuat kesal dengan itu. Ya, dia kesal karena semakin hari Raffael semakin dekat dengan Hanna.


*


Rapat penting itu dimulai. Hanna mengeluarkan dokumen asli itu dan menunjukkannya kepada semua orang yang sedang berada di dalam ruang rapat itu. Terutama Om Surya!


Melihat itu, si yang bersangkutan langsung menunjukkan reaksinya.


Tentu, dia mencoba membela dirinya. Tapi bukti yang dimiliki Hanna terlalu kuat, sehingga dia tak dapat lagi berkutik.


Orang-orang saling berbisik, mereka juga tidak menyangka ternyata dia bisa melakukan hal seperti itu. Masalah itu, tidak selesai dengan hanya dengan dia di pecat. Dia juga harus berurusan dengan hukum atas perbuatannya. Karena nyatanya, bukti itu juga menunjukkan kalau dia telah korupsi beberapa tahun ini.


Sebelumnya tak ada yang tahu, karena ia begitu lihai menyembunyikan kebusukannya.


Ia salah, karena ingin melimpahkan perbuatannya pada Rey. Hingga membuat Hanna memilih untuk menyelidiki masalah itu hingga akhir. Dan semuanya pun terbongkar!


Begitu pun dengan Pak Yudi, yang selama ini menjadi kaki tangannya. Ia berang karena di jadikan kambing hitam. Awalnya ia ingin bungkam saja, dan tidak ingin lagi ikut campur dan berurusan lagi dengan si tua itu. Tapi kedatangan Hanna ke kediamannya, dan melihat perjuangan Hanna. Akhirnya ia memilih membongkar semua rahasia itu.


Next >>>